---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk PERTANYAAN UNTUK PDI PERJUANGAN oleh J. Narayana Hari ini, 29 Januari, di Harian Merdeka saya baca headline yang amat mencolok, yang memuat pernyataan salah satu Ketua PDI Perjuangan Dimyati Haryanto, bahwa jika Megawati Sukarnoputri terpilih jadi Presiden, maka Timor Timur "tidak akan dilepas". Pernyataan ini mencemaskan. Pertama karena kemungkinan Megawati menjadi presiden sangat besar. Kedua, karena tampaknya pimpinan PDI Perjuangan justru mengikuti garis "Orde Baru", yaitu mengambil Timor Timur ke wilayah Indonesia tanpa persetujuan rakyat Tim-Tim sendiri. Kata "tidak akan dilepas" menunjukkan sikap yang menganggap Indonesia-lah pemilik sah wilayah itu. Ketiga karena ini mungkin mencerminkan suatu pandangan yang implikasinya lebih luas. Yaitu kesukaan sikap konservatif kepada "status quo", yang tidak mau mengubah atau meninjau kembali apa yang sudah ada. Apakah pimpinan PDI Perjuangan tidak ingat, bahwa rakyat Timor Timur selama bertahun-tahun diperlakukan sewenang-wenang oleh kekuasaan Soeharto -- sebagaimana juga PDI Perjuangan sendiri? Apakah pimpinan PDI Perjuangan tidak tahu, bahwa banyak aktivis pro-demokrasi yang membela Megawati pada dasarnya ingin juga melihat Timor Timur merdeka? Jawaban atas semua pertanyaan ini tentu ditunggu. Yang mengkhawatirkan ialah bila sikap konservatif ini diam-diam mendasari pandangan PDI Perjuangan, sikap konservatif yang ada hubungannya dengan semangat "nasionalisme" lama. Dalam semangat "nasionalisme" lama ini, peran "negara-bangsa" merupakan soko guru utama, dicerminkan dalam slogan "persatuan dan kesatuan", yang menyebabkan sikap mandiri dan otonomi dari bagian-bagian di tepi-tepi ("margin") dianggap memang marjinal. Juga yang mencurigai yang "berbau asing", "internasional", "universal". Dalam prakteknya, nasionalisme lama ini menganggap konsep "negara kesatuan" sebagai suatu hal yang sudah final, bahkan "keramat". Pusat menjadi penting, bahkan diluhurkan. "Asing" (nilai-nilai demokrasi Barat, hak-hak asasi manusia, musik rock, Marxisme, dan lain-lain) dengan sendirinya layak ditolak. "Nasionalisme" lama ini mendasari gerakan sayap kanan di pelbagai tempat di dunia, misalnya di Jepang, India, Argentina, Chile, Irak dan Suriah (yang menang, dalam diri Partai Baath, yang menghabisi partai-partai sayap kiri). Politik syaap kanan di Eropa Barat dan AS juga mencerminkan pandangan ini. Bahkan sebenarnya Fasisme Italia dan Naziisme (Nazional-Sozialismus) Jerman juga menganut "nasionalisme" lama ini, terutama tercermin dari semboyan, "Ein Volk, Ein Fuehrer, Ein Ja" (satu bangsa, satu pemimpin, satu kata). Jika Hitler kemudian memperluas daerah kuasanya, bukankah sangat menarik bahwa atas nama "nasionalisme", demi kebanggaan akan kebesaran bangsa, di Indonesia pun ada semangat yang mirip untuk "tidak melepas Timor Timur"? Kalangan militer umumnya menyukai sikap ini. Ada hubungannya dengan ideologi "disiplin nasional", "persatuan-kesatuan" dan curiga kepada apa saja yang datang dari "luar", yang "lain". Mungkinkah itu sebabnya ada kecocokan antara "nasionalisme" lama ini dengan pandangan ABRI, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun? Sangat menarik untuk diperhatikan, bahwa selama pembahasan RUU Politik, PDI Perjuangan sama sekali tidak mengeluarkan pernyataan sikap. Padahal ada persoalan krusial, terutama adanya kursi gratis untuk ABRI. Mudah-mudahan kader-kader muda PDI Perjuangan menyadari ini, dan melakukan koreksi. Sebab jika PDI Megawati menang nanti, dan yang dibawa adalah semangat "nasionalisme" lama, yang mungkin malah mendekatkan kita dengan fasisme. Bahaya fasisme bisa datang dari "fasisme agama" maupun "fasisme" yang memutlakkan "persatuan-dan-kesatuan" itu. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 Feb 1999 jam 08:49:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
