----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 6 Juni 1999

Hikmah Debat Capres yang "Payah"

Cerita ini bukan anekdot atau isapan jempol. Kejadiannya pekan
lalu, ketika Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid dari Partai
Kebangkitan Bangsa dihadapkan pada acara debat capres yang
diselenggarakan satu stasiun TV, dengan dua orang penanya utama
yakni Indria Samego dari LIPI dan Chusnul Maria dari
Universitas Indonesia. Hadir juga para mahasiswa yang tampil
sebagai penonton aktif.

Pertanyaan-pertanyaan yang dihunjamkan kepada Gus Dur, banyak
yang kurang bermutu, tidak tepat arah dan sasaran, bernada
insinuasi, yakni melecehkan pribadi Gus Dur, dan banyak yang
kurang nalar, berlawanan kelaziman pada suatu seminar ilmiah
yang menjunjung tinggi kode etik tanya-jawab di negara-negara
maju. Hampir tidak percaya semua pemirsa TV ketika seorang awam
bertanya: "Mana lebih sakti, Allah atau Pancasila?".

Dengan ketenaran seorang ahli bedah jantung yang berpengalaman,
atau pilot pesawat ruang angkasa yang sudah mengantongi ribuan
jam terbang, Gus Dur menjawab: "Pancasila adalah urusan
duniawi, dan Allah adalah urusan akhirat". Ini merupakan bukti
betapa ketabahan itu penting, dan kesabaran merupakan bekal
utama bagi pemimpin yang harus  memandu jutaan umat manusia,
yang belum mampu memisahkan metafisika dari filosofi duniawi,
mencampuradukkannya dan tidak ngeh bahwa pertanyaan itu bisa
mendatangkan bilahi kepada sang pemimpin yang prihatin atas
umatnya.

Apa sebenarnya latar belakang penyelenggaraan debat capres,
yang diselenggarakan tanpa penyusunan agenda, tata-tertib,
penekanan kepada kode etik tanya jawab yang sopan dan terarah,
sehingga maaf, lebih mirip kicau pasar burung? Marilah kita
dengan lebar dada dan rendah hati meneliti kekurangan pada diri
kita sendiri, dan sikap apa yang harus diperagakan, tanpa
membedakan personifikasi capres di hadapan kita, sebagaimana
diketengahkan pemandu acara berkali-kali. Baiklah dicatat di
bawah ini.

Dalam banyak perdebatan, tidak terkecuali dari sudut penanya
utama, yang akhir-akhir ini semakin marak, ialah apa yang
disebut argumentum ad verecundiam, yang dalam buku-buku
pelajaran tentang dasar-dasar elementer logika diterjemahkan
sebagai: "Suatu pelencengan alur gagasan karena uraian
dilandasi penghormatan atau kewibawaan seorang pakar atau
seorang tokoh penting dalam sejarah, dalam religi, dan
sebagainya. Uraian mana dibuat untuk memperkuat pendapat atau
proposisi, sekedar untuk membungkam mulut orang yang diajak adu
pendapat".

Yang jelas adalah pencampuradukkan berbagai disiplin,
metafisika dengan materialisme, atau yang sekarang sedang laku
adalah sejarah Orla menurut pandangan subyektif penanya,
dicampuradukkan dengan sejarah Orba menurut penataran P-4,
untuk kemudian dilemparkan kepada capres yang "apes" untuk
dicemoohkan hadirin. Ini sungguh bukan adat kesopanan bangsa
Timur dan sama sekali tidak bisa digolongkan kepada "budaya
adiluhung" bangsa Indonesia, dimana tatakrama dan kematangan
emosional wajib dikedepankan. Maka apa yang disebut argumentum
ad verecundiam, akan menelorkan kesalahan-kesalahan lain
seperti misalnya, apa yang disebut sebagai fallacy of wishful
thinking, yakni salah penalaran yang disebabkan seseorang
memaksakan suatu kesimpulan yang salah dengan jalan menyusun
suatu deret pertimbangan yang direkayasa untuk membenarkan
kesimpulan yang lancung itu.

Bahwa kesesatan penalaran bisa beranak-pinak, akan dirasakan
nanti, jika perdebatan memunculkan apa yang disebut sebagai
fallacy of neglected aspect, yakni salah penalaran yang terjadi
dalam acara debat yang "panas" dan "tegang", karena memaksakan
suatu hasil kesimpulan yang lebih tegas, tajam, meyakinkan,
akan tetapi melupakan pertimbangan-pertimbangan lain, yang
sangat perlu disertakan agar konklusi menjadi obyektif dan
tidak berat sebelah.

Maka, jangan merasa rumongso bisa nanging ora bisa rumongso.
Maksudnya, jangan membanggakan ratusan meter gelar, atau jasa
dalam mendirikan lembaga-lembaga pengkajian gagasan strategis
atau apalah namanya. Ambillah hikmah dari lawan bicara dengan
bijak dan kearifan, agar jangan mendapat gelar "ahli" dalam
menyelenggarakan "debat kusir", dan ahli dalam menyulap hasil
jajak pendapat. Paling tidak, kita akan terhindar dari
penggolongan acak dalam daftar lawak nasional.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Jun 1999 jam 11:57:09 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke