----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Tentang berdirinya Perhimpunan INTI
(Indonesia Keturunan Tionghoa)
14 April 1999.
Ibrahim Isa.

Pada tanggal 10  April 1999, di Jakarta telah didirikan Perhimpunan INTI
(Indonesia Keturunan Tionghoa). Berbagai reaksi telah bisa kita dengar atau
baca. Ada yang menyambutnya sebagai sesuatu usaha yang positif. Ada yang
mempertanyakan perlu tidaknya organisasi seperti itu, karena khawatir
organisasi seperti itu akan berubah atau berkembang menjadi  organisasi
ekslusif dan dengan demiikian merangsang mereka-mereka yang punya niat
bertolak belakang dengan tutjuan  INTI, untuk melakukan tindakan-tindakan
negatif.  Ada yang  pendapatnya 'positif' tapi 'reserved'. Ada yang
mengambil sikap 'wait and see'.

Kesemua reaksi tsb bisa difahami dan harus dilihat sebagaimana  adanya.
Masalah keturunan Tionghoa sudah menjadi begitu gawat, tajam dan rumit.
Seolah-olah  'api dalam sekam', terkadang hanya tampak asap kecil  yang
mengepul  samar, yang hanya bisa dikenal oleh orang yang mata dan
penciumannya tajam. Kadang-kadang api itu marak berkobar, menjilat-jilat
kesana kemari, membakar di sekitarnya, kadang juga berpindah ke
tempat-tempat lain. Dan kekejaman, sadisme serta  korban yang ditimbulkan
oleh 'kebakaran' itu tidak kepalang tanggung. Kita semua mengetahui dan
menyaksikannya sendiri. Ia bukan masaalah lokal ataupun nasional semata;
sudah menjadi masalah internasional.

Bahwa terhadap 'masalah' yang demikian itu timbul berbagai reaksi
masyrakat, nasional maupun internasional, untuk mengatasi dan mencarikan
solusinya, adalah wajar-wajar saja. Itu juga menandakan bahwa hati-nurani
manusia di atas permukaan bumi ini masih cukup besar dan mendalam. Dilihat
dari segi ini, munculnya berbagai organisasi ataupun parpol yang menjadikan
isyu 'keturunan' sebagai kepedulian penting  dalam usaha pembinaan nasion
Indonesia, atau  hal  terpenting dari azas dan program kegiatannya, adalah
sesuatu yang positif.

Tentu, harus selalu diingat bahwa dalam keadaan khusus, keadaan darurat
ataupun dalam keadaan khaos, dimana timbul 'letupan' ataupun 'ledakan' yang
menggemparkan, mengenai masalah yang sedang kita bicarakan ini,  tidak
jarang, bahkan sering muncul sementara orang ataupun kelompok, yang dengan
menggunakan kesempatan itu, hendak menarik keuntungan politik, mental
ataupun materiil bagi diri atau kelompoknya sendiri.  Seringkali letupan
dan ledakan tsb ditimbulkan dan direkayasa oleh penguasa, oleh pemerintah
sendiri, untuk kepentingan politiknya.  Ini selalu harus diingat dan
dicermati serta diwaspadai, tanpa menjadikannya suatu obsesi yang menganggu
pelaksanaan suatu proyek, rencana atau progam yang baik dan berguna bagi
pembinaan nasion Indonesia yang ber'Bhineka Tunggal Eka' ini.

Pada tanggal 18 Desember 1998 y.l. saya menulis sebuah artikel berjudul
"Angin Segar dari Salatiga . .", yang menguraikan pandangan saya mengenai
masalah keturunan Tionghoa, atau suku bangsa Tionghoa dari nasion
Indonesia. Silakan jadikan masukan untuk kepentingan 'INTI'.
Saya lampirkan  tulisan itu  agar bisa dibaca lagi.

Ingin saya tambah tegaskan hal-hal berikut ini:

1. Masalah keturuan Tionghoa pemecahannya seyogianya sebagai suatu bagian
yang tak terpisahkan  dari pelaksanaan  pembinaan nasion Indonesia yang
masih dalam proses pembentukan. Dalam proses pembinaan nasion Indonesai,
bukan saja ada masalah kesukuan, tapi juga masalah lainnya yang tidak kalah
penting, seperti masalah perbedaan  agama, kepercayaan dan aliran.
Masalah ini oleh kaum kolonialis Belanda digunakan untuk mengalihkan
persoalan yang timbul dari politi kolonialisme. Belanda  menjadikan
keturunan Tionghoa sebagai 'bumper' dan 'kambing hitam'. Orba di bawah
Suharto meneruskan politik kotor kolonialisme Belanda ini, dengan lebih
intensif,lebih menyeluruh  dan lebih  kejam lagi. Orba juga menggunakan
masalah keturunan Tionghoa  untuk kepentingan politk anti-Tiongkoknya.

2. Masalah keturunan Tionghoa juga hanya bisa dipecahkan dalam rangka
reformasi total dari struktur politik dan kenegaraan Indonesia. Masaalah
ini tidak terlepas dari masalah pelaksanaan hak-hak demokrasi dan hak-hak
azasi manusia di Indonesia. Perjuangan untuk melawan politik, kebijaksanaan
dan tindakan yang dikriminatif dan rasis, sangat erat kaitannya dengan
perjuangan untuk hak-hak demokrasi dan hak-hak azasi manusia.

3. Berbicara mengenai masalah demokrasi dan hak-hak azasi manusia, amatlah
perlu ditelaah dan dipelajari, distudi dan dibicarakan seluas mungkin,
baik di kalangan cendekiawan maupun di kalangan masyarakat umumnya, dimana
letak sumber dari pelanggaran hak-hak demokrasi dan HAM di Indonesia selama
Orde Lama dan khususnya selama Orde Baru. Semua itu harus dibeberkan dan
dikritik.Dengan dibangkitkannya  pengkritikan yang mendalam dan luas
terhadap kesalahan dan kekurangan-kekurangan di masa yang lampau , dalam
proses tsb akan muncul pandangan dan pendirian yang benar. Akan timbul
kesadaran baru.
Sebagai contoh, hal-hal yang perlu diangkat di dalam pendiskusian itu,
misalnya: Masalah peranan dan sumbangan dari gerakan, organisasi dan
tokoh-tokoh keturunan Tionghoa di waktu yang lalu.
Kita tidak bisa menganggap sudah tercapai suatu pemahaman dan pengertian
yang jernih dan benar mengenai masalah keturunan Tionghoa, jika belum ada
kejernihan  mengenai organisasi Baperki dan pimpinan utamanya, Siauw Giok
Tjahn dan tokoh akhli hukum  pejuang HAM Mr. Yap Thiam Hin. Baperki
dilarang oleh Orba, dan ketuanya Siauw Giok Tjhan beberapa lamanya
meringkuk dalam tahanan Orba. Juga Yap Tian Hin pernah dipenjarakan.   Apa
peranan dan sumbangan beliau-beliau itu  dalam perjuangan bangsa Indonesia
untuk suatu negara yang demokratis dan berkeadilan sosial? Sudahkan kita
berdada lapang dalam meninjau masalah tsb.? Jika masih ada yang memandang
peranan positif tokoh-tokoh nasional tsb dengan 'sebelah mata' dan dengan
sikap yang apriori, maka bisalah kita mengatakan  bahwa hal-hal yang perlu
dijernihkan masih cukup besar sekitar masalah keturunan Tionghoa.

4. Setiap program yang positif dan maju dalam usaha pembinaan nasion
Indonesia serta peranan dan sumbangan suku Tionghoa di dalamnya, akan
berpengaruh besar di dalam masyarakat, bila ia direalisasi dengan mengikut
sertakan segenap lapisan masyarakat keturunan Tionghoa, jadi tidak hanya
dilaksanakan oleh kaum intlejensianya, oleh kaum pengusahanya, tetapi juga
oleh lapisan masyarakat keturunan yang paling bawah, seperti kaum buruh
pertambangan timah di Bangka dan Belitung; kaum tani dan buruh perkebunan
di Sumatra Timur , Kalimatan dan lain-lain tempat.

Pokoknya perlu dicengkam erat-erat bahwa masalah keturunan Tionghoa adalah
bagian penting dari masalah yang timbul dalam kita membina nasion Indonesia
yang demokratis dan menghormati hak-hak azasi manusia. Maka penyelesaiannya
juga akan terjadi dalam proses penyelesaian keseluruhan pembinaan nasion
Indonesia yang bersatu. Semoga Perhimpunan INTI bisa memberikan
sumbangannya ke arah ini.

***
---------------------------
Angin Segar Bertiup Dari Salatiga . . .
Suara Chandra dan Elysa Adalah . .
Suara Hatinurani Sejati Patriot-patriota Indonesia . . .
Oleh: Ibrahim Isa
18 Desember 1998

I.> Hatinurani siapa tidak bergetar, dada siapa tidak bergejolak gembira
membaca berita tentang bagaimana rakyat Salatiga memperingati Ultah ke-50
Deklarasi Universil Hak-hak Azasi Manusia, yang selain mengadakan 'aksi
poster' dan 'aksi 10.000 bunga-bunga kemanusiaan', jugaa dengan a.l.
menampilkan Barong Say dan Liong yang disambut dengan hangat dan gembira
oleh massa sepanjang jalan Salatiga <Lihat: Message dari Arief Budiman
kepada CARI>. Bukankah ini suatu manifestasi yang lugu dari hatinurani dan
perasaan tulus dari rakyat Indonesia yang dikatakan "pribumi" bersama
sebagian dari suku bangsa Indonesia yang sering disebut "non-pri"? Suatu
aksi yang mengetuk hati setiap orang yang berkemaun baik terhadap persatuan
dan kesatuan serta kelangsungana hidupnyaa bangsa yang multi-etnis dan
multi agama dan multi kepercayaana ini.a Memang agak aneh masih ada saja
yang tidak mau mengakui bahwa tidak sedikit rakyat Indonesia yang menyukai
pesta Barong Say dan Liong, yang menyukai 'Cap Gomeh' serta ikut ambil
bagian dalam keramaian Tahun Baru Imlek. Hal-hal itu sudah lama dianggap
sebagai bagian yang utuh dari kultur Indonesia. Dan ini sesuatu yang wajar
dan sehat dalam kehidupan suatu nasion yang multi-etnis.

Manifestasi Salatiga itu menjadi lebih penting lagi artinyaa apabila
disadari bahwa manifestasiitu
berlangsung di dalam keadaan masih mengamuknya kekuatan pro-rasisme
yang anti-etnis Tionghoaa <yang secara pokok bersarang di dalam kekuatan
"Statusquo". Harus ditandaskan bahwa kekuatan pro-rasisme tsb juga
terdapat di kalangan yang dewasa ini aktif sekali menggunakan label "kaum
reformasi">. Adalaha seratus persen salah jika ada yang sesumbar bahwa
perasaan rakyat Indonesia pada dasarnya "tidak suka sama Cina-Cina".
Berbagai segi dari kehidupan bangsa dan rakyat kita menunjukkan bahwa
rakyat Indonesia amat toleran sertaa dengan sukarela mengambil oper
teradisi, kultur dan kebudayaan bangsa pendatang untuk disatukan dan
dijadikan miliknya sendiri.

Mari perhatikan pakaian-pakaian pengantin di Sumatra maupun di Jakarta,
serta di banyak tempat-tempat lainnya di seluruh kepulauan Nusantara.
Tengoklah apa yang dikenakan oleh mempelai laki-laki maupun perempuan pada
pesta-pesta perkawinan hingga dewasa ini. Jelas sekali tampak pengaruh
cara berpakaian orang Arab, India ataupun Tionghoa yang sudah dianggap
tidak asing lagi. Dalam masalah pakaian perkawinan samasekali tidak
dipersoalkan masalah mana yang 'pri' dan mana yang non'pri. Bukan saja pada
pakaian pengantin, tetapi juga pada tari-tarian dan lagu-lagu serta musik
rakyat tampak jelas sekali pengaruh kultur pendatang. Misalnya pada
lagu-lagu dan musik gambus Indonesia jelas sekali pengaruh kultur Arab.
Sedangkan Jali-Jali dan Gambang Keromong dari Betawi jelas pula nampak
pengaruh Tionghoa dan Portugis <khususnya keroncong>. <Catatan: Para pakar
kebudayaan harap mengkoreksi jika uraian ini tidak sesuai dengan keadaan
yang sesungguhnya>
Sedangkan pada lagu-lagu berirama dangdut misalnya, amat kentara pengaruh
yang datang dari India. Belum lagi kalau kita tengok sejenaka keadaan
dapur kita. Bisakah kita tundjukkan dengan pasti mana makanan Indonesia
yang betul-betul 'asli', mana yang tidak? Kalau tidak ada pendatang dari
India dengan bekal bumbu-bumbunya mungkin kita tidak akan mengenala masakan
rendang. Apalagi kalau diperhatikan raut muka orang Indonesia. Ada yang
mirip Kamboja, mungkin ini yang banyak, ada yang mirip India, ada yang
mirip Arab, ada yang mirip Indo Belanda, dan ...... tidak sedikit yang
mirip Tionghoa. Kuning kulitnya dan sipit. Umumnya saudara-saudara kita
yang dari Minahasa dan suku Dayak begitu rautnya. Mana warna kulit orang
Indonesia yang bisa jadi ukuran 'asli' atau tak asli.

Sampai dewasa ini masih ada diskusi dikalangan cendiakawan dan mahasiswa
Indonesiaa apakah agama Islam itu datang dan disebarkan oleh
pedagang-pedagang India yang datang dari Gujarat ataukah dari kaum pedagang
dan pendatang Tionghoa. Yang jelas Islam tidak lahir dan muncul di bumi
Indonesia. Demikian juga agama Hindu, Budha dan Kristen tidak lahir di bumi
Indonesia. Kesemuanya itu datang dari luar Indonesia. Dan di sini juga
tidak ada masalah 'agama asli' ataupun 'agama non pri'. Hal tu tidak
dipersoalkan sehingga tidaklah menjadi masalah kontroversial yang
mengganggu keharmonisan kehidupan berbangsa dari rakyat kita. Hal ini juga
menunjukkan lagi sikap toleran dan bijaksana dari rakyat Indonesia.

II.> Kira-kira 3500 tahun lebih y.l. datanga mengalir ke Indonesia
bangsa-bangsa pendatanga dari daratan Asiaa <daerah yang kemudian dikenal
sebagai Tiongkok Selatan, Indocina, Thailand dan Birma>. Mereka datang ke
mari untuk memulai penghidupan baru yang lebih baik dari tempat asalnya.
Mereka jugaa membawa kultur dan pengetahuan bercocok tanam yang lebih maju
dari penduduk 'asli'. Perkembangan ilmu pengetahuan bercocok tanam dan
berproduksi bangsa kita kemudian tidak terlepas dari sumbangan
bangsa-bangsa pendatang tsb.
Sebagain besar dari rakyat Indonesia menyambut hangat dan menerima dengan
baik datangnya bangsa-bangsa lain yang berkehendak baik berimigrasi ke
Indonesia dan kemudian berintegrasi dengan penduduk asli.a Selain untuk
memulai suatu kehidupan baru , bangsa pendatang itua juga berperanan
mengembangkan banyak segi dari peri kehidupan penduduk bangsa asli.
Demikianlah dari abad ke abad berlalu dan bangsa Indonesia terbentuk dari
perpaduan antara penduduk asli dengan bangsa-bangsa pendatang.

Maka politik dan kebijaksanaan anti-Tionghoa sejak diberlakukannya PP-10
zaman pemerintahan presiden Sukarno dan lebih-lebih lagi serentetan yang
lengkap dari politik anti-etnis Tionghoa yang diberlakukan oleh
pemerintahan Orde Baru di bawah Suharto sampai dengan peristiwa tragis pada
tanggal 13-15 Mei, 1998a di Jakarta, amat betentangan dengan sikap,
pendirian dan tradisi bangsa Indonesia sejak berabad-abad lamanya. Politik
dan kebijaksanaan anti-Tionghoa tsb dari penguasa adalah suatu rekayasa
yang diwarisinya dari politik kaum kolonialis Belanda. Yaitu suatu alat
politik untuk kepentingan mempertahankan kekuasaan dari penguasa serta
untukamengalihkan sasaran kecaman dan ketidak puasan dari rakyat terhadap
penguasa ke- segolongan suku bangsa Indonesia yang lainnya , dalam hal ini
terhadap suku bangsa atau etnis-Tionghoa. Ini Mencetuskan rekayasa tsb
realtif mudah bagi penguasa Belanda dulu karena suku Tionghoa itu memang
sengaja ditumbuhkan oleh penguasa Belanda di Indonesai sebagaia semacam
'bumper' antara penguasa kolonial dan rakyat.

Dalam meneropong kembali politik asimilasi dari penguasa yang ditujukan
terhadap suku bangsa Tionghoa, seperti politika mengganti nama, melarang
penggunaan bahasa dan tulisan Tionghoa serta ditutupnya sekolah-sekolah
Tionghoa, memblokkir etnis Tionghoa masuk ke jenjangan birokasi serta
angkatan bersenjata Indonesia, dll, jelas nampak bahwa penguasa Orde Baru
telah mengembangkannya menjadi suatu politik diskriminasi dan rasis yang
amat kejam dan sama sekali bertentangan dengan rasa keadilan bangsa
Indonesia. Contoh diskriminasi yang menyolok: Mengapa orang-orang Indonesia
keturunan India atau Arab, bahkan yang keturunan Belanda, tidak digiring
untuk mengganti nama mereka dengan nama "asli". Tulisan-tulisan Arab yang
tertera di musolah-musolah, surau dan mesjid serta disekolah-sekolah Islam
juga tidak dilarang. Aksara Arab tokh juga bukan tulisan asli Indonesia?
Bicara lagi megenai penrgantian nama, malah di era Orde Baru, tampaknya
semakin banyak orang Indonesia yang bernama Johny, Andy atupun Michael.
Baik jugaa ditanyakan kepada khalayak ramai nama Indonesia 'asli' yang
bagaimana sih? Apakah itu nama Ali Alatas, yang aslia misalnya. Itu kan
nama Arab? Tapi Ali Alatas tokh tidak digiring supaya ganti nama. Jelas
'kan diskriminatif dan rasisnya penggiringan pergantian nama itu?
Sesungguhnya semakin beraneka ragam dan bunyi nama-nama orang Indonesia
semakin indah panorama kultur Indonesia , semakin sesuai dengan prinsip
"Bhinekka Tunggal Eka"

III.Bravo Chandra Wijaya! Bravo Elysa Nathanael !
Di bidang politik dan sosial nampak sekali perkembangan dan kemajuan
kesadaran dari mahasiswa/pemuda dan gerakan mahasiswa khususnya dalam
perjuangan untuk reformasi dan demokrasi. Mereka adalah pelopor dan
merupakan kekuatan yang independen, meskipun berbagai kekuatan politik,
khususnya dari kekuatan 'Statusquo' berusaha menjadikan mahasiswa kuda
tunggangan politik mereka.a Tetapi secara umum dan keseluruhannya usaha
golongan 'Statusquo' sebegitu jauh kandas.

Kesadaran tinggi dan independen yang dimiliki oleh kaum muda Indonesia
tercermin pula pada sikap dan pendirian Chandra Wijaya dan Elysa Nathanael
, anggota-anggota regu badminton Indonesia yang bersama regunya dalam pesta
olah raga Asian Games yang baru berakhir telah berhasil meraiha 2 medali
emas dan beberapa medali lainnya. Bersama-sama kawan-kawannya seregu mereka
telah berjuang, bertanding dan menggondol medali-medali emas demi kejayaan
dan keharuman beserta nama baik Indonesia. Semua tahu. Mereka itu dan
sementara teman lainnya dari regu badminton Indonesia ke Asian Games adalah
dari keturunan Tionghoa, adalah bangsa Indonesai suku Tionghoa.Sungguh
mengharukan. Coba dengar apa yang dikatakan Chandra Wijaya:

Kita semua berusaha sebaik-baiknya demi negeri <Indonesia>. "Menang adalah
jalan terbaik yang saya tahu untuk menimbulkan solidaritas pada Indonesia"
"Pada akhirnya itu semua menunjukkan bahwa kita adalah sama" . Saya lahir
dan dibesarkan di sini , dan keluarga saya ada di sini. Tidak ada tempat
lain bagi saya selain negeri ini. Saya akan tetap main untuk Indonesia
selama saya produktif" . <Lihat tulisan Jay Solomon di The Wall Street
Journal, 18/12/98> .Ucapan pemuda Chandra Wijaya ini sungguh amat menge-
sankan!.
Dan apa pula yang dikatakan oleh Elysa <ibid>:

Di satu fihak kami ingin menang untuk nama baik Indonesia. Dalam pada itu
para pemain khawatir keadaan keluarga di Indonesia.

Memang ketika terjadi huru-hara anti-Tionghoa di Yoyakarta toko dari
kemenakan Elysa habis dibakar dan rumahnya sendiri dihujani batu oleh kaum
perusuh. Namun sikap dan pendirian Elysa tak berubah. Ia orang Indonesia
yang merasa Indonesia adalah tempat di mana ia harus berada.

Sikap Chandra dan Elysa patut menjadi teladan bagi semua.a Teladan bagi
suku Tionghoa yang menjadi panik karena menjadi sasaran kekerasan
anti-Tionghoa <dan ini bisa difahami>, kemudian hilang kepercayaannya pada
Indonesia dan rakyatnya, lalu bersikap ambil pukul rata bahwa seluruh
bangsa Indonesai itu rasis, diskriminatif dan sadis, dan tidak bisa lagi
melihat haridepan yang cerah bagi segenap sukubangsa Indonesia.a Sikap dan
pendirian kedua pemuda-pemudi dan kawan-kawannya dari regu badminton
Indonesia itu juga adalah teladan bagi orang-orang Indonesai yang mengaggap
dirinya 'asli' tetapi yang sedikit atau banyak terkena juga oleha racun
rasisme anti-Tionghoa, yang disebarkan oleh penguasa-penguasa di zaman Orba
maupun sampai saat ini.

IV> Sikap dan pendirian Chandra dan Elysa sebetulnya juga dimiliki oleh
banyak lagi dari orang-orang Indonesia suku Tionghoa yang lainnya . Maka
tidak ada alasan sedikitpun untuk menjadi pesimis.a Dewasa ini telah muncul
berbagai organisasi masa maupun partai politik yang bertekad berjuang untuk
kesatuan bangsa Indonesai, melawan setiap manifestasi politik yang rasis
dan diskriminatif. Suatu perekembangan yang positif, asal saja ormas-ormas
dan parpol tsb waspada dan selalu memegang teguh orientasi kesatuan dan
persatuan bangsa.Tidak merasa lebih unggul dari suku bangsa lainnya, juga
tidak merasa ada suku bangsa yang 'baik' dan ada suku bangsa yang 'jelek'
dan ada yang 'bodoh' serta 'malas'a Berbeda-beda dan aneka ragamnya
suku-suku bangsa di Indonesia adalah mozaik yang indah dipeta demografi dan
etnik bangsa Indonesia. Asal saja ; semua berpegang teguh pada prinsip
"Bhinneka Tunggal Eka":

Bisanya prinsip tsb menjadi kenyataan yang hidup subur dikalangan bangsa
Indonesia hanyalah melalui suatu usaha yang tidak kenal susah dan bosan.
Terutama melalui pendidikan moral, etika dan politik dari fihak pemerintah
yang punya kekuasaan, fasilitas dan dana. Tugas pendidikan ini juga adalah
kewajiban dari masyarakat, baik di badan-badan perguruan dan pendidikan
maupun di setiap keluarga. Suatu bentuk usaha lainnya ialah melalui
keteladanan. Solidaritas antar suku, bisa direalisasikan lewat usaha sosial
dan pendidikan <seperti mendirikan sekolah-sekolah, perguruan-perguruan
tinggi, rumah-rumah sakit, mengusahakan beasiswa, dsb >dari golongan suku
bangsa dimana terdapat sumber-sumber dana yang relatif lebih banyak dari
yang lainnya. Solidaritas antar suku berarti juga membiarkan setiap suku
bangsa yang atas dasar kesukarelaana menghidupkan dan mengembangkan tradisi
dan kebudayaan suku bangsanya, di atas dasar pengembangan kultur dan
kebudayaan Indonesia sebagai nasion yang satu dan bersatu.

Sejalan dengan munculnya ormas maupun orpol dari kalangan suku Tionghoa di
Indonesia untuk meneruskan perjuangan melawan rasisme dan politik
diskriminsi dari pemerintah dan sementara golongan Indonesia, di luar
Indonesia juga telah muncul berbagai organisasi semacam, seperi misalnya
CARI <Committee Against Racim in Indonesia> di Australia.. Ini perlu
disambut baik dan disokong. CARI kebetulan dipimpin oleh seorang aktivis
muda bernama Siauw Tiong Djin, salah seorang putra dari pejuang kemerdekaan
Indonesia keturunan Tionghoa yang tangguh dan terkenal Siauw Giok Tjahn.a
Meskipun CARI dan para anggota dan pendukungnya ada di Australia dan
sementara tempat lainnya , namun urusan dan kepentingannya, begitu dianggap
orang, adalah di Indonesia. Maka seyogianya kegiatan dan ruang geraknya
yang pokok adalah yang menyangkut Indonesia.

Belakangan ini telah diajukan usul oleh sementara fihak yang berkemauan dan
berkehendak baik, agar ketua CARI sebaiknya juga diusahakan dan
diperjuangkan agar bisaa menjadi MP di Australia.

Harap difikirkan baik-baik, jika Ketua CARI, Siauw Tiong Djin, menjadi MP
di Australia, maka masyarakat Australia akan mengharapkan agar siapapun
yang menjadi MP Australia, pertama-tama urusannya adalah soal Australia.
Kalau tokh melawan rasisme dan diskriminasi maka sasarannya ialah rasisme
yang di Australia, seperti golongannya Pauline Hansen.

Penulis artikel ini, kebetulan saja kesukuannya adalah Sumatra, adalah
'orang awak', namun amat berkepedulian terlaksananya prinsip 'Bhinneka
Tunggal Eka" di Indonesia, khususnya tercapainya persatuan dan keharmonisan
diantara pelbagai suku-bangsa di Indonesia. Makaa amat mengharapkan agar
aktivis-aktivis dan pejuang-pejuang muda anti-rasisme sebanyak mungkin
menitik beratkan usaha dan kegiatannya pada masalah yang terdapat di
Indonesia. Mudah-mudahan harapan ini bisa terlaksana.

Manifestasi Salatiga dan sikap Chandra Wijaya dan Elysa Nathanael yang
merupakan angin segar yang datang bertiup di cakrawala Indonesia itu ,
biarkanlah iaa memperkuata arus kesatuan dan persatuan nasion Indonesia
yang terdiri dari pelbagai suku-bangsa , termasuk suku-bangsa Tionghoa di
Indonesia.

Amsterdam, 18 Desember 1998.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 May 1999 jam 06:30:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke