---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Hari Jumaat itu, Agus seperti biasanya pergi ke mesjid Al Mujahidin untuk sholat Jumaat. Tidak seperti kebiasaanya untuk datang lebih awal agar bisa duduk di shaf terdepan, kali ini Agus datang terlambat. Suara Qamat sedang berkuman dang ketika dia sampai di sana.Ceramah pun sudah lewat. Agus cepat berwudhu dan menyesakkan badannya di shaf terbelakang diantara diantara barisan padat tubuh tubuh berkeringat dalam ruangan mesjid yg gagal didinginkan oleh 2 kipas angin yg sibuk di langit langit. Sambil memulai Sholat , hati Agus sedikit sedih," Hari ini " diantara ayat ayat yang didengungkan Imam, "Saya cuma dapat pahala sebesar ayam " pikir Agus lirih.. Pada saat ruku pertama, Agus sempat melongok ke shaf terdepan. Dia melihat Pak Sarbini disana, ya seperti biasanya dia selalu berada tepat dibelakang imam, disamping kirinya jelas Pak Usman, seorang aktifis pengajian yang pakai selalu pakai sorban, tapi siapa laki laki disamping dia? Agus benar benar penasaran.. Pada saat ruku kedua, Agus mencuri pandang lagi. Samar samar dia mengetahui bahwa manusia yang menempati space di barisan depan, disamping Pak Usman,space yang selama ini selalu dia isi selama ratusan Jummat yang telah dia lalui, adalah si Umar, Anak komseko yang bisanya jadi tukang parkir didepan pemakaman Karet Kubur. Dia heran mengapa si Umar sholat kali ini?Apakah Umar sudah tidak tergila gila dengan duit lagi? Biasanya Umar terkenal licik dan tukang rebut ladang parkir orang.Bahkan kotak sumbangan di kuburan yang selalu penuh oleh uang peziarah, bebe rapa adalah milik Umar pribadi. Ya yang bertuliskan " kotak sumbangan untuk mesjid Al Umar " itu uangnya tidak kemana mana, selain ke kantong Umar sendiri, Mesjid fiktif bikinan preman satu ini membuat dia sanggup membeli motor bekas dalam setahun, dan membuatnya preman paling makmur se kampung Karet Tengsin. Agus yang terus berpikir sepanjang sholat, mulai merasa iri dengan Umar. Pada sujud terakhir dia berpikir "Sialan si Umar, sudah banyak duit, Tuhan memberi dia pahala sebesar sapi sekarang , karena duduk di shaf terdepan ".Agus yang walaupun pengangguran tapi rajin mengaji itu, lalu berniat akan menanyakan Pak Kholil, guru mengaji kampung. " apakah Umar pantas diberikan pahala sebesar itu?Diakan Preman?" Dari Pak Kholil inilah dia mendengar bahwa Pahala orang yang sholat tergantung lokasi terdekat dengan imam sembahyang. Paling depan pahalanya sebesar Sapi, ditengah sebesar kambing, dan paling belakang cuma sebesar ayam kampung kurang gizi. Itulah akibatnya Agus sering benar memperhatikan TV, dia selalu kagum setiap kali menyaksikan para jemaah sholat Jummat di Mesjid Istiolal, di sholat kenegaraan itu, selalu Presiden,mentri dan pejabat tinggi duduk dibarisan terdepan." Pahala mereka" gunggam Agus dalam hati " Pasti sebesar gajah dan ikan paus " karena sholat di mesjid raksasa. itulah cita cita Agus, betapa ingin nya dia sholat Jumaat dibelakang imam di Mesjid Istiqlal, berderetan dengan orang orang penting, disamping Presiden dan manusia manusia yang wangi minyak arab. Ah bau bau sorga itu bukan main nikmatnya, pikir Agus. Sementara ini dia cuma bisa berkhayal, dan sementara itu cuma Mesjid Al Mujahidin yang kecil yg dia punya. Agus sadar kemungkinan untuk sholat di shaf terdepan disamping orang orang tenar mustahil bakalan menjadi kenyataan. Obsesi Agus yang lebih besar adalah, sholat jummat di Masjidil Haram. kata Pak Kholil, sholat disana sama dengan seribu kali sholat sholat di mesjid biasa.Agus membayangkan bisa tinggal di Mekah dan sholat Jumaat tiap minggu. Berarti 54 sapi dalam setahun dan 54.000 kali lipat dari sholat di mesjid kampung, Bayangkan bagaimana kalau sholat disana selama 10 tahun? begitu pikirnya.. Tidak heran ,Agus merasa sangat hormat terhadap orang orang Arab,"mereka itu lahir untuk menjadi orang suci. dan mati untuk masuk sorga" Itulah sebabnya agus menambahkan nama Agus bin Yahya, nama bapaknya yang ke arab araban itu ditempelkan ketika dia memperpanjang KTP di kelurahan dengan bangganya. Ingin benar Agus menjadi orang Arab, dan sering benar dia cemburu pada para Habib, sebab diantara orang Arab, ada lagi masyarakat yang kelasnya melangit,kasta tertinggi itu dinamakan Habib, merekalah "Para keturunan Nabi "dan jangan jangan, pikir Agus " pada mereka ini terletak Kunci surga " sambil berjalan pulang selesai bubaran sholat Jumaat." Bukankah Muhammad itu adalah kekasih Tuhan? Dan bukankah dia sekarang berada di Sorga? Jadi jelas para Habib itu mewarisi Sorga.." Begitu kesimpulan Agus ketika dia sampai dirumah sambil meletakan peci dan sarung di lemari. Agus merefleksikan pemahaman agama yang sederhana. Pikiran tentang Agus saya dapatkan dulu, pada saat saya sholat Jummat di langgar Konsulat Indonesia di Houston saat kongres Permias se Amerika berlangsung, Saya datang terlambat, Pak Emil Salim Juga datang terlambat, saya duduk di barisan belakang, sedang si Minang salah seorang arsitek orde baru yang barusan memuja muji Suhato dalam ceramahnya itu melesat ke barisan depan yang disediakan bagi orang orang penting, Seperti saat saya sholat Jumaat di Islamic Center di Los Angeles, seperti saat saya sholat di mesjid Al Abrar dan Mejid Al Mujahidin saya selalu datang terlambat. Dan saya ingat di mesjid terakhir itulah saya melihat Agus duduk di barisan belakang.Agus selalu merasa Tuhan berada di barisan depan, dekat sang imam. Semakin dekat pada Tuhan semakin berpahala dan diperhatikan doa kita. Saya duduk dibarisan belakang.Saya juga pernah duduk di barisan depan walaupun bukan dibelakang imam. Tapi sejauh yang saya ketahui,doa Jemaah di barisan belakang selalu nampak lebih khusuk, dari pada doa Jemaah dibarisan lainnya. Para tukang becak dan ojek, pegawai negeri yang sibuk, supir taxi,supir mikrolet,dan para manusia yang terpepet waktu karena sibuk mencari makan buat Istri dan anak yg selalu datang terlambat, yang setiap kali rukuk berjatuhan duit recehan dan duit ratusan yang dekil, bertaburan diatas karpet mesjid biasanya berdoa dengan wajah penuh ketulusan. wajah mereka penuh ke ikhlasan.Hidup dan rejeki mereka pasrahkan pada Tuhan. Saya pernah mendengar, bahwa Tuhan selalu mendengar doa orang yang susah dan teraniyaya.Dia juga selalu memperhatikan umatnya yang sedang terbenam kesukaran,jika itu benar .berarti : Tuhan selalu berada di barisan belakang Hasan Basri ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 28 Jan 1999 jam 19:48:29 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
