---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Sobron Aidit: PELURUSAN SEJARAH Mengapa sejarah harus diluruskan? Karena sejarah yang ada dan yang diajarkan selama ini, selalu bengkok dan bertekuk-tekuk, dibikin demikian rupa secara semaunya. Misalnya saja tadinya dikatakan bahwa Bung Karno mau kudeta, atau PKI dan Gerwani mengadakan pesta "harum-bunga" ketika pembunuhan 7 jenderal itu di lubang-buaya. Bahwa bagian kemaluan para jenderal itu dipotong dan disayat- sayat dengan kejamnya. Ternyata semua itu bohong, dan omong kosong. Semua itu hanyalah untuk memojokkan PKI dan orang-orang demokratis lainnya. Katanya Suharto itu panglima yang paling berjasa dan nomor wahid dalam menumpas Gerakan 3O Sept/PKI ini, padahal dalam sejarah yang terselimut, yang akan kita harapkan agar dibuka nanti, ternyata Suharto sudah tahu dan sudah menerima penjelasan dan keterangan dari Kolonel Latief yang melapor sebelumnya. Ternyata Suharto hanya diam saja. Rupanya Suharto sangat berkepentingan agar jenderal dan atasannya yang menjadi saingan dan batu-penghalang bagi dirinya untuk tampil ke depan, mati dan tewas melalui tangan lain, tidak langsung dari tangannya sendiri. Maka biarlah tewas Jenderal Yani, asal dirinya bisa tampil sebagai orang pertama di ABRI, dan lalu orang pertama di RI! Dan terlaksana dengan mulus. Masa-masa baru saja Suharto duduk sebagai orang pertama ABRI dan RI, sangat banyak hal-hal yang dipalsukan dan isinya bohong. Ada tiga suratkabar yang semuanya dikuasai tentara yang setiap harinya hanya menyebarkan kebencian dan kebohongan, fitnah dan sangat menyudutkan PKI dan kaum demokratis lainnya, yaitu ANGKATAN BERSENJATA, BERITA YUDHA dan API PANCASILA. Sudah itu semua suratkabar mengutip dan turut menyebarkan kebohongan tersebut, dan lalu merata. Gerombolan tangan-kanan Hitler dengan Goebbels dan Goering, mengatakan, "kalau kebohongan itu setiap hari di-ulang-ulang, dan terus menerus, maka kebohongan itu lalu bisa menjadi kebenaran", dan banyaklah orang percaya bahwa Hitler itu jujur dengan ekspansi kekuasaannya yang fasistis. Dituduhnya orang lain, lawan politiknya yang membakar Gedung Reichstag - Gedung Parlemen, sebagai lambang demokrasi itu. Ternyata yang membakar itu adalah pihak dia sendiri! Inilah bengkoknya sejarah di zaman Hitler ketika itu. Baru saja ada kata-kata dan himbauan yang bermaksud meluruskan sejarah, di mana orang-orang yang berperanan aktif ketika itu agar bicara dengan jujur dan seadanya, sudah segera Panglima ABRI menukas, bahwa memoir/penulisan sejarah-pribadi janganlah dianggap bahwa itu adalah pelurusan sejarah. Belum apa-apa sudah takut dan mengelak, belum mulai sudah waswas dan cemas! Mengapa? Ini artinya memang benar bahwa pelurusan sejarah harus dituntaskan, agar borok-borok kekuasaan penguasa selama ini benar-benar terbongkar! Kata Profesor Wertheim (alm.), "ada missing link", rantai yang terputus dalam penulisan dan keterangan sejarah yang dikeluarkan penguasa selama ini. Ada pemalsuan, ada kebohongan, dan itu harus dibongkar sampai ke akar-akarnya! Takut akan kebenaran, takut akan pelurusan, itulah tanda memang benar-benar pernah terjadi orang membengkokkan sejarah, pernah menekuk-nekuk, pernah menyuburkan kebohongan. Orang-orang bertipe begini biasanya sangat takut akan yang namanya "revolusi", Mengapa? Sebab hanya revolusi itulah yang akan menumpas kekuasaan dan dirinya. Dengan hanya reformasi biasa saja, tidak akan mungkin bisa melenyapkan semua sendi-sendi kekuasaan dan pengaruhnya. Ini sudah terbukti nyata. Suharto tidak mungkin bisa diadili dan masuk pengadilan. Tidak mungkin! Mengapa? Semua aparat yang akan menghadapkannya itu, adalah anak-buahnya, adalah kliknya, adalah anak-didik dan konconya sendiri yang samasekali tidak berubah dari induk ikutannya. Jangan lupa, setiap kemerdekaan, bangunnya suatu bangsa dan negara, selalu dimulai dengan adanya revolusi! Tiongkok sekarang yang jaya perkasa itu, adanya dan tegaknya karena adanya revolusi agraria Tiongkok. Juga yang dulu Uni Sovyet kini Federasi Russia itu, tidak mungkin akan eksis kalau tidak dimulai dengan adanya Revolusi Oktober, juga dengan Amerika Serikat dan Perancis, tanpa Revolusi Perancis takkan ada revolusi yang menyeluruh di daratan Eropa! Hanya musuh revolusi itu sendiri yang takut akan adanya dan meletusnya sebuah revolusi. Dalam sebuah revolusi, rakyat jelata, miskin dan hina menderita, hanya akan kehilangan belenggunya selama ini. Belenggu apa? Belenggu ketakutan, belenggu kemiskinan, belenggu penderitaan hidupnya,- itulah yang akan hilang. Sebab mereka memang tak punya apa-apa lagi. Tanpa pelurusan sejarah, kita akan hanya begini-begini saja. Sejak lengser keprabonnya sang pandito, tak ada apa-apa yang sudah lurus! Dia tetap saja ada di tempatnya, harta-benda rakyat dan negara ya tetap saja tak terkembalikan, dan kerusuhan tambah menjadi-jadi, dan dia dengan kaum kerabatnya sibuk membagikan uang-dana persiapan pengacauan pemilu agar gagal dan tak mencapai target-umum. Dan perekonomian, keuangan, dan bank semakin kacau. Semakin banyak yang harus dilikwidasi karena kemacetan bayar hutang. Bukan main banyak dan bertimbunnya kesusahan dan kesulitan yang kita alami bersama, terutama bagi rakyat kecil. Dan semua ini karena kekuasaan-tunggalnya yang sangat terfokus pada satu tangan, tangan dirinya sendiri, dan kaum keluarganya, temannya, konconya yang hingga saat ini! Apakah kita masih tetap membiarkan bengkoknya, tertekuknya dan penuh kebohongannya sejarah bangsa dan negara selama ini? Lalu apa sebenarnya yang kita dapatkan dari reformasi ini? Hanya sekedar "kebebasan pers" saja, hanya sekedar orang sudah berani ngomong yang dulu tak pernah dan takut kita omongkan? Apa hanya itu saja? Betapa sedikitnya yang kita dapat dan "menangkan" kalau hanya sekedar itu saja! Bukankah dia belum tumbang sampai ke akar-akarnya? Bukankah dia masih cukup pengaruhnya dalam percaturan bangsa dan negara-kekuasaan sekarang ini? Lalu bagaimana kita harus memperlakukan reformasi yang cukup banyak korban sudah, terutama di kalangan mahasiswa dan pemuda kita? Tak bisa lain, meneruskan reformasi sejati dan total sampai ke akar-akarnya. Artinya, antara lain sangat diperlukan pelurusan sejarah ini, agar kita semua tahu, bahwa selama ini ternyata kita ini juga dicekoki dengan banyak kebohongan sejarah bangsa dan rakyat kita yang sebenarnya. Paris 12 April 1999 ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 17 Apr 1999 jam 01:51:33 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
