---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Kekuatan Reformasi Bisa Menang, asal . . . 12 Mei, 1999 Oleh: Ibrahim Isa. I. Tepat setahun yang lalu, 12 Mei 1998, telah gugur 4 mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, dalam aksi demonstrasi politik , yang dilakukan bersama oleh puluhan ribu mahasiswa dan pemuda, menuntut turunnya presiden Suharto dan dilaksanakannya reformasi dan demokrasi. Keempat taruna bangsa itu tewas oleh peluru aparat negara yang ditembakkan kepada mahasiswa yang sedang melakukan demo secara damai. Politik kekerasan Orba yang klasik itu , untuk kesekian kalinya telah meminta korban jiwa mahasiswa yang tak berdosa. Dewasa ini tuntutan-tuntutan reformasi dan demokratis mahasiswa itu baru sebagian saja terrealisasi. Kecuali kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan , pers dan berorganisasi, tuntutan politik yang penting lainnya, ialah dilaksanakannya pemilu yang demokratis untuk merealisasi prinsip kedaulatan rakyat bagi negara kita. Kini pemilu telah diambang pintu. Bahwa kekuatan Reformasi bisa menang, asal mampu meletakkan sementara ganjelan-ganjelan politik maupun pribadi yang ada di antara mereka , mengutamakan tujuan utama dan pokok reformasi dan demokratis demi kepentingan seluruh bangsa, dan menggalang saling pengertian, kerjasama, bahkan aliansi ataupun koalisi untuk mengalahkan kekuatan 'Statusquo", bukanlah suatu harapan atau wishful-thinking belaka. Kemenangan atas kekuatan "Statusquo" adalah perkembangan yang sesuai dan sejalan dengan arus perkembangan menuju kemajuan. Hal itu sesuai dan sejalan dengan lahir, berkembang dan semakin mendalamnya kesadaran bangsa kita mengenai hak-haknya sebagai warga dari suatu negara yang mereka ikut dirikan dan pertahankan. Masyarakat yang luas, khsususnya generasi muda dan kaum cendekiawan yang kritis, bukan saja telah semakin meningkat kesadarannya akan kebutuhan Indonesia membina suatu negara hukum yang menghormati HAM, tetapi juga telah menunjukkan k! ! eberanian berjuang dan berkorban untuk mencapai komitmen yang sama terhadap reformasi. Selain itu akan dilakukan peningkatan mutu dan frekuensi komunikasi antar partai.Suatu perkembangan yang positif yang perlu digalakkan, semakin dekat kita ke pemilu. Pelaksanaan aliansi di Jateng antara tiga partai reformasi itu sesungguhnya sudah digalang ketika Gus Dur, sesepuh PKB; Megawati Sukarnoputri, ketua umum PDI Perjuangan dan Amien Rais, ketua umum PAN bersama dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X, berembuk dan mengeluarkan "Deklarasi Ciganjur". Seruan-seruan untuk aliansi dan kerjasama kemudian juga didengungkan oleh Matori, salah seorang pimpinan PKB dan S.Bintang Pamungkas ketua PUDI. Harapan dari segenap lapisan kekuatan masyarakat yang menghasratkan reformasi dan kemajuan, adalah, agar langkah-langkah kongkrit yang telah diambil oleh kekuatan reformasi di Jawa Tengah <sesungguhnya juga di sementara tempat-tempat kecil lainnya>, segera ditindak lanjuti oleh pusat pimpinan mereka. Memang, terbetik berita bahwa pimpinan dari parpol-parpol yang memperjuangkan reformasi dan demokrasi telah berembuk dan bersepakat untuk memenangkan pemilu yang jurdil, mengalahkan kekuatan politik statusquo dan dengan demikian membangun suatu pemerintahan yang bersih, yang didukung rakyat untuk merealisasi tujuan gerakan reformasi. Untuk , dengan begitu, betul-betul meninggalkan era Orba yang otokratis,militeris, anti demokratis serta budaya korupsi, kolusi dan nepotisme. Jika hal ini benar, maka harapan kemenangan demokrasi bukanlah sesuatu yang diluar jangkauan. II. Dewasa ini terdapat semua syarat pokok untuk tercapainya kemenangan demokrasi. Harus diakui bahwa syrat-syarat yang lengkap untuk suatu pemilu yang 'luber' dan 'jurdil' belum semuanya tersedia. Masih belum sepenuhnya demokratis. Ini sekali-kali jangan dilupakan agar kewaspadaan tetap dicengkam ,terhadap manuver politik dan rekayasa kekuatan "Statusquo" yang menyalahgunakan masalah sara. Ini bisa terjadi dengan menggunakan peluang yang masih ada berkenaan dengan masih belum demokratisnya 'aturan-main' pemilu yad. Tetapi kekuatan reformasi yang tergolong dalam kelompok politik "Deklarasi Ciganjur", dengan giat telah menyimpulkan pengalaman perjuangan selama ini ,dan dengan memanfaatkan waktu dan peluang yang ada, telah pula menoto, mengkonsolidasi dan memperluas jaringan politik, organisasi dan kegiatan mereka. Yang terpenting ialah bahwa sampai saat ini tampaknya kekuatan reformasi dan demokratis berada pada posisi yang berinisiatif. Ini penting sekali , karena begitu ada peluang, kekuatan "Statusquo" berusaha merebut inisiatif , seperti tercermin dengan munculnya Suharto lewat wawancara dengan pers luar dan dalam negeri. Suharto menyebarkan pandangan yang pesimis dan defaitis sehubungan dengan pemilu yad.. Ia sesumbar bahwa pemilu yad itu tidak mungkin jurdil.Suatu penghi-naan terhdap memori dan logika bangsa. Kok, Suharto yang selama berkuasa di masa lalu tidak pernah tidak merakayasa pemilu, sekarang ini bisa ngomong tentang pemilu yang 'jurdil'. Bagaimana dengan penerusnya, presiden Habibie? Untuk mengalihkan sasaran pengkritikan yang ditujukan terhadap pemerintah, yang sampai saat ini tidak mampu memperbaiki nasib rakyat yang menderita disebabkan oleh krismon, Habibie baru-baru ini mengayunkan 'pentung' baru. Yaitu 'pentung' bahaya "Komas", yaitu perpaduan golongan komunis, marhaenis dan sosialis, yang dituduhnya sebagai pengacu dari disintegrasi bangsa. Tapi begitu Habibie buka mulut tentang baha! ! ya "Komas", kontan saja dijawab dengan kritik balas yang pedas oleh pers dan tokoh-tokoh politik dan masyrakat, termasuk tokoh seperti Ruslan Abdulgani, yang mengatakan bahwa Habibie sangat keliru dan naif. Juga Gus Dur dengan keras mengritik tuduhan Habibie itu. Gus Dur mengatakan bahwa pernyataan itu menunjukkan, bahwa Habibie adalah 'super dungu'. Menjawab dan menanggapi tindakan dan ucapan-ucapan yang keliru dan salah yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh "Statusquo" ini merupakan pendidikan politik yang baik untuk kita semua. Hal ini meningkatkan taraf pengertian politik yang reformatif. Semakin dekat kita ke jadwal pemilu 1999, semakin sering muncul ke permukaan soal-soal politik dewasa ini , dan yang menyangkut hari depan Indonesia. Mengenai hal-hal tsb pasti terjadi perdebatan dan pendiskusian. Juga akan terungkap tindakan-tindakan pelanggaran terhadap pemilu yang 'luber' dan 'jurdil'. Pengertian masyarakat yang sudah meningkat, serta adanya kebebasan pers dan menyatakan pendapat akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengekspos tindakan-tindakan yang merugikan pemilu yang jurdil, dan untuk menuntut pertanggungan jawab dari pelaku-pelakunya. Dalam proses itu, semakin mematang pula syarat-syarat untuk menangnya kekuatan "Reformasi". III. Bagaimana hasil pemilu dan bagaimana pula haridepan bangsa dan negara kita? Mungkinkah kita memprediksi hasil pemilu 1999 yang segera akan berlangsung? Mungkin-kah kita sedikit meramal tentang hari depan nasib bangsa dan negara Indonesia? Secara garis besar hal itu mungkin. Memprediksi bukanlah suatu perbuatan 'mengira-ngira'. Atas dasar fakta-fakta dan pengenalan yang kita kuasai, yang memang itu masih belum lengkap, kita tokh boleh memprediksi. Dengan sendirinya kita tidak mungkin bebas dari keinginan dan harapan pribadi serta keyakihan politik masing-masing. Seorang sahabat dekat saya, Zacharias Q. Xiemenes, mencoba membuat prediksi tentang pamilu yad. Karena analisisnya untuk saya cukup kritis dan kongkrit , maka sebagai bahan pertimbangan saya sampaikan saja disini, untuk pengetahuan dan pertimbangan pembaca. Belakangan akan saya kemukakan bagaimana 'prediksi' saya sendiri. Lebih dahulu, prediksi sahabat dekat saya, seorang peminat masalah Indonesia, Zacharias Q. Xiemenes: "Sebagai seorang peminat masalah Indonesia, saya juga menaruh perhatian dan prihatin terhadap perkembangan di Indonesia, khususnya pemilu 7 Juni yang akan datang. Sementara saya berpendapat ada faktor-faktor yang menguntungkan , dan ada yang tidak menguntungkan yang mempengaruhi jalannya pemilu nanti. Faktor-faktor yang menguntungkan: 1.Baik pemerintah Habibie dan partai berkuasa Partai Golkar maupun kekuatan oposisi/ partai-partai tidak berkuasa dan berbagai kalangan masyarakat, kecuali Suharto dan pengikutnya, sama-sama menghendaki supaya pemilu diadakan pada waktunya. Tentu dengan maksud dan itikad berbeda-beda. Habibie dan Golkar berharap melalui pemilu dapat terus mempertahankan dan melegitimasi kekuasaannya; sedang kekuatan oposisi bermaksud mengalahkan Golkar dan menggantikan pemerintah Habibie yang dianggap tidak sah karena merupakan kelanjutan dari kekuasaan Suharto. Jadi, kiranya dapat dikatakan, pemilu sudah menjadi hasrat bersama berbagai kekuatan. 2. Kekuatan barat, terutama AS dan Jepang, yang sangat berpengaruh terhadap Indonesia, juga sangat menghendaki pemilu diadakan pada waktunya. Mereka menganggap Indonesia sebagai lingkungan pengaruhnya, tempat investasi dan pasar cukup potensial komoditinya Berakhirnya kekuasaan militer Suharto dan diadakannya reformasi demokrasi politik khususnya ditrapkannya sistem demokrasi multi partai ,dipandang sebagai kemenangan ideologi demokrasi barat. Pemilu Indonesia merupakan manifestasi penting dari pelaksanaan sistem demokrasi barat itu, karena itu mereka memberi penilaian tinggi terhadap pemilu dan memberikan bantuan materiil dan dana cukup besar untuk menjamin diadakannya pemilu. 3. Persiapan politik, institusi, dana dsb. pada pokoknya berjalan lancar. Faktor-faktor tidak menguntungkan atau tantangan-tantangan:kemelut ekonomi, pergolakan politik dan bentrokan sosial sebagai akibat dari krismon berat, jauh belum berakhir. Dendam dan benci serta berbagai konflik masyarakat sebagai produk kekuasaan otokrasi Orde Baru selama lebih dari 30 tahun belum terselesaikan. Dasar hukum undang-undang pemilu belum mapan. Sense of law masyarakat masih lemah. Partai yang turut pemilu banyak dengan latar-belakang dan asas-tujuan sangat berbeda. Pertentangan dan permusuhan terdapat di antara partai-partai besar. Kekuatan anti pemilu cukup potensial. Beberapa daerah separatis tradisional akan memboikot pemilu. Karena faktor-faktor tsb. di atas, kiranya pemilu akan berlangsung pada waktunya dalam situasi yang sangat labil dan tidak stabil. Bentrokan-bentrokan antar partai, khususnya antara beberapa partai besar yang bertentangan dan bermusuhan tak dapat dihindarkan. Partai yang dapat menggondol kursi dalam DPR mungkin tidak melebihi 10 partai besar terdepan. Golkar mungkin akan terus menduduki tempat menonjol dengan menggunakan keunggulan tenaga, dana dan meterialnya sebagai partai berkuasa lama. "Money politics" masih sangat efektif dalam dunia "floating masses" yang masih sengsara ekonomi dan budaya. Menurut prakiraan sementara, urutan pendapatan suara lima besar mungkin sbb: Golkar, PDI Perjuangan , PAN, PKB, PPP. Di samping lima besar tsb., PKP yang diketuai mantan Menhan Eddy Sudradjat dan PKR dukungan Adi Sasono mungkin juga tampil sebagai "kuda hitam" dengan perolehan suara menonjol. Kiranya dapat dipastikan tiada partai yang tampil sebagai pemenang mutlak. Karenanya, pemilih! ! an presiden dan wapres akan rumit, pemerintah koalisi atau aliansi mungkin terjadi. Pemilu adalah kebijakan penting untuk kestabilan dan kebangkitan kembali ekonomi Indonesia, tapi dengan pemilu tidak dapat menyelesaikan semua masalah rumit Indonesia. Indonesia akan masuki masa pergolakan jangka panjang." Demikian analisis dan prediksi sehabat dekat saya, Zacharias Q. Xiemenes.Terimakasih atas sumbangan fikiran sahabatku Zacharias, yang adalah seorang peminat Indonesia yang tekun dan antusias. IV. Prediksi dan tanggapan saya: Adalah sulit sekali untuk melihat situasi politik dan memprediksi hasil pemilu yad itu, dengan pola "hitam-putih". Ini namanya menyederhanakan persoalan yang rumit. Khususnya setelah jatuhnya Suharto, peta politik Indonesia ditandai oleh warna pelangi, dengan hiasan warna merah (nasionalisme reformasi dan demoratis) ,kuning (nasionalisme sempit Orba), biru (Islam sekular) dan hijau(Islam Konserfatif) saling berkilau dan berkelip. Namun, bisa dikatakan bahwa, adalah 'merah' dan 'biru' yang pada pokoknya sering berdominasi. Bagaimana hasil pemilu yad dan seterusnya, kiranya juga tidak jauh menyimpang dari kecenderungan ini, kecuali jika terjadi hal-hal yang amat luarbiasa yang diluar dugaan. Hal mana juga mungkin sekali. Kemungkinan pertama (bukan berarti yang paling mungkin terjadi): Karena kekuatan "Statusquo" tidak melihat cara lain lagi untuk mempertahankan posisi kekuasaannya sekarang ini, mereka kalap. Lalu semakin memperhebat persekongkolannya dengan klik Orba lama yang digembongi oleh Suharto. Dengan kekuatan militer yang berfihak kepada nya, mereka semakin merekayasa dan memprovokasi kekerasan model 'sara' dimana-mana, untuk menciptakan suasana khaos, ketidak-stabilan dan kesemerawutan. Atas dasar situasi ketidak-pastian dan ketakutan dikalangan masyarakat, muncullah tuntutan untuk memberlakukan Undang-undang Darurat Perang. Kekuatan militer tampil lagi kedepan. Pemilu dibatalkan atau ditunda. Sementara kebebasan demokratis yang telah direbut dalam perjuangan reformasi, dibekukan. Suatu kekuasaan mi-liter/birokrat yang otokratis dan anti-demokratis ditegakkan kembali. Ini suatu kemungkinan yang sekali-kali tidak boleh diremehkan. Kekuatan Reformasi dan Demokratis yang telah memiliki sementara pengalaman selama dua tahun ini, akan menghimpun kekuatan kembali dan mengorganisasi perjuangan dalam situasi yang baru. Seiring dengan berkembangnya kekuatan reformasi, situasi bisa mengarah ke suatu pembentukan 'people power', atau bahkan suatu revolusi yang tak bisa diprediksi bagaimana bentuk dan cara perjuangannya. Yang jelas, perjuangan akan bertambah sengit dan berat. Tapi juga tak bisa dikecualikan bahwa kemenangan reformasi dan demokratis yang lebih mendasar akan tercapai dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kemungkinan Kedua: Seperti prediksi sahabatku Zacharias. Tidak ada satupun partai yang menang mutlak. Sehingga diperlukan suatu koalisi politik di antara kekuatan reformasi, untuk bisa terpilihnya presiden, wakil presiden dan pimpinan MPR dan DPR, serta terbentuknya suatu pemerintahan serta pimpinan lembaga-lembaga negara lainnya, sesuai hasil pemilu. Melihat suasana kebangkitan kesadaran politik masyarakat, maka besar kemungkinan partai-partai yang betul-betul reformatif dan demokratis bersama-sama memperoleh kursi terbanyak. Maka koalisi demokratis yang dibentuk tidak bersifat kompromis. Kekuasaan pemerintahan reformatif, demokratis dan transparan ini akan mendapat perlawanan oposisi dari golongan "Statusquo". Terutama ketika pemerintah melaksanakan program penanganan KKN yang konsisten, pembaruan perundang-undangan kolonial dan anti demokratis, dan pengubahan ekonomi kapitalis konglomerat menjadi ekonomi kapitalis dimana peranan negara mengambil posisi yang menentukan demi pelaksanaan prinsip keadilan sosial. Karena tidak ada jalan lain, kekuatan "Statusquo" terpaksa untuk sementara beralih peranan menjadi 'oposisi' yang tidak loyal. Oposisi yang sewaktu-waktu akan 'main kayu' kapan saja muncul kesempatan itu. Tapi pemerintah baru akan bisa berfungsi. Jika pemerintah yang baru konsisten dalam melaksanakan tuntutan reform dan demokratis yang diperjuangkan massa,maka dengan sokongan massa rakyat yang luas, kestabilan dan pemulihan ekonomi bisa terlaksana secara berangsur.Dalam situasi seperti ini perkembangan Indonesia sebagai negara hukum yang madani, berkeadilan sosial serta demokratis dan menghormati HAM, akan berlangsung dengan mantap. Kemungkinan Ketiga: Hasil pemilihan adalah "fifty-fifty". Artinya imbangan kekuatan antara golongan "Statusquo" dengan golongan "Reformasi/demokrasi" berimbang. Atau ada sementara parpol yang semula ikut memperjuangkan reformasi, untuk kepentingan golongannya yang picik melakukan 'deal' dengan kekuatan "Statusquo, sehingga, terbentuklah suatu pemerintahan yang program politiknya sangat kompromistis antara demokrasi dan politik dari kekuasaan Orba yang lama. Amat mungkin pemerintahan yang terbentuk itu tidak banyak beda dengan pemerintahan Habibie/Wiranto yang sekarang ini. Mereka akan berkuasa di dalam waktu tertentu. Keadaan ini akan mengecewakan massa rakyat yang luas. Maka perjuangan untuk merealisasi tuntutan reformasi, untuk ditindaknya koruptor-koruptor kakap model Suharto c.s., untuk perbaikan kehidupan sehari-hari , akan terus berlangsung.Perjuangan ini bisa makan waktu lama. Meskipun kekuasaan tsb tidak sesuai dengan harapan rakyat , ia tokh tetap dapat bantuan Barat, IMF dan Bank Dunia.Karena, demi keselamatan modal dan kepentingan ekonomi lainnya, Barat sangat tidak berkepentingan dengan Indonesia yang tidak stabil. Dari tiga prediksi ini, yang mana yang paling mungkin? Itu sepenuhnya tergantung pada bersatu erat atau tidaknya kekuatan moral dan politik, yang memperjuangkan reformasi dan demokrasi.Tergantung pada konsisten tidaknya dengan program reformasi dan demokrasi. Tergantung erat tidaknya bersandar pada kekuatan seluruh rakyat. Untuk mencapai tujuan tsb partai-partai pro Reformasi harus betul-betul 'bercancut tali wondo' dan menghadapi keadaan dengan semangat 'rawe-rawe rantas, malang-malang putung". Dan jangan lupa, kekuatan reformis dan demokratis juga terdapat di dalam angkatan bersenjata. Angkatan bersenjata juga merupakan bagian dari masyarakat itu. Maka perlu mendapatkan perhatian yang sewajarnya. Sejarah Republik Indonesia menunjukkan bahwa setiap perubahan penting di Indonesia, apakah itu perubahan kearah positif ataupun negatif, angkatan bersenjata RI selalu memainkan peranan penting. Sering-sering menentukan! * * * ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 May 1999 jam 17:02:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
