----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

KOLOM SUPANGKAT:


        SURAT TERBUKA KPD MBAK MEGA: BK TAK MAU CAPLOK TIMTIM
Jeng Mega Yth.,

Saya menulis surat ini sebagai wartawan Indonesia selama 49 tahun, di antara-
nya 27 tahun sebagai koresponden di PBB mempunyai apresiasi kepada PDI
sebagai partai rakyat jelata yang dijiwai oleh semangat perjuangan dan harga
diri nasional ajaran Bung Karno.

Kami berteman baik dengan BK, sebagai Presiden ia menghargai saya walau-
pun wartawan kecil sehingga sering diundang ke resepsi resepsi di Istana Mer-
deka, terutama karena BK rupanya membaca kolom kolom filosofi dan psiko-
logi saya di majalah Mimbar Indonesia. Kami sering ngobrol soal soal di atas
karena rupanya berada dalam satu gelombang radio.

Saya kaget membaca headline harian Merdeka di mana sdr Dimyati Haryono
mengancam tak akan melepaskan Timtim kalau anda terpilih menjadi Presiden.

Kalau benar hal ini posisi anda, maka PDI perjuangan lebih kanan daripada
ABRI sendiri yng sudah berubah hati (change of heart) dan menyatakan
kesediaannya untuk melepaskan Timtim.

Perhitungan ABRI dan kabinet Habibie untuk melepaskan Timtim dengan sya-
rat bahwa usulan Otonomi Plusnya ditolak, berdasarkan kenyataan bahwa mas-
alah Timtim yang menjadi stigma internasional kita sebagai bangsa "invader",
"ekspansionis" baik di dalam maupun di luar PBB, merusak binasakan citra
bangsa Indonesia.

Kebanggaan nasional kita sebagai bangsa yang telah membantu kemerde-
kaan bangsa bangsa lain di dunia, terutama di Afrika, dihinadina secara me-
lewati batas dengan kata kata yang tak senonoh dalam sidang sidang tentang
Timtim yang saya hadiri .

LSM seluruh dunia dan akhirnya Uni Eropah telah mendesak Indonesia supaya
melepaskan Timtim. Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan dua resolusi
kepada Indonesia di mana yang pertama diadop dengan aklamasi, ditambah de-
ngan lk 11 Resolusi Majelis Umum, kesemuanya mendesak Indonesia supaya
menarik diri dari Timtim agar supaya rakyatnya bisa melaksanakan Hak Menen-
tukan Nasib Sendiri (self-determination) melalui proses Dekolonisasi yang sah
berdasarkan Resolusi Resolusi PBB.

Memang harus diakui secara hukum internasional kita telah bersalah melaku-
kan invasi walaupun atas negeri "tak bertuan" yang ditinggalkan oleh Portugal
sehingga terjadi perang saudara di ambang pintu kita justru dalam masa kritis
era Perang Dingin, jelaslah membahayakan keamanan nasional kita.

Bedasarkan pertimbangan ini baik Amerika maupun ABRI - khususnya jendral
Ali Moertopo - intelejen yang paling intelejen tak berhati sehingga sering
melang-
gar batas batas perikemanusiaan - sepakat untuk "mengamankan" Timtim.

Kebetulan partai terbesar Apodeti di bawah pimpinan Raja Maria Concalves me-
nuntut kemerdekaan lewat integrasi dengan Indonesia, yang kemudian disusul
oleh UDT, Trabalhista-Kota sehingga petisi integrasi didukung oleh partai
partai
yang sudah menjadi mayoritas.

Fretilin terisolasi namun bersenjata lengkap hadiah rejim kolonial Portugal
yang
sudah menjadi rejim sosialis kiri yang kita curigai komunis, menambah gairah
kita untuk menumpasnya dan membantu Apodeti dkk. yang pro-Indonesia
namun sudah kalah perang karena lemah sekali persenjataannya. Maka ma-
suklah pasukan kita untuk "memerdekakan" rakyat mayoritas Timtim yang
sudah kalah perang oleh Fretilin yang dicurigai komunis itu.

Tujuan politik anti-komunis dalam Perang Dingin dan memerdekakan rakyat
Timtim lewat integrasi dengan demikian tercapai walaupun kemenangan kita
mendekati "pyrrhic victory" karena ketidak becusan berperang ABRI walaupun
menyerbu dari darat, laut, udara.

Kita bukan sudah kepalang basah lagi, kita tenggelam oleh "quagmire" (rawa)
Timtim, akhirnya krismon yang sudah menjadi krisekonosospol nasional men-
jadi "coup de grace" di Timtim.

Prioritas Indonesia harus diutamakan rehabilitasi ekonosospol nasional yang
meminta dedikasi penuh tanpa rongrongan masalah Timtim yang sudah men-
jadi masalah konyol akibat penindasan penindasan dan pembantaian pemban-
taian massal yang berkesinabungan oleh ABRI yang praktis menghabisi se-
mangat pro-integrasi sedemikian rupa sehingga raja pro-integrasi, Raja Maria
Concalves menyebrang ke Portugal.

Kalau kita mau realistis dan mematuhi hukum internasional, kadaluwarsalah
waktunya untuk mengubah politik Timtim demi pembangunan ekonosospol
nasional dan citra internasional di mana bahaya komunis a la Perang Dingin
Fretilin sudah punah pula.

H.S. Hidayat Supangkat
PBB New York.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Jan 1999 jam 13:58:59 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke