---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk CATATAN PERJALANAN KE TIMTIM (Bagian 3) Sejak awal 90-an sumber resmi pemerintah Indonesia selalu memberitakan bahwa ratusan anggota GPK telah turun gunung dan menyerah. "Mereka telah sadar bahwa perbuatan mereka salah dan tak ada gunanya, apalagi di hutan tak ada makanan. Mereka menyerah dan menyatakan bersedia dibina," begitu tulis kantor berita pemerintah "Antara" berulang-ulang. Pemberitaan intensif tentang gelombang "pertobatan" kelompok anti-integrasi ini tentu saja mengganggu akal sehat orang yang mengikuti pemberitaan tentang Timor Timur. Yaitu berapa anggora Fretilin yang masih bertahan di gunung, karena pada awal 1992, sesaat setelah Peristiwa Santa Cruz pejabat militer mengatakan bahwa anggota GPK yang masih bertahan tinggal puluhan orang saja. Benar kah kelompok anti-integrasi tinggal puluhan saja? Atau bahkan kalau dihitung antara pemberitaan "Antara" tentang aksi pertobatan anggota GPK dan pernyataan pejabat militer justru menunjukkan bahwa jumlah mereka yang masih bertahan di gunung mencapai angka minus? Saya sendiri tak heran dengan keajaiban angka-angka pemberitaan tentang "aksi pertobatan" versi pejabat militer. Bagi saya hal itu tak lebih dari sebuah perang propaganda dan urat syaraf. Pejabat militer dan kantor berita resmi pemerintah Indonesia, khususnya dalam soal Timor Timur memang tak lain adalah pabrik kebohongan. Fakta tentang masih masifnya perlawanan rakyat di Timor Timur selalu direduksi sebagai "hanya segelintir oknum". Dan sebaliknya, demo mendukung integrasi yang sebetulnya merupakan perekayasaan pemerintah Indonesia (belakangan melibatkan dukungan dari kelompok di wilayah enclave Atambua), selalu diberitakan besar-besar oleh media massa Indonesia. Dalam serangan ke Koramil Alas pada 9 November 1998, pendukung Falintil berhasil merebut 36 pucuk senjata M-16, FNC, granat dan sekitar 40 ribu butir peluru. Serangan ini tentu saja menimbulkan keseimbangan baru bagi kekuatan Falintil melawan ABRI. Berjalan menelusuri pinggiran kota Dili, Same, Baucau, Los Palos hingga Tutuala yang ada di kawasan ujung paling timur Pulau Timor, kita akan menangkap fenomena adanya perlawanan rakyat terhadap kekuasaan pendudukan Timor Timur. Seorang pemuda yang baru tamat SLTA (anggota klandestin) kenalan saya, menawari saya untuk bertemu dengan panglima sektor timur. Namun karena jadwal saya sudah "padat" maka rencana tersebut saya tolak, apalagi saya tahu bahwa semua basis Falintil sedang konsentrasi di front pertempuran Alas. Namun demikian, bukan saya melewatkan kesempatan untuk menemui sejumlah tokoh perlawanan. Saya bertemu dengan sejumlah pemuda anggota Falintil yang keluar-masuk hutan. Saya juga berhasil menemui Lalaura (nama di hutan), adik Panglima Falintil Matan Ruak. Di pinggiran Los Palos saya juga mengunjungi rumah seorang mantan menteri sekretaris negara Fretilin. Saat keluar dari kawasan Los Palos menuju timur, pengantar saya yang baru turun gunung 6 bulan lalu dan tinggal di Los Palos menyapa sejumlah penduduk yang tinggal di perkampungan di Foitoro dan sebuah desa dekat Danau Iralalaro dengan teriakan, "Kamerada! Kamerada!" yang dibalas dengan teriakan yang sama. Padanya saya tanyakan siapa yang ia teriaki sebagai "kawan" tersebut. "Mereka adalah anggota Falintil," ujar sang pemuda dengan senyum mengembang dari wajahnya. Dahi pemuda teman baru saya ini cacat ada bekas luka di kening dekat alis matanya. Ketika saya bertanya soal cacatnya itu, ia menjelaskan bahwa luka tersebut akibat bacokan anggota Gadapaksi di Dili 3 tahun lalu yang hampir saja menewaskan dirinya. Ia juga bercerita bahwa beberapa waktu lalu ia turut menerima kedatangan aktivis Indonesia, Yenny Rosa Damayanti dan Anas yang berkunjung ke markas Komandan Sektor Timur. "Hanya saja mereka tak bisa bertemu dengan panglima kami, sebab mereka hanya membawa sepucuk pengantar dari Ir Sri Bintang Pamungkas," ujarnya. Rupanya nama Bintang belum menjamin kepercayaan jaringan klandestin di Timor Timur. Dari penuturan Lalaura saya mendapatkan gambaran konkret tentang kekuatan riil Falintil yang sesungguhnya. Begitu solidnya kekuatan Falintil sebagai sebuah pasukan komando hingga mereka bisa menempel sedekat mungkin di semua pos militer Indonesia tanpa diketahui pasukan ABRI. "Paling tidak dari jarak sekitar 500 meter ada pasukan kami yang memantaunya," jelas Lalaura. Artinya, kalau mereka mau membunuh pasukan ABRI tinggal memilih saat yang tepat. Apalagi musuh yang dipantaunya tak tahu posisi Falintil yang memang menerapkan taktik gerilya yang paling elementer, yaitu membaur dengan penduduk. Kalau pun tak ada serangan terhadap posisi ABRI, kecuali faktor "kecelakaan" di Alas, adalah dikarenakan memang ada imbauan untuk tak melakukan semua bentuk penyerangan dari pimpinan tertinggi Xanana Gusmao yang ditahan di LP Cipinang, Jakarta. Kebijakan ini, konon dalam rangka menghormati dan menunggu hasil perundingan pemerintah Indonesia (hasil reformasi) dengan pemerintah Portugal yang melibatkan PBB. Versi yang lain mengatakan, krisis membuat pimpinan Falintil memutuskan untuk menghemat amunisi disamping tetap memegang kebijakan "satu peluru untuk satu kepala". Sebelum krisis moneter, sebuah peluru bisa dibeli dengan harga Rp 700 per butir. Tapi kini harganya melonjak luar biasa. Dengan keberhasilan merebut amunisi dari Koramil Alas, pasukan Falintil kini tak kekurangan amunisi dan senjata lagi. Semuanya cukup untuk melawan pasukan ABRI dalam jangka panjang. Dalam soal perlengkapan dan seragam tempur, pasukan induk Falintil dikabarkan baru saja memperoleh seragam tempur (battle dress) loreng buatan Amerika dalam jumlah banyak. Motif loreng ini konon cocok untuk penyamaran dalam hutan tropis seperti yang ada di Timor Timur. Untuk menemui pasukan Falintil sesungguhnya juga tak terlalu susah. Asal kita dipercaya dan ada anggota jaringan Clandestine yang bersedia mengantar semuanya akan lancar. Kita akan disambut dengan pesta bir dan daging kambing. Persyaratannya cuma satu jangan sekali-kali mengunakan mobil sewaan dari hotel. Sebab mobil yang kebanyakan "ngetem" di depan setiap hotel kebanyakan adalah milik aparat keamanan. Banyak juga di antara sopirnya yang merupakan "mauhu". Pengantar kita biasanya akan dengan senang hati menjemput dengan sepeda motor dan di tengah jalan kita akan dioper dengan jenis kendaraan yang sama beberapa kali. Hal ini untuk menghindari pencatatan plat nomer kendaraan oleh aparat keamanan. Setelah itu, tentu saja kita harus rela berjalan kaki cukup jauh. Ketika saya tanyakan pada mantan Mensesneg Fretilin soal daya tahan kelompok perlawanan anti-Indonesia yang begitu tinggi dalam menghadapi represi ABRI dan pemerintah Indoneia, jawaban yang muncul adalah kemampuan untuk memperoleh dukungan dari rakyat Timor Timur. "Rakyat Timor Timur sendiri yang bisa membandingkan mana yang lebih baik, kami atau pasukan ABRI," tokoh yang belakangan lebih banyak melakukan gerakan tutup mulut. Tokoh ini juga bercerita bahwa ia lah yang mengonsep upaya kontak damai yang baru terealisir pada 1984. "Kami juga merawat, menyelamatkan dan kemudian membina seorang mayor Angkatan Laut Indonesia yang tertembak kakinya. Selama 5 tahun ia ikut kami di hutan. Ia melihat bagaimana kami bertempur dan berjuang melawan kesewenang-wenangan bangsanya sampai ia akhirnya bersimpati pada kami," ujarnya. Para gerilyawan di hutan juga didukung oleh sejumlah tim dapur umum yang terdiri atas kaum ibu. Malah ada sejumlah anggota Falintil yang membawa serta istri mereka. Hanya anak-anak yang dititipkan pada keluarga atau pastor yang bisa dipercaya di kota guna memperkecil risiko. Untuk menguatkan strategi dan ilmu militer, pasukan Falintil ternyata juga memiliki perpustakaan keliling. Apa saya yang dibaca? Jangan kaget, semua teknik perang, terutama teknik perang gerilya. Mulai dari buku "Perang Gerilya" nya Che Guevara, teori Mao Tse Tung, Paman Ho Chi Minh hingga buku "Teknik Perang Gerilya" Jendral (purn) AH Nasution adalah bacaan wajib anggota Falintil. Pulang kembali ke hotel di Dili, saya merenung angan-jangan tempat yang saya kunjungi kali ini adalah sebuah bangsa yang tengah menyongsong kemerdekaannya. Artinya, tak tertutup kemungkinan bila saya datang kembali ke tempat ini, saya terlebih dulu harus mengurus permohonan visa ke kedutaan "negeri tetangga" baru. (BERSAMBUNG) ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Jan 1999 jam 07:28:46 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
