----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Perlakukan Riau Secara Khusus! 
Riau Akan Tetap Gabung NKRI 

Pekanbaru, (Riau Pos)
Seharusnya Riau diberi perlakuan khusus oleh pusat seperti dua daerah
istimewa lainnya. 
Bedanya, Riau diistimewakan dalam masalah keuangan. Biarkan Riau mengurus
keuangan 
daerahnya sendiri. Dengan demikian, keinginan masyarakat Riau untuk
berpisah dengan 
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan dapat dilupakan. 

Pernyataan tersebut diungkapkan HU Siagian, Ketua Komisi A DPRD Tingkat I
Riau, 
kepada Riau Pos di ruang kerjanya, Senin (11/4). Perlakuan khusus yang
diinginkan Riau 
harus dijabarkan pemerintah pusat lewat pemenuhan tuntutan bagi hasil bumi
10 persen. 

Dengan dana bagi hasil 10 persen dari Rp40 triliun tersebut diyakini Riau
mampu mengelola pembangunan sendiri, di luar anggaran APBD dari pusat.
��Rp4 triliun itu sudah cukup untuk 
membangun berbagai sarana dan prasarana yang dibutuhkan Riau,�� ungkap
Siagian. 

Dijelaskan, pendapatan Rp4,219 triliun itu direncanakan penggunakannya untuk 
pembangunan prasarana 30 persen, ekonomi 25 persen, sosial dan budaya 35
persen 
dan pembangunan Iptek 10 persen. Dalam tempo yang terus bergulir, diharapkan 
rencana pembagian anggaran itu akan semakin dapat dioptimalkan, terutama dalam 
pembangunan Iptek. 

��Jika pembangunan prasarana telah dijalankan, otomatis dalam tempo
selanjutnya, 
akan dapat ditingkatkan pembangunan SDM lewat Iptek. Dan pembangunan prasarana 
akan berangsur dikurangkan,�� kata anggota DPRD dari Fraksi ABRI ini. 

Secara garis besar diungkapkan, rencana pembangunan Riau akan diprioritaskan 
berdasarkan penyelamatan, pemulihan, pemantapan dan pembangunan. Dan dari Riau 
sekitar Rp40 triliiun setahun dikurangi 10 persen dapat disalurkan untuk
subsidi bagi 
daerah lainnya. Hal demikian tidak akan mengganggu APBD daerah lain di luar
Riau 
berdasarkan skala prioritas yang ada. ��Kita hanya minta 10 persen saja.
Sementara 
Rp36 triliyun lainnya dapat disalurkan untuk membantu daerah di luar
Riau,�� tegas 
Siagian pula. 

Namun, menurut Siagian, perlakuan khusus untuk Riau sebaiknya tidak mencontoh 
dua daerah istimewa sebelumnya yang hanya dikhususkan dalam pembangunan 
agama untuk DI Aceh dan budaya kesultanan untuk DIY. ��Riau membutuhkan 
perlakuan khusus untuk pembangunan ekonomi terutama dalam bidang keuangan. 
Dan itupun hanya 10 persen dari hasil bumi Riau sendiri,�� ujarnya. 

Untuk pembangunan Riau, terutama dalam bidang pendidikan, pemenuhan
tuntutan 10 
persen itu juga sangat penting. 

Diungkapkan, sampai saat ini Riau hanya memiliki enam perguruan tinggi (PT). 
Padahal Riau masih membutuhkan banyak SDM memadai setingkat sarjana. Dengan 
dana itu nantinya, juga akan dapat dibangun PT lainnya yang mampu menampung
lulusan 
SMU di Riau dan daerah lainya. 

Sementara untuk sekolah dasar (SD) Riau masih lebih parah dari beberapa
propinsi 
lainnya. Dicontohkan, di Kalteng, ada SD berjalan yang dapat dimanfaatkan
untuk 
daerah-daerah yang terisolir. Di Riau daerah seperti itu masih banyak dan
perlu 
perhatian khusus bidang pendidikan. Dengan dana 10 persen itu nantinya, akan 
mampu menjalankan program pendidikan daerah terisolir seperti Pulau Tujuh. 

Begitu pula pembangunan sarana jalan raya. Seharusnya di Riau, tiap jalan
kecamatan 
sudah diaspal, mengingat hasil buminya yang begitu besar. Dengan demikian
hubungan 
antar daerah akan lancar. Kenyataannya saat ini, antar daerah di Riau masih
sering 
terjadi �putus hubungan� karena jalan yang tidak memadai. 

Menurut istilah Siagian pembangunan itu berupa jaring laba-laba. Di mana
antar daerah 
dapat berhubungan satu dengan lainnya tanpa terganggu putusnya salah satu
jalan, karena 
masih ada jalan-jalan alternatif lewat daerah lainnya. 

Terlepas dari semua itu, ketakutan pusat tidak mampu membayar utang luar
negeri 
(ULN) dengan mengabulkan tuntutan 10 persen bagi hasil bumi itu, terlihat
tidak 
beralasan. Pasalnya, UNL RI yang mencapai Rp600 triliun, masih mampu dibayar 
dengan membagi 10 persen saja hasil bumi Riau pada Riau. ��Kita telah subsidi 
Rp36 triliun setahun, dari hasil Rp40 triliun. Kan adil kalau kita
mencicipi Rp4 triliun 
saja,�� ungkap Siagian dengan pasti.(len) 

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Apr 1999 jam 11:08:03 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke