----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Stockholm, 15 April 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

CARA UNTUK MEMBANGUN KEMBALI DAULAH ISLAM RASULULLAH DI ABAD MILLENNIUM
YANG MODERN BUKAN DENGAN CARA REVOLUSI ATAU CARA EVOLUSI MELAINKAN
DENGAN CARA RASULULLAH.
Ahmad Sudirman
Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA.


Saudara S. Abdurrahman M. dari millis Isnet Indonesia pada tanggal 10
April 1999 telah memberikan suatu tanggapan terhadap tulisan "SEORANG
PENGANUT KRISTEN BERTANYA SIAPA YANG AKAN MENJADI  KHALIFAH DAN DARI
PARTAI MANA?" yang dipublisir pada tanggal 10 April 1999. Dimana saudara
Abdurrahman menanyakan bahwa "Saya ingin sekali komentar khususnya dari
sdr Ahmad, atas statementnya bahwa, Pemilu 1999,  yad sama sekali tidak
ada hubungannya dgn ide Daulah Islam Rasulullah (DIR). Kalau demikian
halnya, lalu bagaimana caranya mensosialisasikan ide DIR itu?. Apakah
ada cara lain untuk melaksanakan DIR selain 'Revolusi', misalnya seperti
revolusinya Imam khomaini terhadap tiran dinasti Pahlevi. Kalau arahnya
kira2 seperti itu pertanyaan berikutnya. Apakah bangsa kita ini sudah
cukup mempunyai 'nyali' untuk melakukan hal itu?, karena salah satu
syaratnya menurut hemat saya adalah Iman dan Taqwanya kepada Al khalik
(kalau mau di sensus) barangkali rakyat indonesia yg 190 juta muslim as
per KTP, Insya Allah hanya berkisar 10 % yg benar2 commited terhadap ke
Islamannya."

Baiklah saudara S. Abdurrahman M. saya akan berusaha untuk memberikan
sedikit jawabannya. "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu
suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap
(rahmat) dan (keselamatan di) hari kiamat dan banyak menyebut Allah" (Al
Ahzab: 21). Juga seperti yang telah saya tulis dalam tulisan
"Langkah-langkah awal untuk membangun kembali Daulah Islam Rasulullah di
abad mellennium yang modern" yang dipublisir pada tanggal 9 April 1999.

Jadi dalam rangka usaha membangun kembali Daulah Islam Rasulullah dengan
Undang Undang Madinah-nya adalah bukan dengan cara revolusi atau cara
evolusi melainkan dengan cara Rasulullah yaitu suatu cara yang dimulai
dengan jalan diam-diam untuk membina aqidah, tauhid, akhlak, hukum,
sejarah Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, surga, neraka, sifat-sifat manusia,
golongan-golongan manusia, kejahatan syaitan, kemuliaan malaikat dan
ilmu pengetahuan terhadap diri, istri, keluarga, kawan, tetangga.
Kemudian dilanjutkan dengan berpaling dari orang-orang yang menentang
Islam tanpa kompromi untuk membangun jamaah Muslim yang terdiri dari
berbagai golongan, organisasi, partai, suku, masyarakat  dengan menunjuk
pemimpin dari setiap golongan, suku, masyarakat yang telah terlibat
dalam jamaah Muslim untuk memimpin golongan, organisasi, partai, suku,
masyarakatnya. Baru setelah kuat dan telah sampai saatnya, maka seluruh
golongan, organisasi, partai, suku, masyarakat yang tergabung dalam
jamaah Muslim melakukan hijrah, yaitu melahirkan ikrar bersama untuk
mengadakan perjanjian pertahanan bersama dalam rangka membangun kembali
Daulah Islam Rasulullah dengan Undang Undang Madinahnya. Dimana apabila
telah lahir kembali Daulah Islam Rasulullah baru mengadakan pengangkatan
Khalifah untuk memimpin Daulah Islam Rasulullah dan diteruskan dengan
mengisi segala perlengkapan dan kebutuhan serta perencanaan yang
dibutuhkan untuk menjalankan Daulah Islam Rasulullah sesuai dengan apa
yang telah dicontohkan Rasulullah dan diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin
dengan sistem khilafahnya (Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin
Khattab, Khalifah Usman bin Affan, Khalifah Ali bin Abi Thalib)(11 H-40
H, 632 M-661 M).

Nah sekarang, kewajiban bagi setiap Muslim adalah melaksanakan panggilan
dakhwah secara diam-diam terhadap diri, istri, anak, keluarga, kawan,
tetangga tetapi dalam waktu yang bersamaan secara terang-terangan dan
terbuka tanpa mengenal kompromi untuk berpaling dari ideologi komunisme,
sosialisme, kapitalisme, pancasila, humanisme, sekularisme, demokratisme
dan ideologi-ideologi lainnya.

Dimana cara berpaling dari ideologi komunisme, sosialisme, kapitalisme,
pancasila, humanisme, sekularisme, demokratisme dan ideologi-ideologi
lainnya adalah dengan cara tidak melibatkan diri kedalam kelompok,
organisasi, partai, masyarakat yang memakai dasar kehidupan dan
perjuangannya kepada ideologi-ideologi tersebut.

Disamping berpaling dari ideologi-ideologi tersebut, setiap Muslim harus
berusaha membuka dialog terbuka dengan para pimpinan organisasi,
kelompok, partai, masyarakat yang telah hanyut dalam lautan
ideologi-ideologi tersebut untuk diajak kembali kepada aqidah Islam dan
jamaah Muslim. Misalnya adakan dialog terbuka dengan para pimpinan
partai-partai politik yang mendasarkan perjuangan partainya kepada
pancasila atau ideologi lainnya, padahal ia adalah seorang Muslim.
Karena Islam tidak mengajarkan pemeluknya untuk menjadi pancasilais,
komunis, atheis, sekularis, humanis dan penganut ideologi lainnya.

Tentu saja, usaha ini memerlukan jangka waktu yang panjang. Dimana usaha
seperti yang dicontohkan Rasulullah inilah yang harus kita ikuti dan
terapkan dalam rangka membangun kembali Daulah islam Rasulullah dengan
Undang Undang Madinah-nya.

Nah, karena rencana pemilu 1999 yang akan datang ini adalah bukan hasil
dari perjanjian bersama untuk melahirkan pakta pertahanan bersama dari
jamaah Muslim diatas, tetapi hasil dari keputusan bersama kelompok,
partai, penguasa Daulah Pancasila dengan UUD'45-nya yang sekuler, maka
pemilu 1999 adalah bukan yang dicontohkan oleh Rasulullah. Karena itulah
saya mengatakan bahwa Pemilu 1999 ini tidak ada hubungannya dengan
Daulah Islam Rasulullah dengan Undang Undang Madinah-nya. Karena pemilu
1999 ini adalah untuk Daulah Pancasila dengan UUD'45-nya yang sekuler.

Inilah jawaban saya yang singkat untuk saudara S. Abdurrahman M.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

-----

Sat, 10 Apr 1999 13:30:01 +0700

S. Abdurrahman. M menulis:

Re: SEORANG PENGANUT KRISTEN BERTANYA SIAPA YANG AKAN MENJADI
KHALIFAH DAN DARI PARTAI MANA?. (Ahmad Sudirman
Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA)

Ass wr wb,

Menarik sekali 'dialog' antara sdr Ahmad dgn sdr Santi, sebagaimana yg
dikhawatirkan oleh sdr Santi bahwa ide sdr Ahmad yg brilian dan
spektakuler ini,jangan2 hanya merupakan suatu , wacana ilmiah saja, yg
pada akhirnya hanyalah utopia.

Saya ingin sekali komentar khususnya dari sdr Ahmad, atas statementnya
"bahwa, Pemilu 1999,  yad sama sekali tidak ada hubungannya dgn ide
Daulah Islam Rasulullah (DIR)".

Kalau demikian halnya, lalu bagaimana caranya mensosialisasikan ide DIR
itu?. Kita tahu bahwa bentuk negara kita adalah Kesatuan RI dan sejak
merdeka 'pola pemerintahannya tetap tidak ada perubahan apapun', bahkan
menurut hemat saya nanti setelah pemilu pun juga akan sama saja, apalagi
sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa kita ini telah 'dibelenggu' oleh
kekuatan2 barat yg notabene non muslim dan sangat pasti tidak akan rela
RI ini berubah menjadi negara DIR.

Berdasarkan fakta tsb apakah ada cara lain untuk melaksanakan DIR selain
'Revolusi', misalnya seperti revolusinya Imam khomaini terhadap tiran
dinasti Pahlevi. Kalau arahnya kira2 seperti itu pertanyaan berikutnya.
Apakah bangsa kita ini sudah cukup mempunyai 'nyali' untuk melakukan hal
itu, karena salah satu syaratnya menurut hemat saya adalah Iman dan
Taqwanya kepada Al khalik (kalau mau di sensus barangkali rakyat
indonesia yg 190 juta muslim as per KTP, Insya Allah hanya berkisar 10 %
yg benar2 commited terhadap ke Islamannya.

Nah kalau sinyalemen ini benar, maka bagaimana DIR itu dapat
direalisasikan di Indonesia.(mengenai kwalitas ke Imanan barangkali
dapat terefleksikan dgn kasus yg baru saja terjadi seperti di kupang dan
ambon,dimana ummat Islam dibantai dan 'kekuatan-kekuatan islam'yg ada di
Indonesia sama sekali 'Mampet' alias hanya bereaksi seadanya).

Barangkali tidaklah terlalu berlebihan kekuatiran sdr Santi tsb, namun
saya melihatnya dari sudut pandang yg berbeda.Insya Allah saya telah
salah menduga AMIN. Terimakasih.

Wassallam wr wb

SAM
-----

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Apr 1999 jam 03:41:35 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke