----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Anjing Menggonggong . . .
Kafilah Lalu.
4 Mei, 1999
Oleh: Ibrahim Isa

I. Apa sungguhan kalian mau reformasi?  Pertanyaan ini betul-betul harus
diajukan kepada sementara  tokoh tentara dan kenegaraan. . Paling tidak,
kepada  A.H. Nasuiton yang sebelum jatuhnya presiden Suharto,  oleh
pemerintah Orba dinobatkan menjadi Jendral Besar Kehormatan; kepada Jendral
Wiranto, Menhankam dan Pangab dalam kabinet Habibie; dan kepada  presiden
B.J. Habibie. Secara terpisah, masing-masing tokoh tentara dan negara itu,
dalam satu paduan suara menyanyikan lagu lama 'bahaya PKI, bahaya
komunisme.  Apakah ini pertanda kehendak mengalihkankan arus perkembangan
gerakan reformasi kembali ke era Orba yang otoriter dan militeristik?

Jika hendak ditelusuri lebih dalam, maka masalah terpenting dari gerakan
reformasi, pertama-tama dan terutama ialah direformasinya cara dan pola
berfikir serta mentalitas lama yang menjadi ideologi dan kultur  Orba. Yang
paling fundamentil dari ideologi dan kultur Orba, ialah pengekangan dan
pembatasan berfikir dengan bebas. Pengekangan dan pembatasan terhdap
kebebasan berfiki,r sama artinya dengan tidak adanya kebebasan berfikir..
Yang digunakan untuk mengekang dan membatasi orang berfikir ialah yang
dikatakan prinsip tunggal  "Pancasila". Juga  dikatakan sebagai   ideologi
negara menurut interpretasi, rekayasa  dan godokan pemerintah Orba. Orba
menghendaki agar warganegara Indonesia, manusia Indonesia,  yang mempunyai
potensi untuk menggunakan fikirannya sendiri dengan baik dalam
menganalisis, tidak punya kebebasan untuk memahami dan mengertikan sendiri
isi dan makna dari Pancasila. Yaitu,  seperti yang diuraikan oleh
 penggalinya sendiri,  Bung Karno, dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni
1945. Pancasila yang menurut penggalinya adalah suatu falsafah yang
seyogianya merupakan wadah dari pemikiran yang hidup di kalangan rakyat
Indonesia, untuk diabdikan pada pencapaian kemerdekaan, persatuan dan
kemakmuran bagi Indonesia, dijadikan sebagai belenggu terhadap pemikiran
yang bebas dan kreatif.

Alat lainnya yang digunakan oleh Orba untuk mengekang, membatasi dan
memandulkan kemampuan berfikir bebas dan kreatif dari rakyat, ialah 'pedang
bahaya PKI, bahaya Komunis" yang setiap kali diayunkan di atas kepala
rakyat untuk memaksa orang meninggalkan fikiran yahg kritis dan analisis.
Manusia Indonesia dibikin menjadi budak feodal , yang hanya bisa dan boleh
manut. Menjadi orang-orang yang keatas menjilat dan ke bawah menindas.
dalam arti kata yang sesungguhnya.

Adalah menjadi jelas bahwa tujuan dari gerakan reformasi dan demokrasi
dimaksudkan  untuk mendobrak dan meninggalkan cara berfikir budak ciptaan
rezim Orba. Bersamaan dengan itu gerakan refomrasi bertujuan menciptakan
dan membina serta mendidikkan langgam berfikir yang bebas, kritis dan
analitis.

Pernyataan  Jendral Nasuiton, Jendral Wiranto dan Habibie yang baru-baru
ini kembali mengayunkan pedang  bahaya PKI  dsb. hanya bisa dilihat dan
difahami dalam konteks seperti yang diuraikan diatas. Mereka bukan saja
ingin mempertahankan kekuasaan Orba yang KKN, tetapi lebih-lebih lagi,
ingin mempertahankan langgam  befikir budak feodal yang mandul itu. Tidak
heran bahwa yang paling mereka takuti sesungguhnya adalah reformasi di
bidang langgam berfikir yang analisis.
II.) Tujuan dari  Paduan Suara Nyanyi Lama " Bahaya PKI".

Sebelum jatuhnya Suharto, Nassution termasuk kelompok "Petisi 50" yang
kritis dan agak vokal; dan pernah 'digencet' dan  'ditangkal' oleh Orba.
Tetapi, sejak bersama Suharto, oleh pemerintah Orba diangkat menjadi
'jendral besar kehormatan', suara kritisnya mulai meredup. Nasution tidak
pernah secara tegas, jelas dan terus terang mengemukakan bagaimana
pandangannya yang  sesungguhnya mengenai 'Dwifungsi Abri', yang ia ikut
ciptakan itu. Ia juga tidak pernah memberikan kejelasan yang
jujur,bagaimana sesungguhnya peristiwa '17 Oktober 1952' . Waktu itu
 tentara yang berada dibawah wewenangnnya mengarahkan moncong-moncong
 meriamnya ke Istana Presiden Sukarno. Lalu diorganisasi 'aksi massa' yang
 mengobrak-abrik gedung DPR dengan tuntutan agar presiden Sukarno
 membubarkan parlemen.. Orang juga masih ingat  bahwa presiden Sukarno
kemudian telah mengampuni 'pemberontakan'   Nasution itu.

Selanjutnya , apa peranan Nasution ketika angkatan darat  di bawah jendral
Suharto melakukan 'creeping coup d'etat ' terhadap presiden Sukarno, serta
pembantaian yang berlangsung  dalam tahun-tahun 1965-1966. Dalam
kedudukannya sebagai ketua MPR  yang sudah direkayasa oleh Tentara,
Nasution ambil bagian dalam  pencopotan Presiden Sukarno. Perlu
dipertanyakan,  apa peranan dan 'jasa' Nasution sehubungan dengan  tegak
berdiri dan merajalelanya Orba selama 32 tahun. Ini perlu dijernihkan,
karena dalam arti yang lebih luas dan lebih dalam, Orba adalah suatu
bencana terbesar bagi bangsa kita, yang  menyebabkan Indonesia terjerembab
dalam krisis terbesar yang dialaminya di bidang moneter, ekonom, politik,
kebudayaan dan moral. Bagaimana peranan jendral besar Nasution sehubungan
dengan  dicampakkan dan diinjak-injaknya prinsip dan  nilai-nilai hukum
kenegaraan yang demokratis, serta moral, dan dibina serta tumbuh suburnya
 sisitim dan budaya KKN  oleh pemerintahan Orba?

Pertanggungan jawab dari seorang mantan KSAD, yang juga mantan Menteri
Pertahanan, mantan pemegang kekuasaan sehari-hari dari SOB sejak
diberlakukannya SOB pada  zaman Orla, mantan ketua MPR, seperti yang
dijabat oleh jendral besar Nasution selama bertahun-tahun, adalah cukup
besar.  Dan dari Nasution sendiri yang sudah menjadi jendral besar,
seyogianya ia mawas diri, memeriksa diri sendiri, berusaha mengintrospeksi
serta mengkoreksi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan yang telah dibuatnya
di waktu uang lalu. Soalnya, ia belum pernah memberikan
pertanggunganjawabnya, secara formal maupun pribadi.

 Nasution tidak tampil sebagai orang yang memiliki tanggung jawab seperti
yang diharapkan. Ia tiba-tiba muncul  lagi, melalui sekretarisnya, Bakrie
AG Tianlean , (26.4.99), untuk memperingatkan segenap komponen bangsa,
tentang 'upaya balas dendam dari PKI.' Nasution memfitnah inisiatif dan
usaha di kalangan masyarakat  untuk mengungkapkan fakta-fakta sejarah kita,
sebagai 'upaya untuk memutarbalikkan sejarah'. Parahnya, Nasution
memastikan bahwa pengadilan Mahmilub Orba terhadap peristiwa G30S, sebagai
sesuatu hal yang "telah dibuktikan'. Sedangkan masih jelas dalam ingatan
orang, bahwa sidang Mahmilub yang mengadili orang-orang dan tokoh-tokoh
yang dituduh terlibat dalam G30S, adalah suatu pengadilan rekayasa yang
tidak independen dan berat sebelah; suatu pengadilan yang mengabdi penguasa
dimana fihak yang terduduh tidak bisa leluasa memperoleh pembela yang bebas
dan leluasa. Belum lagi, yang jumlahnya ratusan ribu, yang samasekali tanpa
proses pemeriksaan dan pengadilan apapun telah dibantai tanpa diketahui
dimana kuburannya, dan puluhan ribu lagi yang disekap dalam kamp-kamp pe
mbuangan seperti Buru. Apa kata Nasution mengenai hal-hal tsb?  Menurut
Nasution mengenai hal-hal tsb supaya 'kita saling memaafkan dan mengubur
tragedi bangsa'.

III). Pemicu yang menyebabkan  tersentaknya Nasution, ialah karena
merebaknya usaha dari tokoh-tokoh AURI , seperti mantan KSAU Laksamana Omar
Dhani, mantan KSAU Laksamana Mulyono Herlambang, untuk meneliti, memeriksa
dan menstudi kembali dengan penuh tanggung jawab mengenai hal-hal yang
terjadi sekitar 'Gerakan 30 September' 34 tahun y.l. Sang Jendral  cemas
 karena adanya usaha dari mantan kolonel Latief  mengenai peristiwa yang
sama. Nasution juga terperanjat karena didirikannya Yayasan Penelitian
Korban Pembunuhan 1965-1966, yang diketuai oleh Sulami, dan yang bermaksud
untuk menuntut jendral Suharto. Nasution juga menjadi bingung karena
keluarga mantan Menteri AD Jendral Achmad Yani mulai mengungkap sikap
Jendral Suharto terhadap Jendral Yani; dan bahwa tewasnya Yani adalah
tanggungjawab Suharto.

Usaha-usaha penelitian dan studi seperti yang dilakukan mengenai masalah
tragedi nasional 1965-1966 itu, sebetulnya sudah lama mulai dilakukan oleh
berbagai fihak  di dalam negeri maupun masyarakat internasional. Khususnya
di kalangan pakar ilmu politik dan sosial; di kalangan politis, para
aktivis HAM dan pers.  Sudah sejak terjadinya pembantaian masal yang
dilakukan ketika itu, sudah dimulai usaha untuk mencari fakta-fakta
mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi ketika kemudian ternyata,
bahwa kultur kekerasan, politik pembantaian rakyat yang tidak bersalah oleh
kekuasaan Orba itu, tidak berhenti sampai di tahun enam puluhan saja. Ia
dimulai pada tahun-tahun 1965-1966, tapi kemudian  terus berlangsung,
sepanjang masa kekuasaan Orba. Kita kemudian dikejutkan lagi oleh
 pembunuhan Tanjung Priok, pembunuhan Lampung, pembunuhan Kedung Ombo,
pembunuhan Aceh, pembunuhan Timor Timur,. pembunuhan di Irian, lalu
penculikan, pembunuhan dan pemerkosaan pada saat sekitar perjuangan rakyat
  yang meningkat untuk menyingkirkan  jendral Suharto dari kekuasaan negara
dalam bulan Mei 1998.

Lalu, apa sebenanrya yang bikin Nasution, Wiranto dan Habibie seperti
kebakaran jenggot, teriak-teriak tentang bahaya muncul kembalinya PKI?

Jujur sajalah! Siapa pula yang tidak mengetahui bahwa PKI sudah dibubarkan
puluhan tahun yang lalu. Sebagian besar pemimpin dan kader-kadernya kalau
tidak dibunuh, dan 'hilang tidak tahu rimbanya', sudah pada tua dan
sakitan. Yang masih hidup dan kemudian dilepaskan dari tahanan pulau Buru
dan tahanan-tahanan lainnya, begitu diawasi, dan keluarga mereka begitu
ketat dikenakan politik 'bersih lingkungan' sehingga praktis, kalaupun mau,
mereka tidak bisa bikin apa-apa yang dapat membayakan sedikitpun
pemerintahan Orba.

Kekuatan-kekuatan politik dan moral yang tampil menentang
kesewenang-wenangan rezim Orba, yang berada di depan,  adalah mahasiwa dan
kaum muda, serta kaum intelektuil yang berpandangan kritis, kaum buruh,
tani, rakyat kecil yang menderita, yang selama 30 tahun lebih sama sekali
tidak melihat dan tidak tahu PKI. Yang mencetuska dan  menggerakan
perjuangan reformasi dan demokrasi serta menggulingkan Suharto bukanlah
PKI. Semua orang tahu akan hal ini.

IV). Maka tibalah kita pada intisari masalahnya.
Yang ditakuti oleh Nasution, Wiranto, Habibie dan yang berpandangan serupa,
bukanlah PKI. Karena mereka sendiri tidak percaya 'dongeng bahaya PKI itu'.
Mereka hendak menggunakan pentung 'bahaya PKI' yang di waktu yang lalu
memang bisa efektif, untuk memukul usaha-usaha dari berbagai fihak di dalam
masyarakat, yang demi kejernihan dan kebenaran, hendak  mengungkapkan
fakta-fakta yang sesungguhnya. Yaitu fakta-fakta yang menyangkut sejarah
bangsa dan negara kita pada masa-masa krusial tahun-tahun 1965 dan
selanjutnya.

Penulisan dan pamahaman sejarah sesuatu bangsa, apalagi bangsa yang masih
muda seperti Indonesia, yang masih terus berjuang dan bergejolak dalam
usaha mulyanya untuk membina suatu bangsa yang bersatu dan utuh, dari
Sabang sampai ke Marauke, merupakan   masalah besar,  yang tidak bisa
diselesaikan dalam watku singkat. Hal itu memerlukan proses keterbukaan
yang panjang. Memerlukan penelitian dan studi. Memerlukan pendiskusian dan
perdebatan dengan sikap berdada lapang dan berkepala dingin, tanpa motivasi
kepentingan politik sempit perorangan maupun golongan. Teramatlah penting
agar  penulisan, pengungkapan fakta-fakta, penelitian dan penstudian
sejarah kita itu , memerlukan ikut sertanya masyarakat dan rakyat itu
sendiri. Baik yang langsung terlibat maupun yang menjadi korban, maupun
yang menjadi saksi semata.  Bukan saja kaum cendekiawan dan ilmuwan, tetapi
juga perlu ikut sertanya segenap lapisan masyarakat.

Adalah sesuatu yang absurd,  jika orang seperti Jendral Wiranto, berilusi
bahwa lembaga sejarah ABRI bisa memikul tugas penulisan sejarah itu
sendirian. Di masa lampau hanya rezim otoriter fasis seperti rezim Hitler
dan Mussolini yang hanya membolehkan lembaga sejarah ciptaannya sendiri
menulis sejarah bangsanya. Suatu proses pembodohan dan pendunguan kaum
intelektuil dan seluruh bangsa. Pendirian seperti itu bertolak dari
pandangan picik yang menganggap  hanyalah penguasa yang bisa dan boleh
berfikir untuk semua. Hanyalah penguasa yang memiliki kebenaran!
 Masyarakat hanya boleh mengiakan dan menurut saja.

Maka adalah menarik sekali ungkapan sejarawan Ong Hok Ham yang menandaskan
bahwa 'silang pendapat mengenai suatu peristiwa sejarah adakah wajar'. Ong
Hok Ham menganjurkan agar dokumen yang ada pada pemerintah mengenai masalah
tsb yang dianggap rahasia sekalipun , supaya dibuka untuk umum untuk studi
dan  penelitian. Selanjutnya supaya  para petugas militer maupun sipil yang
berurusan dengan peristiwa bersejarah G3OS diwawancarai. Ini adalah fikiran
positif dalam upaya untuk mencari dan menemukan kebenaran pada masa lampau
bangsa dan negeri kita.

Suatu usaha dan kegiatan positif dan historis, untuk  penjernihan sejarah
bangsa kita, tampak semakin mantap. Ia akan berkembang sesuai dengan
perkembangan kesadaran bangsa kita bernegara hukum, yang berperikemanusiaan
universil. Ia tampak berkembang semakin penting baik dalam skala maupun
kedalamannya.

Maka jerih usaha tokoh-tokoh dan yang sependirian dengan mereka, seperti
Jendral Nasution, Jendral Wiranto dan presiden B.J. Habibie, untuk
membendung arus itu akan sia-sia saja. Seperti Don Quichot yang
menghempaskan dirinya ke kincir angin.

Betapa arifnya  kata pepatah ninik-mamak kita "Anjing menggonggong, kafilah
lalu".

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 May 1999 jam 08:34:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke