---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk USKUP BELO TANGGAPI PERNYATAAN PANGDAM DAMIRI DILI (MateBEAN, 10/4/99), Uskup Dioses Dili, Mgr Carlos Filipe Ximenes Belo SDB meminta pada Pangdam IX Udayana, TNI Mayjen Adam Damiri dan pimpinan ABRI di Timtim supaya mengembalikan semua jenasah yang dibantai di kediaman Pastor Rafaiel Dos Santos, Selasa (6/4) kepada keluargannya untuk dimakamkan menurut agama dan tradisi orang Timtim. "Jika pada masa mendatang, ada pembantaian maka saya mohon mayat-mayat itu ditaruh di tempat umum, supaya kita semua orang dapat menghitung berapa jumlahnya. Jangan melarikan korban secara tersembunyi, lalu kita memberikan angka yang berbeda. Sampai sekarang semua angka yang disampaikan sangat tendesius karena tidak ada niat baik mengekspos jenasah secara umum di tempat umum supaya diketahui oleh semua orang," kata Amo Belo pada wartawan di kediamannya, Kamis (8/4) petang. Begitu pun penemuan senjata di rumah Pastor Rafaiel, lanjutnya, juga harus ditunjukkan secara terbuka dan dipublikasikan secara transparan agar masyarakat dapat mengetahuinya. Menjawab wartawan tentang tindakan pembantaian BMP yang dibeking ABRI, dimana terkesan seperti tindakan komunis, Amo Belo mengatakan, "Saya tidak tahu sebagai komunis tapi tidak manusiawi, tidak beradab, tidak beragama dan tidak Pancasilais. Mereka itu beragama, tapi kenapa mereka berbuat begitu." Apakah dengan tindakan pembantaian pro-integrasi itu berindikasi untuk membatalkan Dialog Dare ke-II dan penjajak pendapat oleh Tim PBB pada Juli mendatang? Kata Amo Belo, "Ya, bisa saja. Tapi saya sampaikan kepada anda bahwa ini persepsi saya. Dan ini menunjukan dendam besar terhadap Pastor Rafaiel. Kemarin (Rabu 7/4), saya masuk melihat semua di ruangan-ruangan rumah Pastor Rafaiel yang telah dirusak. Itu berarti mau membunuh pastor secara moral dan psikologis. Dendam besar terhadap pastor paroki dan gereja. Jadi itu menunjukan bahwa pengikut Pancasila pembohong. Uskup Belo selanjutnya pada Jumpa Pers petang kemarin membacakan naskah Siaran Pers Klarifikasi Pernyataan Pangdam IX/Udayana dengan terlebih dahulu menyatakan bahwa : Demi kebenaran saya mau meluruskan pernyataan saya, Rabu (7/4) bahwa saya terima surat dari Danrem (Tono Suratman), dimana tertulis 25 orang yang tewas. Tapi sebenarnya sebelum saya berangkat ke Liquisa, saya melihat dalam surat Danrem Tono itu tertulis 25 orang rakyat terluka sehingga saya sampaikan (kepada wartawan) bahwa 25 orang yang tewas. Menurut surat Pak Danrem, sementara Pangdam Adam Damiri dalam siaran persnya di Bali menyatakan bahwa lima orang tewas dan dua puluh lima terluka. Tapi sebagai pribadi dan sebagai uskup maka saya tetap pada angka 25 orang yang tewas karena ada saksi mata yang menyampaikan pada saya bahwa 25 jenasah diangkut dan ditaruh di mobil. Tapi di luar masih ada. Untuk lebih lengkap klarifikasi Uskup Belo tersebut, berikut kami turunkan secara utuh naskah setebal tiga halaman itu adalah sebagai berikut: ========== SIARAN PERS KLARIFIKASI PERNYATAAN PANGDAM IX/UDAYANA Pada Rabu, tanggal 7 April 1999 di Denpasar - Bali, Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Adam Damiri telah memberikan keterangan seputar pembunuhan Liquica kepada dua wartawan dari ANTARA dan KOMPAS. Penjelasan Pangdam tersebut perlu diklarifikasi terutama yang berhubungan dengan institusi dan Hirarki Gereja Katolik yang telah disinggung/disebutkan pada penjelasan tersebut. Bagi kami, pernyataan Pangdam IX/Udayana tersebut harus diklarifikasi, dicari kebenarannya agar rakyat atau para pembaca dan pemirsa dapat memahami duduk permasalahannya. 1. Menurut Pangdam, "Jumlah korban meninggal adalah lima orang dan 25 orang luka-luka". Penjelasan/tanggapan 1.1. Kita memiliki perbedaan jumlah korban meninggal dunia. Kami tetap menyatakan bahwa berdasarkan laporan dari saksi mata yang masih hidup bahwa jumlah korban yang meninggal dunia sebanyak, kurang lebih 25 orang. 1.2. Pada kesempatan ini, kami meminta kepada Bapak Pangdam agar sedapat mungkin mengembalikan lima orang korban yang meninggal dunia (versi Pangdam) agar keluarga para almarhum dapat memberikan penghormatan terakhir sekaligus dimakamkan secara layak sesuai tradisi keagamaan dan budaya setempat. Sampai hari ini, keluarga korban belum mengetahui tempat disemayamkannya jenasah-jenasah tersebut. Walaupun dikatakan lima orang yang tewas namun kelima korban itu adalah manusia maka mereka perlu diperlakukan secara manusiawi. 2. Pangdam mengatakan: "Dalam bentrok yang berlangsung di rumah Pastur Rafael itu juga ditemukan dua pucuk senjata otomatis G3 milik Fretilin dari enam pucuk senjata yang diduga disimpan di rumah pastur tersebut." Penjelasan/tanggapan 2.1. Kami menegaskan bahwa tidak ada senjata jenis apapun dan milik siapapun yang tersimpan di dalam rumah Pastor Rafael pada saat pembunuhan terjadi. Tidak tertutup kemungkinan pada peristiwa berdarah itu telah terjadi sebuah rekayasa penemuan senjata. Senjata ditemukan oleh siapa, dimana letaknya dan apakah ketika senjata itu ditemukan di dalam rumah Pastor Rafael, yang bersangkutan diikutsertakan untuk melihat senjata yang ditemukan itu. Kenapa saat uskup ke lokasi tidak ditunjukan senjata itu? Bagi kami, penemuaan dua pucuk seperti yang dituturkan Pangdam merupakan uapaya pembenaran atas sebuah dugaan bahwa di dalam rumah Pastor Rafael disimpan enam pucuk senjata. 2.2. Perlu dipertanyakan, yang terjadi di rumah Pastur Rafael itu apakah bentrokan atau penyerangan diserta penjarahan/pencurian oleh kelompok tertentu. Kami menyebutkan penjarahan telah terjadi di rumah Pastur Rafael dan Pastur Yoseph Daslan telah mengaku bahwa uang sebanyak Rp 8 juta milik SMPK Liquisa dan sejumlah uang uang milik pastur Rafael telah hilang dibawa pergi oleh orang tertentu. 3.Pangdam mengatakan: "kelompok pelaku tindakan kerusuhan tersebut kemudian melarikan diri dan minta perlindungan di rumah Pastur Rafael, termasuk di dalamnya Kades Dato, Jacinto yang menjadi salah satu otak dari kegiatan-kegiatan yang mensponsori pro-kemerdekaan dan membuat anarki di Timtim" Penjelasan/tanggapan 3.1."Jika benar terbukti bahwa mereka yang meminta perlindungan di rumah Pastur Rafael adalah kelompok pelaku tindakan kerusuhan, lantas mengapa selagi mereka masih hidup tidak diproses oleh aparat penegak hukum sesuai aturan hukum yang berlaku? Mengapa setelah mereka sudah mati barulah kita yang masih hidup mengatakan bahwa mereka itu adalah pelaku tindakan kerusuhan?. 3.2. Jikalau Pastur Rafael dapat menampung atau seperti dikatakan Pangdam "melindungi" (minta perlindungan di rumah pastur Rafael), orang-orang yang "dianggap" pelaku tindak kerusuhan, mengapa pihak aparat penegak hukum sendiri tidak mampu melindungi pelaku kerusuhan itu untuk selanjutnya diproses secara hukum yang berlaku agar hak hidup orang itu dapat tetap dihormati? Apakah mereka yang dianggap pelaku tindak kerusuhan itu harus dihabisi nyawanya melalui suatu peristiwa berdarah seperti itu?" 4. Pangdam mengatakan: "Rumah pastur Rafael kemudian dijadikan tempat persembunyian dari sejumlah kelompok pro-kemerdekaan, sementara massa yang marah akibat berbagai tekanan tersebut meminta kepada pastur Rafael untuk segera menyerahkan kelompok yang bersembunyi tersebut, termasuk menyerahkan sejumlah senjata yang diduga disimpan di tempat itu kepada aparat kepolisian. Pastur belum menyerahkannya, namun ketika berlangsung negosiasi antarkelompok dengan aparat kepolisian, kemudian terdengar tembakan dari arah rumah pastur tersebut..." Penjelasan/tanggapan 4.1. Menurut keterangan Pastur Rafael yang disampaikan kepada para wartawan pada Rabu (7/4) di Kediaman Uskup Dili, bahwa permintaan Pastur Rafael untuk bertemu dengan Bupati Leonito Martins dan Manuel Suosa pimpinan BMP, juteru ditolak dengan alasan situasi tidak memungkinkan dan massa masih emosional (Ami sei laran moras). Jadi, apa yang dikatakan Pangdam bahwa ada dilangsungkan negosiasi, antara pastur dengan kelompok dan aparat kepolisian, sangat tidak benar. 4.2. Harus dibedakan ungkapan ini : "Tembakan dari arah rumah pastur" dan "Tembakan dari dalam rumah pastur." Tembakan dari arah rumah pastur, bisa saja tembakan itu keluar/datang dari dalam rumah pastur sendiri, tetapi bisa juga tidak keluar dari dalam rumah pastur, tetapi dari sisi-sisi lain yang semuanya searah dengan rumah pastur. Sesuai dengan keterangan yang disampaikan Pastur Rafael dan Pastor Daslan, selama mereka berdua berada di dalam rumah/pastoran itu, tidak terdengar bunyi tembakan dari dalam rumah mereka sendiri. Tembakan bisa saja datang dari arah rumah pastur setelah keduanya tidak ada di rumahnya atau juga, pernyataan ini mungkin saja hanya untuk membenarkan dugaan bahwa di dalam rumah pastur tersimpan senjata api. Semua di dunia ini dapat saja "diduga" dan direkayasa/dimanipulasi" tetapi ada satu yang pasti bahwa KEBENARAN itu tidak dapat diduga dan direkayasa. Dia akan datang dengan sendirinya dan, harus diketahui bahwa kebenaran adalah kesucian. Pernyataan bahwa ada: "Terdengar bunyi tembakan" tidak boleh diartikan sebagai "melihat sebuah peluru datang dari arah rumah pastur." Kalau terdengar bunyi tembakan, maka dapat dipertanyakan, siapa saja yang mendengar? Apakah mendengar sama dengan melihat? 5.Pangdam mengatakan: "Pastur Rafael terlalu jauh melibatkan diri dalam urusan politik." Penjelasan/tanggapan: 5.1. Dengan penuh hormat, kami meminta Bapak Pangdam untuk menjelaskan sekaligus membuktikan keterlibatan jauhnya di bidang politik. Mohon dirinci, keterlibatannya yang bernuansa politik dan tidak bernuansa politik yang tidak boleh disentuh/dicampuri oleh seorang pastor. Seorang pastor dapat terlibat dalam politik tetapi politik dalam arti power play menyelenggarakan, mempertahankan, membagi, merebut kekuasaan. Melainkan politik dalam arti yang lebih asli, yakni sebagai pangilan moral yaitu segala iktiar dan karya demi kepentingan kesejahteraan umum baik rohani maupun jasmani seperti perdamaian, rekonsiliasi, pembelaan kebenaran, kejujuran, pengusutan kejahatan, penggalangan persaudaraan dan pemekaran umat serta rakyat semua. Demikian penjelasan sekaligus tanggapan yang sangat sederhana perihal pernyataan Bapak Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Adam Damiri mengenai jumlah korban pembunuhan Liquica. Penjelasan ini merupakan bukti bahwa masih ada keinginan untuk bekerjasama, saling memberikan koreksi yang konstruktif dan niat baik untuk menjadi mediator dialog dan rekonsiliasi antara kelompok yang berbeda haluan politik. Sekian dan terimakasih Hormat Kami Mgr.Carlos Filipe Ximenes Belo, SDB ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 12 Apr 1999 jam 13:34:16 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
