----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Stockholm, 8 Juni 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

PARTAI POLITIK SEKULER MENANG PEMILU DI DAULAH PANCASILA DENGAN
UUD'45-NYA YANG SEKULER BUKAN BERARTI ISLAM REDUP.
Ahmad Sudirman
Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA.


Untuk PK, PUI, PPP, PSII-1905, PSII, MASYUMI, KAMI, PP, MASYUMI BARU,
PKU, PBB, PNU, PAN, PKB, GOLKAR dan PDI-P (Indonesia).

Pada tanggal 2 Juni 1999, empat hari sebelum hari pemilu dilakukan pada
tanggal 7 Juni, telah saya lambungkan tulisan "Ditinjau dari hubungan
Islam dengan negara, muncul kelompok Muslim dengan Islam-nya dan
kelompok sekularis dengan Pancasila-nya". Dimana dalam tulisan itu, saya
menyatakan bahwa,

"Kemudian golongan yang menjadikan Pancasila sebagai dasar gerakan
perjuangan partainya yang anggotanya kebanyakan kaum muslimin diwakili
oleh Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),
Partai Islam Demokrat (PID), Partai Indonesia Baru (PIB), Partai Abul
Yatama (PAY), Partai Ummat Muslimin Indonesia (PUMI), Partai Solidaritas
Uni Nasional Indonesia (SUNI), Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI).
Sedangkan partai-partai politik lainnya yang anggotanya adalah tidak
mementingkan kaum Muslimin diwakili oleh Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, Partai Rakyat Indonesia (PRI), Partai
Nasional Demokrat (PND), Partai Cinta Damai (PCD), Partai Rakyat
Demokratik (PRD), Partai Daulah Rakyat (PDR), Partai Katolik Demokrat
(PKD), Partai Buruh Nasional (PBN), Partai Kristen Nasional Indonesia
(PKNI), Partai Nasional Indonesia massa Marhaen dan tujuh belas
partai-partai politik lainnya yang tidak saya sebutkan disini...Dengan
adanya partai-partai politik yang sekuler dengan anggotanya sebagian
besar kaum muslimin, maka saya sudah dapat menduga bahwa hasil pemilihan
umum hari Senin tanggal 7 Juni 1999 adalah akan dimenangkan oleh
partai-partai sekuler yang dipelopori oleh PAN, PKB dan
PDIP...kesimpulan akhir dari tulisan ini adalah siapapun yang berhasil
keluar dari arena pemilihan umum di Daulah Pancasila dengan UUD'45-nya
yang menerapkan trias politika dengan sistem demokrasi baratnya,
tidaklah menunjang kepada pengembalian Daulah Islam Rasulullah dengan
Undang Undang Madinah-nya. Jadi, ada atau tidak ada pemilihan umum di
Daulah Pancasila ini, usaha untuk pengembalian Daulah Islam Rasulullah
dengan Undang Undang Madinah-nya akan tetap berjalan terus.Insya Allah".

Ternyata, hari ini, Selasa, tanggal 8 Juni 1999, satu hari setelah hari
pemilu (walaupun hasilnya belum lengkap), saya membaca hasil pemilu,
partai politik sekuler yang dipelopori oleh PDI-P dibawah Megawati
Soekarnoputri meraih suara yang besar, terutama di Jakarta, ibu kota
yang mempunyai penduduk terpadat dibanding dengan kota-kota lainnya.

Seperti yang telah saya tulis dalam kutipan tulisan diatas bahwa, usaha
pembentukan kembali Daulah Islam Rasulullah dengan Undang Undang
Madinah-nya tidak dipengaruhi oleh ada atau tidaknya pemilu di Daulah
Pancasila dengan UUD'45-nya yang sekuler, atau siapa yang berhasil
keluar sebagai pemenang dari pemilu tersebut tidak akan mempengaruhi
Daulah Islam Rasulullah dengan Undang Undang Madinah-nya.

Jadi, kalau ada yang menganggap bahwa kekalahan dari partai-partai
politik yang dasar perjuangannya Islam adalah menunjukkan masih lemahnya
keyakinan kepada Islam dari sebagian besar masyarakat Indonesia, atau
sebagian besar penduduk Indonesia yang mengaku muslim masih menganggap
bahwa Islam adalah agama pribadi dan tidak ada hubungannya dengan
politik, pemerintahan dan negara, maka anggapan-anggapan itu, menurut
saya, memang ada benarnya. Jadi bukan Islam-nya yang sudah redup,
melainkan keyakinan terhadap Islam yang telah meredup.

Dalam tulisan "Menuju kesatuan ummat dengan misi menegakkan amar ma'ruf
nahi munkar guna memelihara kesatuan dan keutuhan bangsa" yang
dipublisir pada tanggal 25 Mei 1999, saya menulis bahwa,

"kalau mau dijabarkan lebih luas, maka metode Rasulullah diatas dapat
diarahkan kepada empat arah yaitu, yang pertama, menjurus ke
dakhwah-sosial-masyarakat, kedua, menjurus ke
politik-pemerintahan-negara, ketiga, menjurus ke peningkatan
pendidikan-ekonomi-hukum, dan keempat, menjurus ke
keamanan-perdamaian-persatuan-kestabilan.

Jadi jelas, kalau hanya menggunakan pendekatan politik saja tidak
mungkin berhasil. Karena itu harus dilengkapi dengan
pendekatan-pendekatan lainnya. Tetapi tentu saja dalam pendekatan
politis ini, misalnya melalui partai-partai politik Islam dan
organisasi-organisasi Islam yang memiliki visi persatuan, keadilan,
amanah dan perdamaian dengan misi membangun kembali satu masyarakat
muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan Islam dimana
Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan menjalankan
hukum-hukum Allah dengan adil dalam naungan Daulah Islam Rasulullah
dengan Undang Undang Madinah-nya, yang berdasarkan akidah Islam yang
tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras dengan tujuan
untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah SWT. Dimana dalam melaksanakan
misi ini tidak mengenal kompromi terhadap ideologi-ideologi lain dan
metode-metode lain selain mengikuti akidah Islam dan metode Rasulullah".

Nah, dakhwah melalui jalur politik dengan partai-partai politiknya
adalah sebagian kecil dari dakhwah Islam secara keseluruhan. Artinya,
kalau usaha melalui jalur politik ini mengalami jalan rumit dan hampir
buntu, bukan berarti dakhwah Islam berhenti sampai disitu, melainkan
masih ada jalur lainnya yang bisa dijalankan.

Hanya yang perlu ditekankan disini adalah, perjuangan dan dakhwah
melalui jalur politik-pemerintahan-negara ini harus ada ketegasan sikap,
visi, misi, strategi dan usaha. Artinya, tidak mencampur adukkan,
ideologi sekuler, usaha dengan Islam. Karena kalau hal itu dilakukan,
maka usaha melalui jalur politik-pemerintahan-negara ini telah
menyimpang dari pada apa yang telah dicontohkan Rasulullah yang tidak
mengenal kompromi terhadap ideologi-ideologi lain dan metode-metode lain
selain mengikuti akidah Islam dan metode Rasulullah.

Terakhir dalam tulisan ini, saya menganggap bahwa, Penguasa Baru dari
partai-partai sekuler yang ikut pemilu sekarang di Daulah Pancasila
dengan UUD'45-nya yang sekuler ini tidak akan mengulang kembali strategi
dan kebijaksanaan Penguasa ORLA dibawah Soekarno dan Penguasa ORBA di
bawah Soeharto. Tetapi kalau itu terjadi, maka usia dari Penguasa Baru
Daulah Pancasila ini tidak akan lama.

Inilah sedikit tanggapan dari saya untuk PK, PUI, PPP, PSII-1905, PSII,
MASYUMI, KAMI, PP, MASYUMI BARU, PKU, PBB, PNU, PAN, PKB, GOLKAR dan
PDI-P.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Jun 1999 jam 16:10:43 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke