---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Kepada yth, Presiden RI, Bapak B.J. Habibie. Menlu RI, Bapak Ali Alatas. Bapak Sekjen Deplu RI. Bapak Kepala Biro Keuangan Deplu RI. Bapak Kepala Biro Kepegawaian RI. Bapak Pimpinan Indonesia Daily News, Gatra, Kompas, Suara Pembaruan. Dengan hormat, Terlebih dahulu saya ingin memperkenalkan diri, nama saya : Urip Merdeka yang kebetulan sedang bermukim dan studi di Swiss yang prihatin dengan keadaan di tanah air jika membaca berita internet serta melihat di TV mengenai keadaan saudara2 kami yang berusaha untuk mempertahankan hidup dari hari kehari tanpa adanya harapan serta jaminan kehidupan yang pasti. Harga2 yang tetap melambung tinggi diluar jangkauan masyarakat menengah kebawah, terlebih lagi bagi teman2 penganguran yang terkena PHK dari perusahaan2 konglomerat yang telah puas menjarah kekayaan bangsa Indonesia selama 32 tahun ini. Pada kesempatan ini saya tertarik sekali dengan kata penjarahan yang kiranya bukan hanya terjadi di tanah air saja melainkan juga terjadi di luar negeri ada penjarahan2 yang berkedok reformis tengah mengeruk uang RI yang sedang prihatin menghadapi krisis ekonomi dan menjelang pemilu 1999 yang diharapkan JURDIL. Baiklah untuk ini saya mohon kepada Bapak2 Yth. untuk merenungkan dan menyetop penjarahan berkedok reformis tersebut yang telah dengan tega menghisap darah rakyat dan bangsa Indonesia tercinta seperti uraian singkat saya dibawah ini. KBRI Bern dengan Duta Besar LBBP-nya Tati Darsoyo serta Kepala-TU Sdr. Hilman dan Wakilnya Sdr. Nelson telah melakukan penjarahan dan praktek manipulasi terhadap uang RI serta gaji beberapa karyawan2nya selam dinasti Darsoyo bercokol di Bern, Swiss. Demikian informasi yang dapat saya sadap dari KBRI Bern serta masyarakat Indonesia dengan pembuktian berikut ini : 1) Konon anggaran yang tersisa di KBRI Bern yang berjumlah kl. 300.000 CHF atau US$. ( kl. Rp.2,4 miljar) tersebut tidak dikembalikan kepada RI, melainkan telah dijarah dengan melakukan praktek2 kotor oleh Kepala-TU, Wakil, serta kroni2nya yang terlihat semakin asyik mengarap proyek2nya yang didukung oleh kekuatan jabatan Dubes serta dibantu oleh tangan ketiga seorang warga negara Colombia yang bernama Mr.Gomez (tukang pembersih apartemen) yang tidak mempunyai perusahaan resmi atau keahlian dalam bidang kontraktor/interior bangunan gedung yang dengan mudahnya mendapatkan tender guna membantu memanipulasi nilai2 kontrak (kwitansi) yang kemudian di sub-kan kembali kepada perusahaan2 yang benar2 bergerak dalam bidang tersebut sbb. : Wisma Duta RI yang angker berdiri terpencil dari keramaian kota Bern, mencerminkan penghuninya yang arogan dan feodalis serta tidak pernah mau mengenal penderitaan masyarakat kecil dan selalu ingin mau menangnya sendiri bak diktator yang rasis selalu menggunakan power-nya untuk menekan masyarakat/PPI dan pegawai2nya yang bukan termasuk kroninya, sebagai contoh telah dilakukan penggantian karpet2 yang menurut umur serta keadaannya belum layak diganti, serta pembelian alat2 rumah tangga (lemari, dll.) yang jika dilakukan oleh seorang manusia yang mempunyai perasaan dan hati nurani pada masa prihatin seperti sekarang ini tidak akan mungkin melakukan hal2 tersebut. Kantor KBRI, dibawah pengelolaan Kepala-TU yang tidak bisa kerja dan bergaji besar (US$), dengan begitu angkuhnya telah menggarap bersama Sdr. Gomez dengan sub2 kontraknya memupuri/mengecat warna dinding kantor yang masih indah dan bersinar pada bagian luar gedung KBRI tercinta. Pembelian sejumlah alat2 kerja kantor yang dilakukan secara tidak transparan, serta pembelian alat bunyi2an setara kino/bioskop dan rencana pembuatan lemari hias yang tidak ada gunanya bagi kelancaran kerja para pegawai di kantor KBRI. 2) Dengan melihat sikap yang sangat bertolak belakang dengan keadaan yang terjadi di tanah air nampaknya kroni2 Dubes terlihat semakin gemuk2 dan menampilkan wajah cerah karena telah berhasil melakukan penjarahan2 dan tidak ada yang dapat menghentikannya, terlihat dari sikap seorang bawahan/staf lokal (kroni Dubes) Sdr. Dedy yang dengan bangganya selalu bersikap angkuh dan mengatakan telah mampu membeli rumah real estate di Indonesia dengan membayar tunai sebesar kl. Rp.200 juta tanpa mengalami kesulitan sama sekali. Konon berita yang tersadap dan dapat dipercaya, orang yang mampu membeli rumah di Indonesia hanyalah staf keuangan KBRI Bern saja, sedangkan yang lainnya hidup dalam batas pas2an karena tidak memiliki kesempatan untuk menjarah uang negara RI. Sikap membabi buta dan menuli Dubes Tati Darsoyo dikarnakan keahlian Kepala-TU/Wakil serta kroni2nya yang telah sukses membuat semua skenario dengan memberikan upeti kepada Dubes dengan jalan menyunat kl. 50% gaji pegawai2 Wisma Duta yang bekerja membanting tulang selama 24 jam tanpa menikmati hari libur sebagai layaknya pegawai2 kantor KBRI lainnya dan peraturan ketenagakerjaan yang berlaku di negara Swiss. Jelas nampak formasi pegawai yang sangat timpang telah direkayasa oleh Kepala-TU serta Dubes guna melindungi praktek2 korupnya dalam menempatkan jumlah pegawai yang sangat banyak di wisma duta yang tidak sebanding dengan jumlah pegawai di kantor KBRI. 3) Undangan Hari Kebangkitan Nasinalyang akan dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 1999 dikediaman Dubes/Wisma duta, konon telah mengundang sejumlah masyarakat Indonesia di Swiss (layaknya seperti 17 Agustus) yang diperkirakan berjumlah kl. 1500 orang. Melihat angka yang relatif kecil jika dibandingkan dengan kedutaan2 lainnya di Eropa Barat, tampaknya memang sudah direncanakan sedemikian rupa sebagai suatu ajang pertemuan besar2an yang dengan sengaja melanggar anjuran Deplu RI untuk tidak menagadakn pesta2 besar dalam situasi krisis sekarang ini yang terjadi di tanah air. Tertatap nilai uang yang akan dikeluarkan oleh KBRI, tidak tertutup kemungkinan digunakan sebagai ladang untuk mengkorupsi dan memanipulasi uang yang dilakukan oleh Dubes serta kroni2nya untuk mengambil keuntungan dengan menghalalkan berbagai cara untuk mencari rezeki yang tidak halal. 4) Panitia Pemilu yang diadakan di KBRI Bern, telah membuahkan cerita berbau orde baru dari rekan2 yang mempunyai jalur khusus dengan KBRI, pemilihan ketua Pemilu Swiss dirasakan adanya rekayasa oleh KBRI khususnya Duta Besar dengan menunjuk seorang boneka yaitu Sdr. Anwar yang masih aktif membantru di KBRI Bern serta berstatus suami sekretaris Duta Besar. Dalam hal ini tampak adanya indikasi untuk memanipulasi jumlah suara pemilu dapat terlihat dalam pengiriman formulir yang membingungkan masyarakat, tidak jelas, serta tidak syah secara hukum karena tidak diberi cap pemilu dan tidak dibubuhi tnda tangan serta nomor formulir. Mungkin hal tersebut digunakan demi kepentingan satu partai/golongan seperti kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan selama resim orde-baru. Melihat uraian2 tersebut diatas, saya berharap Bapak2 Yth. dapat merasakan betapa tidak ada artinya para duta2 bangsa yang bercokol di KBRI Bern, yang seharusnya mereka memberikan sumbangsih terhadap bangsa dan negara sesuai dengan jabatan, fasilitas serta gaji yang jumlahnya kl. 100 kali lipat dari gaji yang dapatkan ditanah air. Sebagai tindak lanjut dari usaha menegakkan kebenaran dan keadilan didalam era reformasi seperti sekarang ini, kami menghimbau untuk segera diambil suatu sikap dan tindakan yang tegas guna menyelesaikan masalah2 yang terjadi di KBRI Bern, sebelum kami menghimpun masyarakat RI yang berada di Swiss untuk melakukan demonstrasi di KBRI Bern. Wassalam, Urip Merdeka Industriestr. 38 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 May 1999 jam 10:40:49 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
