----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1

>>> Error in line 28 of INDONEWS.MAILTPL: unknown formatting command <<<
 -> . <-


Bom meledak di Istiqlal, Gus Dur berang dan menganjurkan
" Pelaku peledakan mesti dihukum mati ".Dan Amien Rais
juga marah dan melemparkan statement " Inilah puncak
penindasan terhadap umat Islam setelah pembantaian di
Ambon, Sambas dan puncaknya adalah peledakan mesjid Istiqlal.."

Anda yang kritis ketika mendengarkan pernyataan tokoh gus Dur
ini pasti bertanya " Apakah hukuman mati itu selalu identik dengan
Islam? " terhadap Amien Rais anda juga mungkin bertanya " Apakah
meledakan mesjid lebih kejam dari membunuh ribuan manusia?"
dan saya beserta anda barangkali pantas bertanya " mengapa
mereka begitu yakin bahwa yang meledakan mesjid raya itu
adalah orang non Islam ? "

Saya harus bilang sejarah manusia itu banyak di pengaruhi
oleh tindakan tindakan goblok, baik dari tokoh pemimpin yang
tidak berotak maupun masyarakat yang gampang terpedaya
propaganda omong kosong.

Banyak peperangan besar dalam sejarah timbul lantaran
hal hal sepele, kecemburuan terhadap etnis lain, rakus
terhadap ladang minyak negeri tetangga, merasa ras nya
yang paling superior,sampai kalah main bola ( seperti di Amerika latin)

Jadi bahwa meletusnya peristiwa Sambas yang konon lantaran
preman Madura yang over acting ( saya mau tanya Amien Rais
kenapa orang Islam yang dirugikan pada peristiwa ini? memang
nya para melayu dan dayak itu bukan Islam atau musuh Islam?)
atau kerusuhan di Ambon  yang meledak setelah isu seorang bugis
juga petentengan( Saya kira korban kerusuhan adalah umat Kristen
dan Islam ) adalah menunjukan betapa sebuah peristiwa biadab bisa
timbul dari hal hal kecil .

Seperti mahasiswa Islam di Ujung Pandang yang terkenal bego
( ketika mahasiswa di Jakarta, Bandung, Surabaya demo menentang
Suharto, mahasiswa ini malah demo menentang Amerika dan membakar
uang dollaran , sebuah tindakan orang goblok ) mereka mereka
yang over acting melakukan razia ktp mencari orang Kristen untuk
digebuki ( oh ya musuh Islam di Indonesia itukan cuma  pribumi
kristen dan cina ) adalah perbuatan yang menghina akal sehat.
Waktu membaca berita itu saya teringat tingkah laku serdadu nazi
yang razia orang yahudi pada awal munculnya teori " Final Solutions"
yang akan membantai jutaan Yahudi dan orang orang minoritas
di Europa sebelum perang dunia pertama.

Sejarah banyak dipenuhi tindakan tindakan dungu dan goblok.
Orang Islam yang selalu bangga dengan sejarah keemasannya
yang telah menjadi fosil , tidak pernah berhenti untuk melanggeng
kan semangat " Jihad fisabillilah " seolah sebuah perang terhadap
orang diluar Islam adalah perang yang di ridhoi Allah. Pembunuhan
terhadap orang diluar Islam adalah halal dan mendapat ganjaran surga.
Semangat ini muncul kembali lantaran orang Islam banyak salah
dengar ceramah para ustad yang tidak tahu sejarah, atau terlalu
fanatis pada perjuangan Rasulullah, dan fanatis terhadap emosi
semangat perang salib pada abad pertengahan yang banyak
menghipnotis kaum santri dengan cerita cerita heroik orang Arab
terhadap serdadu kristen di Eropa.

Perang salib sendiri terjadi lantaran hal hal kecil, ketika Islam ( Arab )
berkuasa di Andalusia, orang minoritas memang di hargai dan diberi
kebebasan beribadat. Tapi keharmonisan ini runtuh pada tahun 850
ketika seorang Padri bernama Perfectus berjalan jalan di Cordoba
di ganggu oleh segerombolan preman Arab untuk mengaku " mana
yang lebih hebat Yessus atau Muhammad? "

Awalnya sang padri tetap tabah, tidak mau menjawab pertanyaan jebakan
yang sensitif itu, tapi setelah digebuki, dia akhirnya malah mengeluarkan
pernyataan yang mengina Muhammad.

Seperti Gus Dur yang menganjurkan hukuman mati . penghinaan terhadap
Muhammad dalam ajaran Islam juga hukumannya adalah mati.
Walaupun pada pengadilan pertama Qadi di Cordoba melepaskan
sang Padri lantaran dia dianggap orang ter aniaya, Perfectus telah
menjadi lambang "pemberontakan terhadap Islam" bagi sekelompok
kristen radikal justru akhirnya hobby mengganyang nama baik Muhammad.
Di pengadilan kedua inilah dia benar benar dihukum mati, dan kematian
yang di cari perfectus menjadi percikan api kecil yang bernama " Martyrdom"
bagi umat nasrani, sehingga dalam beberapa bulan timbul suatu gerakan jihad
"menghina Muhammad " untuk mencari kematian yang diberkahi Tuhan,

50 manusia nasrani mati terpenggal atau digantung dimusim itu juga.
Dan api inilah yang memercik menjadi kobaran api baru bernama perang
agama atau perang salib diseluruh tanah Eropa.

Kedunguan antara dua pemeluk agama ini memang bukan cerita baru.
Dari rombongan kristen idiot yang minta mati, beserta Qadi bego
yang mengkabulkan permintaan orang orang ini. dua duanya punya
kesalahan fatal. Yaitu fanatisme terhadap simbol simbol agama.
Yang pertama menganggap mati ditangan orang muslim adalah
hal yang suci, yang kedua, jaman itu Islam tidak punya undang
undang hukum " selain hukuman mati "terhadap penghina
Nabi dan lambang lambang Islam.

Emosi dungu ini secara tololnya juga dimiliki oleh seorang saint
bernama Francis of Assisi, yang pernah menyebrang  di delta
sungai nil menuju kamp  serdadu muslim pada perang salib dulu
untuk mengkristenkan mereka.Ketika sang jendral menolak secara
baik baik, Sang Assisi malah mengirim  rombongan martyrdom
ke Spain dan Afrika untuk "menghina dan mati sahid" di tempat
tempat itu. Ketika 5 dari rombongan itu benar benar mati digantung,
Konon sang Assisi malah tersenyum mendengarkan berita itu.
" Kini aku punya 5 orang martir" katanya senang.

Dan kedunguan ini terus menerus berlangsung sampai sekarang.
Bedanya adalah pada abad pertengahan  pencipta jihad adalah
orang kristen idiot seperti bishop of Cordova yang meng amini
semangat martyrdom, atau para orientalis picik seperti Paul Alvaro
yang menulis bahwa para martir ini adalah " Soldierl of God "
atau Hompry Pridaux yang banyak menyerang Islam tanpa mengenal
ajaran  itu sama sekali. Walaupun ada juga seorang orientalis yang
lebih rasional bernama John Wycliffe yang menulis bahwa Islam
seperti katolik " adalah agama yang serakah, penuh kekerasan dan
angkuh " .

Salah paham ini makin menjadi jadi ketika orang Islam menganggap
bahwa semua orang barat itu identik dengan nasrani, semua orientaliis
pasti anti Islam. Padahal banyak dari mereka seperti Johan Jakob
Reiske,Edward Gibbon bahkan Francois Voltaire adalah pemikir yang
selalu membela image Islam. Yang terakhir ini sendiri bahkan memuji
Muhammad sebagai " political  thinker yang brilian,Islam adalah
agama yang rasional dan penuh toleransi dengan agama lainnya "

Tapi terlepas dari itu semua, menurut saya bangkitnya peradaban
modern di Eropa adalah karena  bangkitnya kesadaran mereka bahwa
melepaskan atribut agama dalam kehidupan bernegara adalah sebuah
cara terbaik melepaskan diri dari  abad kegelapan.

Sekularisme yang " merumahkan agama " inilah yang mematikan
semangat Martyrdom atau jihad salah kaprah untuk memerangi Islam.

Jadi mengapa negara nagara Islam itu begitu terlantar ketinggalan
peradaban , kemajuan tehnologi dan demokrasi adalah lantaran
umat Islam masih saja sibuk berkubangan memuja agamanya sendiri,
Ketika martyrdom orang nasrani cuma tinggal dipakai oleh preman
bayaran seperti di Ambon dan petualang radikal di Serbia,
di mayoritas negara negara Islam, semangat jihad justru masih saja
melekat, kecurigaan terhadap kristen dan barat masih saja hinggap.

Ketika barat sibuk memikirkan tehnologi, orang Islam sibuk
mengkais kais tata cara beribadah, ketika barat sibuk dengan
riset biologi dan medical research, orang Islam sibuk dengan
terjemahan terjemahan Al Quran dan hadis. Ketika Amerika
mendaratkan manusia ke bulan, Orang Islam masih sibuk
dengan kebanggaan sejarah masa lalu sambil bercerita cerita
tentang perjuangan nabi ,tentang surga dan neraka dan
tanpa disadari terus memelihara semangat  jihad mempertahan
kan Islam ( dari siapa ? ) dari orang orang Yahudi dan nasrani
yang mereka identikan dengan Amerika dan Barat.

Itulah sebabnya Islam begitu ketinggalan, karena orang Islam
tidak pandai mengkritik diri sendiri, kemampuan mereka yang
paling handal cuma menyalahkan orang lain. Menghujat dan
merayakan hukuman mati. Mempestakan jihad dan melolong
lolong mencecar Yahudi dan Nasrani.

Islam adalah agama yang tertutup . Tidak ada sense of otokritik.
Tidak mau belajar dari peradaban dan agama orang lain.

Ketika barat melesat maju lantaran mereka mau belajar dari  timur dan
Islam untuk memudian memisahkan agama dari negara, meninggali
budaya inkusisi dan menjadi sekular. Negara negara Islam
malah menutup diri dari peradaban maju dan melakukan
budaya inkusisi terhadap pada penghina Islam beserta simbol simbol
abstraknya.

Padahal dari 4 penulis biography Muhammad paling awal setelah
Muhammad meninggal sekian puluh tahun.

Abu Jafar At Tabarani malah menuliskan bahwa " Muhamamad
banyak melakukan kesalahan " sebuah penulis yang mencoba
untuk menjadi moderat. Tapi tentu saja  seperti layaknya tradisi
orang orang gurun pemuja berhala, yang terpenting dari mereka
adalah pantangan untuk mengkritik berhala.Dan sang Tabarnipun
tenggelam..

Kembali ke Indonesia,Mesjid Itiqlal itu adalah berhalanya gus Dur
Amien Rais dan mahasiswa Islam yang bego di ujung pandang sana.

Walaupun perusakan mesjid adalah hal yang kurang ajar,
dan pelakunya mesti dihukum. Tapi sebuah mesjid bukanlah
Tuhan, mesjid cuma simbol dan tempat manusia satu iman
berkumpul dan melakukan upacara ritual.

Perusakan mesjid bukanlah "puncak penindasan" seperti
kata si kate Rais, mesjid tidak lebih berharga dari nyawa
satu manusia sekalipun.

Mestinya kita belajar dari orang Yahudi yang mengharamkan
hukuman mati dalam agamanya. Dalam ajaran mereka merusakan
seluruh ratusan Synanoge sekalipun, hukuman bagi perusaknya
tidaklah dengan hukuman mati, karena menurut mereka
setelah Tuhan yang mesti di hargai dan dihormati di dunia ini adalah
nyawa manusia...

Dalam sejarah Israel modern, satu satunya manusia
yang pernah dihukum mati pengadilan cuma Adolf Eichmann,
dia adalah master of Death nya Adolf Hitler yang bertanggung
jawab membunuh sekian juta Yahudi ,Rusia, Poland, Gipsy
kaum homosex,dan minoritas lainnya..

Tragisnya kita orang Islam masih tidak cukup pintar
untuk membedakan antara Tuhan dan Agama, antara
Allah dan tempat ibadah, antara nyawa mahluk hidup
dan benda mati yang bernama mesjid dan simbol simbol agama.

Dalam ajaran menghormati nyawa manusia
barangkali kita mesti belajar dari agama orang Yahudi...

Barangkali benar mereka adalah " Bangsa yang
terpilih " karena faktanya mereka jelas lebih cerdas dan
mau terus menerus belajar dibandingkan kita kita..

Barangkali kita mestinya belajar dari Nasrani, Barat dan Yahudi
Belajar soal demokrasi, HAM dan cara bernegara yang ideal,
Interaksi dan menekuni pemikiran orang lain adalah ciri ciri
peradaban cerdas, seperti orang Yahudi yang banyak mem
pelajari pemikiran Paul Tillich, seorang Protestant Theologian.
Atau orang Kristen yang  terpesona dengan pemikiran Martin
Buber, seorang Jewish Philosopher, bahkan seorang great
stateman and great Hindu Philosopher macam Sarvepalli
Rudhakhrisnan yang lulus dari Christian College di Madras,
banyak memperkaya pemikiran modern di timur dan barat
lantaran  mempelajari konsep agama yang bukan agamanya
sendiri..

Orang Islam mana?



Hasan Basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Apr 1999 jam 18:33:36 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke