----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://click.indo-news.com/cgi-indo-news/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Sepulang sekolah hari Senin itu, Bonang pergi menjenguk
ibunya yang berjualan piring,pajangan  dan asbak murahan
bercampur dengan kaos kaki serta celana dalam merek Hings
di emperan Pasar Bendungan Hillir. Sampai sore dia membantu
merayu orang orang yang berjalan keluar masuk pasar untuk
membeli barang barang bermutu jualan ibunya itu dengan
teriakan khas orang Batak yang mampu menenggelamkan
suara berisik mesin bemo serta  mengalahkan Anwar,
pedagang kaki lima asal Pariaman yang terkenal memark up
profit "Kaos sekali cuci rontok "jualannya  seperti proyek proyek
keluarga Cendana sebesar 500 persen dgn modal kecil
atau tanpa modal sama sekali.

Sore itu seperti biasanya dia mengunjungi salon si Memet.
Dan jelas saja Memet bercerita tentang kedatangan seorang
Bidadari wangi yang mencari Bonang dengan mobil mengkilap
bersupirkan " Menpangan AM Saifudin " Betapa terkejutnya
Bonang tanpa basa basi dia segera pulang. Dalam penerbangan
dengan bemo dari Bendungan-Tanah Abang Bonang duduk
disamping pilot yang bau ketiak dan hawa panas mesin yang
menguap memasak pantat. Tapi bagi orang miskin panasnya
Bajaj atau bemo jelas adalah seperti sauna bagi orang elit.
Dan Bonang menikmati perjalanan penuh getaran melewati
Pejompongan,menembus Penjernihan bebelok ke Karet
Kubur sambil terus memikirkan Nisye kekasih fatamorgana
telah merampas bagian terbesar dari jiwanya secara brutal,
yang membuatnya gila, yang membuatnya lupa dengan Komariah.
sambil tidak lupa mencubit cubit lengan kiri, seolah olah dia
ingin meyakini semua itu bukan mimpi.

Sejak pulang Bonang mengurung diri dalam kamar.
Dia bersemedi mencari ilham untuk mencari manuver terbaik
yang bisa mendekatkan dirinya pada Nisye. Semalaman dia
tidak minum dan makan, Ketika Ibunya mengetok pintu triplek
kamar yang didominasi poster Sukarno dan Oma Irama idola keluarga
Bonang, dia tetap tidak mau membukakan barang sedikitpun.
Dia cuma menjawab " Sudahlah bu,aku nggak mau makan hari
ini  aku sedang kosentrasi buat ulangan las ketok ducco  besok " .
Bahkan dia tidak membukakan pintu buat Bapaknya sekalipun.
Ketika ditanya dari luar pintu " Nang , ada apa denganmu nak ?"
Bonang menjawab " Sudahlah Pak, aku lagi belajar teori
tehnik membubut mesin..jangan ganggu aku " dengan galaknya
sehingga membuat keder si Ucok adiknya yang tadinya berusaha
menanyakan mengapa uang 7000 rupiah di celengennnya raib
5 menit setelah Bonang masuk kamar dia 2 hari yang lalu.

Malam musim summer di Jakarta adalah malam yang gerah.
Dan karena satu satunya musim di Jakarta adalah summer,
maka semua rumah orang elit sibuk menyalakan AC pendingin
ruangan. Nisye seperti Bonang tidak bisa tidur malam itu.
Dia mendekap selusin boneka sahabatnya yang lucu lucu
di atas tempat tidur dibalik selimut halus yang melindunginya
dari sengatan AC sentral yang berbisik halus membikin nyaman
suasana. Dan disebuah rumah setengah permanen di Jalan
Haji Sabeni, di gang seng , Bonang juga terbaring keringatan
seperti biasanya dia lalu berdiri menyalakan AC merek natural
dengan membuka lebar lebar jendela kamar. Angin yang lumayan
sejuk masuk menyambut Bonang di kamar, angin AC ini adalah
angin yang susah ditebak. Bila mereka memintas dari barat menyapu
wc umum yang terletak 3 gang dari sini sebelum mencapai kamar Bonang,
Dia jelas harus menutup pintu jendelanya  lagi rapat rapat..

Matahari pagi muncul di langit timur. Bonang yang telah mati matian
mencari ilham dengan bergadang semalaman sambil mendengarkan
lagu lagunya Iis Sugianto, segera beranjak duduk dan menulis
surat :

Selamat sore Nisye,
Kini aku sudah tahu bahwa getaran gelombang perasaanku
juga melanda dirimu. Terus terang saja ini agak melegakan
perasaanku. Setidaknya aku tidak lagi merasa penasaran...
Aku dengar dari si Memet, kamu mencari alamatku, barangkali
kamu kesasar tidak ketemu karena rumahku memang kecil
menyempil dan gang diluar tidak bisa di masuki mobil..
Lain kali akan aku ajak kamu datang kerumah untuk berkenalan
dengan keluargaku, kita bisa makan nasi uduk sama sama
di Kebon Kacang asal kamu tahan menjadi pusat perhatian
tetangga tetanggaku yang rese ingin tahu masalah orang.

Entah kenapa aku merasa begitu sayang padamu,
Berkenalan denganmu barangkali adalah garis nasibku.
Barangkali status hidup kita berbeda jauh. Kamu adalah
ikan hias mahal yang hidup di air jernih seperti ikan
laut atau arowana yang sering kutatapi di aquairum
penjual ikan di Jalan Sumenep setiap kali bolos sekolah.

Nisye,kamu tentu tahu bahwa
aku adalah seekor ikan gabus di kali yang  keruh,duniaku
adalah sampah dan ampas manusia. Ikan hias sepertimu
setiap kali mendongkak melihat keatas permukaan air
yang terlihat adalah wajah wajah ramah penuh kekaguman,
sedang ikan sepertiku setiap kali mendongkak keatas yang
terlihat adalah barisan pantat bersarung yang membombardir
kami habis habisan..

Aku harap kamu mengerti akan semua itu.

Nisye, aku mulai merindukan kamu.
Siksaan ini harus segera di hentikan.
Bila kamu bersedia, aku ingin bertemu kamu..

TTD

Bonang Tape Bolong

NB: Sejak melihat kamu, si Nuraini asisten si Memet
mengaku pada teman temanya bahwa dia punya kenalan
baru anak Mentri..

--

Selesai mandi Bonang bergegas menemui Pak Hasan  Rasyidi
ketua RT 14 merangkap rentenir yang menjual jasa utang
dengan bunga lebih tinggi dari bunga BRI plus komisi.
Bonang meggadaikan radio bututnya  beserta 10 koleksi
The Best of Dangdut 80-90 sebesar 7000 rupiah,lalu dia
setengah berlari menemui Abung yang sedang memanaskan
Bajaj. Bonang menyerahkan sepucuk surat dan sebungkus
Jisamsu pada Abung untuk diserahkan pada Nisye dan Tigor
sang satpam siang nanti.Wajah Abung berseri seri  seperti
Konglomerat Cina setiap kali menerima komisi ketika menerima
honor yang lumayan dari Bonang.

Hari itu Bonang pergi sekolah dengan langkah ringan.
Ulangan mengelas dan membubut dilewati dengan gampang.
Wajah dia penuh senyum bahkan Pak Kosim Guru PMP
yang tampangnya rusak seperti Rudini sempat terheran heran
" Hari ini tumben di Bonang mau duduk didepan mencacat
Pasal Pasal UUD 45 dengan tekun " Biasanya setengah pelajaran
Bonang akan permisi kekamar kecil untuk tidak kembali lagi..

Selasa itu, selesai sekolah Bonang tidak  mengunjungi Ibunya
di Bendungan Hillir.Baru pertama kali dalam 3 tahun ini
Bonang mendapatkan cuti mendadak secara sepihak.
Bonang langsung pulang , mengganti baju , makan dengan
lahap dan keluar menunggu Abung pulang di gang sebelah.

Bonang duduk di depan warung rokok, detik berganti menit.
Menit menggumpal menjadi jam. Matahari telah memerah dilangit
barat, Tapi Abung belum juga pulang. Hati Bonang gelisah menunggu
berita dari Abung, dia ingin tahu apakah suratnya benar benar
telah sampai ketangan Nisye melalui Tigor.

Tapi sosok Abung tidak kunjung datang.
Magrib telah tiba dan berlalu. Suara azan Isya
telah mengumandang bersahut sahutan
menggema di udara .Abung yang seharusnya pulang 2 jam
lalu untuk digantikan dengan supir bajaj yg lain di sift malam ,
seperti hilang di telan bumi.

Abung Missing in Action...


Hasan Basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 May 1999 jam 00:33:40 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke