----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

From: George Aditjondro

Suara Merdeka, Semarang, Sabtu, 23 Januari 1999:

Catatan George Aditjondro dari Filipina (3):

KELEMAHAN DALAM MENGEMBALIKAN HARTA RAKYAT

ORANG yang dipilihnya untuk menjadi ketua pertama Komisi Kepresidenan untuk
Pemerintahan Bersih (PCGG) itu bukan orang asing bagi Cory. Jovito Salonga,
adalah bekas pengacara pribadi almarhum suaminya, dan tadinya memimpin
Laban, partai oposisi yang mempersatukan semua kekuatan anti-Marcos yang
berusaha menggulingkan diktator itu lewat jalan damai (jalan parlementer).
Tapi di samping karier politiknya, yang baru diterjuninya sesudah sahabat
karibnya, Ninoy Aquino, mati tertembak di ujung peluru sniper di bandara
internasional Manila, tanggal 24 Agustus 1983, Jovy adalah seorang ahli
hukum lulusan Universitas Yale di New Jersey, AS.

Pengacara yang juga pernah mendekam dalam penjara Marcos itu, secara khusus
mempersiapkan diri untuk melakukan hal itu. Begitu lepas dari penjara, ia
segera mengungsi ke AS, untuk memperdalam studinya tentang sistem hukum
Amerika, guna menemukan celah-celah untuk merebut kembali harta rakyat
Filipina yang dijarah Marcos bersama keluarga dan para kroninya. Studi itu
dilakukannya di alma mater sebelumnya, di Yale.

Selain memperdalam studi hukumnya, beberapa bulan setelah pembunuhan Ninoy,
ia juga mulai mengumpulkan sekelompok kecil pembangkang Filipina di AS,
yang secara berkala berkumpul untuk menghimpun data tentang kekayaan Marcos
yang berhasil mereka dengar dari sana-sini. Kelompok itu terus bekerja
setelah Jovy pulang dari pengungsiannya di bulan Januari 1984, setahun
sebelum Revolusi EDSA. Pekerjaan kelompok pembangkang di AS itu mereka beri
nama, "Project Ganid", di mana "ganid" berarti "rakus" dalam bahasa
Tagalog.

Di antara anggota kelompok itu termasuk dua orang yang kemudian ditunjuk
untuk mengatur gugatan-gugatan PCGG di pantai timur dan pantai barat AS,
yakni Kol. Bonifacio Gillego, yang setelah kembali ke Filipina terpilih
menjadi anggota Kongres, yang berkedudukan di New York, serta Rafael
Fernando, yang berkedudukan di Los Angeles. Keduanya berada di bawah
koordinasi Severina Rivera, pengacara asal Filipina yang berkedudukan di
Washington, DC. Anggota-anggota "Proyek Ganid" lainnya adalah Komodor Ramon
Alcaraz, Dr. Ruben Mallari, dan pengacara Rey Mercado, yang semuanya
tinggal di Los Angeles.

Begitu Jovy Salonga diangkat menjadi ketua PCGG, Severina Rivera
menelponnya untuk mengucapkan selamat, sambil menyampaikan kabar buruk dari
New York. Bernstein bersaudara, yang mengelola gedung-gedung milik Marcos
di Manhattan, bermaksud untuk segera menjual gedung-gedung itu. Salonga
minta tolong kepada Rivera, untuk segera mengusahakan perintah penangguhan
sementara (temporary restraining order = TRO) dari pengadilan di New York.

Ini merupakan masalah, sebab semua pengacara Amerika yang mampu melakukan
hal itu, akan menagih gaji jam-jaman yang luarbiasa tingginya, padahal kas
pemerintah Aquino praktis sudah kosong dikuras oleh keluarga Marcos dan
para kroninya.

Untunglah pada tengah malam itu juga, Rivera menelepon Salonga di Manila,
kali ini dengan kabar baik. Center for Constitutional Rights, satu lembaga
bantuan hukum di New York yang sudah sering membela korban-korban
pelanggaran HAM, yang dipimpin oleh seorang pengacara senior, Morton
Stavis, bersama kawan-kawannya, bersedia membela kepentingan rakyat
Filipina secara cuma-cuma. Jadinya, selama dua hari berturut-turut Salonga
dan Stavis bertelepon-teleponan antara New York dan Manila, untuk merancang
strategi hukum untuk menuntut nasionalisasi gedung-gedung yang diduga milik
keluarga Marcos dan para kroninya di pengadilan-pengadilan AS.

Dokumen penting
---------------
Timbul masalah baru: mana dokumen-dokumen yang secara yuridis-formal dapat
membuktikan bahwa gedung-gedung, yang sudah berkali-kali diekspos oleh pers
Amerika, itu memang milik keluarga Marcos dan para kroni mereka? Ternyata
Tuhan -- dan rakyat Filipina -- masih berada di fihak Salonga dan para staf
serta relawan PCGG-nya. Pada hari Sabtu, 1 Maret 1986, 24 koper dan kotak
berisi dokumen penting, yang disita oleh para penyerbu Istana Malakanyang,
pada jam-jam setelah Marcos sekeluarga dibawa lari dengan helikopter AS ke
pangkalan Clark, diserahkan oleh pemerintah Filipina kepada Salonga dan
komisinya. Hasil jarahan rakyat dari istana negara itu, ironisnya berisi
bukti-bukti jarahan harta rakyat Filipina oleh kepala negara mereka:
sertifikat gedung-gedung milik mereka, serta sertifikat deposito-deposito
Ferdinand dan Imelda Marcos --- dengan nama samaran Williams Saunders dan
Jane Ryan -- di bank-bank Swiss.

Walhasil, pada malam hari Minggu, 2 Maret 1986, Pengadilan Tinggi New York,
melalui hakim Elliot Wilk, mengeluarkan surat penangguhan sementara (TRO)
terhadap bangunan-bangunan yang sudah diidentifikasi sebagai milik keluarga
Marcos dan para kroninya, yang berlaku selama 20 hari. Selanjutnya
pertempuran di pengadilan antara Jovy Salonga dan Morton Stavis melawan
Bernstein Bersaudara dan para pengacara mereka, berjalan dengan kemenangan
akhirnya di tangan rakyat Filipina.

Sementara pertempuran masih berjalan di pengadilan-pengadilan AS, dari New
York sampai ke California, Salonga dan stafnya harus terbang ke Swiss.

Walaupun kerahasiaan bank di negeri Pegunungan Alpen ini dikenal sangat
ketat, ada satu undang-undang Swiss yang sangat membantu Salonga dan tim
PCGG-nya. Tanggal 1 Januari 1981, parlemen Swiss telah mengeluarkan satu
undang-undang, yang mulai berlaku dua tahun kemudian. Namanya Swiss Federal
Act on International Mutual Assistance in Criminal Matters, atau disingkat,
IMAC. Berdasarkan IMAC itu, pada tanggal 25 April 1986 pemerintah Filipina
secara resmi mengajukan permintaan bantuan kepada pemerintah Swiss untuk
membekukan semua aset keluarga Marcos dan para kroninya, dengan melampirkan
surat gugatan kriminal terhadap Ferdinand Marcos, Imelda Marcos, dan
sejumlah kroni mereka.

Sekali lagi, keberuntungan ada di tangah rakyat Filipina. Pada tanggal 29
Mei 1986, pemerintah kanton Zurich, pusat keuangan Swiss serta seluruh
benua Eropa, meluluskan permintaan bantuan PCGG itu dan memerintahkan
pembekuan sementara seluruh aset di bank-bank di Zurich milik keluarga
Marcos dan para kroni mereka. Kanton-kanton lain di Swiss, segera menyusul.

Kelemahan
---------
Sekian dulu tentang keberhasilan gerakan untuk pengembalian harta rakyat
Filipina yang dijarah oleh keluarga Marcos dan konco-konconya. Sekarang
tentang kelemahan dan kegagalan usaha-usaha ini. Pertama, kegigihan
perjuangan Salonga sebagai ketua PCGG tidak berlangsung lama, dan berakhir
tanggal 9 Maret 1987, ketika ia ingin kembali terjun ke politik praktis
untuk mencalonkan diri menjadi ketua Parlemen Filipina. Sebelumnya, Jovy
juga telah menimbulkan keretakan dalam kerjasama antara PCGG dan CCR,
dengan mengangkat konconya, Rafael Fernando, menjadi Direktur Eksekutif
PCGG serta kepala usaha pengembalian harta jarahan Marcos di luar negeri.

Ini dilakukan oleh Salonga, karena Fernando adalah ketua Partai Liberal
Filipina di kalangan para perantau Filipina di pantai barat AS, yang
diharapkan dapat mendukung ambisi politik Salonga sendiri. Entah
disadarinya atau tidak, Fernando juga pernah bekerjasama dengan dua orang
kroni Marcos, Enrile dan Eduardo Cojuangco, untuk membentuk suatu kartel
kelapa untuk menguasai pasaran AS, dengan melanggar undang-undang
anti-trust AS.

Pengangkatan Fernando kemudian juga terbukti merugikan pekerjaan PCGG di
AS. Sebagaimana ditulis oleh Ricardo Manapat dalam edisi kedua bukunya
tentang kekayaan Marcos, Fernando membubarkan kelompok-kelompok relawan di
Houston, San Francisco dan New York, yang besar jasanya dalam membongkar
kekayaan Marcos di AS, menggaji pengacara-pengacara profesional yang sangat
tinggi gajinya, menghambur-hamburkan uang kas PCGG yang tidak seberapa,
jarang menindaklanjuti temuan-temuan baru tentang kekayaan Marcos di sana,
dan sering mengambil keputusan-keputusan penting tanpa berkonsultasi dengan
pimpinan PCGG di Manila. Akibatnya, pekerjaan PCGG di AS mengalami set back
yang luarbiasa, setelah dimulai dengan begitu bersemangat.

Kelemahan kedua adalah bahwa pengembalian aset keluarga dan kroni Marcos di
bank-bank Swiss, yang dengan bunganya selama 12 tahun telah mencapai 600
juta dollar AS, hanya dapat dilakukan kalau Marcos atau keluarga dan para
kroninya, sudah terbukti melakukan kejahatan menurut hukum Filipina. Hal
itu mula-mula tidak dapat dilakukan, karena pemerintah AS melarikan
keluarga Marcos ke Hawaii -- dengan mengantongi intan-berlian,
gelang-gelang emas, dan arloji mewah yang total bernilai jutaan dollar AS,
tersembunyi dalam gundukan popok bayi yang masih buru-buru berhasil dibawa
oleh Imee, putri sulung Marcos.

Sesudah Marcos meninggal di Hawaii dan Imelda pulang ke Manila, tahun 1993
ia diajukan ke pengadilan dengan tuduhan merampok 5 milyar dollar AS dari
kas pemerintah Filipina selama 20 tahun masa pemerintahan suaminya. Setahun
kemudian, Imelda dinyatakan bersalah, dan dijatuhi hukuman 12 tahun
penjara. Tapi berkat kemampuannya membayar pengacara-pengacara paling top
di Manila, Imelda Marcos berhasil naik banding, dan awal Oktober tahun
lalu, Mahkamah Agung Filipina membatalkan keputusan itu. Hal ini menghambat
pengembalian aset-aset a/n keluarga Marcos dan para kroninya di bank-bank
Swiss.

Kemenangan Imelda Marcos setelah naik banding ke Mahkamah Agung Filipina
itu juga mencerminkan kelemahan ketiga dalam usaha pengembalian harta
rakyat Filipina yang dijarah oleh keluarga Marcos dan para kroni mereka.

Kedua presiden pengganti Cory Aquino, yakni Fidel Ramos dan Erap Estrada,
sudah kehabisan stamina dalam melanjutkan usaha yang mulia itu. Keduanya
sangat berusaha memacu pembangunan ekonomi Filipina, dengan merangkul para
bekas kroni Marcos, bahkan dengan merangkul perusahaan keluarga dan kroni
tetangganya di selatan, Suharto.

Namun dengan segala kelemahannya, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan
dari pengalaman Filipina itu bagi usaha pengembalian harta rakyat Indonesia
yang dijarah oleh keluarga Suharto dan para kroni mereka.

Pertama, pemerintah Cory Aquino jauh lebih serius berusaha membuktikan
komitmennya untuk menciptakan pemerintahan yang relatif bersih dari
korupsi, ketimbang pemerintah Habibie. Hal ini tentunya ada kaitan dengan
latarbelakang Cory sebagai janda korban pembunuhan oleh rezim Marcos,
sementara Habibie justru adalah orang yang diuntungkan, dan karenanya,
berhutang budi kepada Suharto.

Dengan demikian, sandiwara pemeriksaan Suharto yang kini dimainkan oleh
Jaksa Agung M. Ghalib berikut sistem peradilan Indonesia, lebih merupakan
taktik mengulur waktu agar sebanyak mungkin harta jarahan keluarga dan para
kroni Suharto itu dapat diamankan ke luar negeri.

Kedua, usaha kelompok-kelompok oposisi bawah tanah di Filipina untuk
membongkar kekayaan keluarga dan para kroni Marcos, yang diperoleh dengan
cara-cara yang tidak halal dan ilegal, sudah berlangsung lama sebelum
Marcos jatuh. Sementara di negeri kita, baru dimulai dengan serius
menjelang Suharto parkir.

Ketiga, kesadaran kelompok-kelompok oposisi di Filipina bahwa keluarga dan
para kroni Marcos sudah lama berusaha mengamankan kekayaan mereka ke luar
negeri, lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok-kelompok oposisi di
Indonesia.

Keempat, dibandingkan dengan para pengacara Filipina yang terlibat dalam
gerakan untuk pengembalian kekayaan rakyat mereka yang dijarah oleh
keluarga dan kroni Marcos, para pengacara Indonesia dalam gerakan
anti-korupsi Indonesia belum tampak usahanya untuk memanfaatkan sistem
hukum di luar negeri untuk memperoleh kembali harta jarahan itu.

Kelima, kalau tidak segera ada perubahan sikap dan keseriusan dalam
pengusutan terhadap kekayaan rakyat kita yang dikorupsi oleh Suharto
bersama kerabat dan kroninya, baik dari kalangan pemerintah maupun rakyat,
maka apa yang akan diperoleh rakyat Indonesia kembali akan jauh lebih
sedikit lagi dengan apa yang telah diperoleh rakyat Filipina.

Dr George Junus Aditjondro, dosen Sosiologi Korupsi Universitas Newcastle,
Australia.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 31 Jan 1999 jam 17:32:14 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke