----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Cinta adalah seperti bisul, jika ditelantarkan akan semakin
besar dan menyakitkan. Dalam hal ini Bonang yang mencoba
melupakan perasaannya pada Nisye , cewek kece yang
ditemuinya di Plaza Senayan benar benar melakukan kesalahan
besar. Bonang terlalu banyak waktu untuk menyendiri,sejak
mencicipi es krim Hagendaz gratis dan memandang bidadari
wangi itu, Bonang lebih banyak terduduk di kasurnya yang
berbau iler untuk menulis diary. Jelas perlahan lahan sang
bisulpun membesar.Pada puncaknya sakit yang diderita Bonang
tidak bisa dia tanggung lagi. Dia lalu memutuskan untuk membedah
sang bisul, dia akan mentuntaskan perasaannya pada Nisye..

Sabtu itu Bonang bolos sekolah, dia memborong Mang Abung
supir Bajaj di gang sebelah untuk membantunya melacak dan
membuntuti Nisye dari seberang SMA 6 di Bulungan.
Duit untuk menyewa Abung , adalah duit colongan dari
celengan si Ucok adiknya yang disembunyikan di balik
dinding triplek. Berbekal kekeran plastik pinjaman dari
si Partijo sahabatnya yang punya bengkel sepeda, Bonang
terduduk di bangku belakang bajaj yang diparkir di balik
tenda bubur ayam , mengarahkan teropong itu menunggu
anak sekolah bubaran.

Tidak lama kemudian lonceng bubaran kelas terdengar.
Satu persatu anak anak murid sekolahan elit itu muncul.
banyak yang pulang menyetir mobil sendiri membuat Bonang
ngiri, tapi ada juga yang jalan kaki atau dijemput supir.

10 Menit kemudian, Nisye muncul membuat hati Bonang
meledak ledak seperti petasan cabe rawit di malam takbiran.
Nisye melangkah dengan anggun, lenggoknya seperti
pragawati tapi minus over acting, kulit tubuhnya memancar
bagai pualam. Rambutnya lepas terjun lurus ke pundak.
Bebarapa memancar diatas dahi membuat wajahnya semakin
manis. Tidak lama kemudian sebuah mobil Volvo hitam datang
menghampiri, sekejab Nisye hilang masuk kedalam lalu mobil
mewah itu mulai melesat.

Seperti seorang private detektive di film film barat, Bonang
menepuk  Abung untuk segera membuntuti volvo hitam metalik
tahun 99 itu. Dengan semangat Abung menerjang jalan, berkelebatan
dan menukik membuntuti mobil Nisye diantara ratusan mobil
yang berseliweran. Tapi sedan berkaca gelap itu memang bukan
susah untuk di saingi, bahkan untuk Abung yang juara rally Bajaj
tahun 97/98 se DKI berturut turut itu sekalipun. Mesin Bajaj Abung
melengking mengelurakan asap pekat melesat mati matian
mengekor sedan itu melewati radio dalam menuju Pondok Indah.

Kata orang, Tuhan selalu ada dipihak orang susah. Dan Tuhan
kali ini membuat jalan perumahan mewah macet tidak seperti
biasanya. Bonang dan Abung akhirnya bisa lega, dengan santai
mereka menyusul mendekat mobil Nisye yang berbelok ke
Jalan Lapangan Golf.

Bonang menyuruh Abung untuk memarkirkan bajajnya
200 meter dari sebuah rumah raksasa berpagar tinggi yang
pintu gerbang otomatisnya baru saja tertutup setelah sang
sedan masuk. Dengan teropong plastik yang lensanya dekil
Bonang berusaha mencuri visi. Dia terbelakak  menyaksikan
betapa mewahnya ini rumah. Pekarangannya sebesar lapangan
bola. selain pos satpam ada juga kandang burung raksasa
yang samar samar membelakangi sebuah kolam renang ukuran
olympic. Tubuh Bonang gemetaran seperti kena ayan. Kali
ini nyalinya hampir saja kandas. Bagaimana mungkin dia
sanggup menyerahkan surat yang dibuatnya untuk Nisye
yang menghabiskan waktu 10 jam sepangang malam?

Abung juga ikutan gemetar " Itu pasti rumah mentri nang.."
katanya panik." atau barangkali rumah jendral bintang 8"
kata Abung lagi." Pulang aje yuk? " rengek Abung.
Tapi Bonang menggeleng mantap , bagaimanapun dia
sudah berada disini dan bisul ini harus diselesaikan
supaya dia tidak menderita lagi.

Dari jam ke Jam Bonang terduduk dibangku belakang
Bajaj. Abung yang tadinya kesal akhirnya cuma bisa
pasrah. " susah memang mengurus orang yang lagi
jatuh cintrong, semuanye jadi pade gile " pikir Abung
sambil menghisap kreteknya yang terakhir.

Bajaj tetap terpaku ditempat. Sang satpam rumah Nisye
yang dari tadi mengamati mulai curiga dan menghampiri
mereka. Abung cepat cepat menyalakan mesin karena
panik " Wah aku nggak mau berurusan dengan Abri "
kata anak yang nggak pernah sekolah ini.Karena Abung
memang pernah melihat sendiri bagaimana seorang
Mahasiswa digebuki polisi di dekat semanggi waktu
ada demontrasi .Tapi Bonang segera menenangkan,
dia bergegas melesat keluar dari bajaj mendekati
sang Satpam bertampang ancur seperti Baramuli.

Sang satpam menghardik seperti anjing sakit kepala.
Bonang menjawab dengan tenang. Tanpa basa basi
diceritakan sejujurnya kisah bisul dan roman ini
pada sang satpam yang ternyata orang Batak satu marga.
dengan Bonang. Setelah tertawa terbahak bahak tidak
habis habisnya mendengar cerita burung merindukan
planet Pluto seperti itu, akhirnya Tigor sang satpam itu
bersedia membantu Bonang menyerahkan surat bau
tensoplas pada majikannya dengan syarat lain kali Bonang
membawa dua rokok Jisamsu kalau mau dibantu.

Bonang berjanji dan segera bergegas kembali ke Bajaj.
Tigor kembali ke istana, dan langsung menghilang mencari
Nisye. Bajaj berlalu menuju kebayoran lama. Keringat
Abung dan Bonang bercucuran, Matahari Jakarta masih
garang memanggang semua benda benda di tempat terbuka.

Nisye sedang berenang menyebrangi kolam renang untuk
yang ketujuh kali, ketika Tigor datang menghampiri dan
menyerahkan sepucuk kertas dekil padanya di pinggiran
kolam dekat sauna. Sambil terkekeh kekeh Tigorpun
pergi meninggali Nisye yang terbengong bengong tidak
mengerti semua ini.

Setelah meneguk orange jeruk terakhir dan menyelimuti
tubuhnya yang berkelok bagai highway di Puncak,
Nisye membuka dan membaca isi surat:

Selamat siang,
Barangkali memang  sangat keterlaluan bila aku berani
mengirimkan padamu surat yang tidak berharga ini.
Kamu mungkin sudah lupa denganku. Kamu mungkin
tidak pernah mengenalku lagi.Tapi biarlah dengan surat
ini aku mentuntaskan segala galanya.

Namaku Bonang, aku tidak tahu namamu, tapi jelas
aku mengenalmu karena kamulah yang menabrakku
di plaza senayan seminggu yang lalu.

Sejujurnya aku harus bilang, aku tidak pernah melupakan
wajahmu, bening matamu dan jemarimu yang lembut yang
menari didadaku ketika sedang mebersihkan es krim mahalmu
itu. Barangkali ini satu kegilaan, barangkali aku sudah sinting
dan barangkali aku perlu psikater, tapi aku merasa bahwa
ada sesuatu yang aneh terjadi di antara kita,sesuatu getaran
dalam frekwensi yang sama.

Makanya aku sekarang berani menulis ini padamu untuk
bertanya, apakah kamu merasakan hal yang sama?

Namaku Bonang, aku anak gang. Tuhan menakdirkanku
lahir dari keluarga supir mikrolet. Jelas aku tidak bangga
dengan ini, tapi aku juga tidak malu. Kedua orang tuaku
walaupun begitu adalah pasangan sehidup semati yang
akur menempuh hidup bersama walaupun dalam keadaan
jauh dari sederhana.

Mungkin aku jatuh cinta padamu, entahlah..
Semua ini sebenarnya cuma angan angan seorang gila,
seorang anak gang yang sekolah di STM kurang terurus di Lapangan
Banteng sana. Sebuah cinta memang tidak selalu berjalan
mulus aku sadari itu kini biarkan aku permisi dulu.

TTD

Bonang Tapebolong.


NB: Kalau ingin membalas ini surat, tolong titipi pada
si Memet, dia tukang pangkas rambut di salon " Jabrik "
di Pasar Bendungan Hilir. Dia bencong centil,
jangan berikan pada si Nuraini, assistennya itu tukang
buka dan baca surat orang.

---
Tangan Nisye gemetaran, kekosongan hatinya
tiba tiba sirna sebentar. Lalu sekejab dia berlari mencari
Tigor, menanyakan " kemana orang yang beri ini surat?"
sambil melongok longkokan kepala keluar gerbang.
Tigor terbelalak, untuk pertama kali dia melihat tuan
puterinya ini berwajah semu merekah. Tigor tahu Nisye
sedang jatuh cinta ....



Hasan Basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 May 1999 jam 01:07:20 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke