----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Ketika saya masih SD, Ibu saya menyewa seorang pemuda Jawa
bernama Siman untuk memompa air memenuhkan bak mandi
setiap hari. Karena saat itu mesin  pompa listrik merek Sanyo
masih mahal harganya, dan karena pompa tangan itu luar biasa
keras sehingga membuat kami 6 bersaudara berantem mulut
melulu setiap hari, mau menang sendiri dan adu malas makanya Ibu saya
akhirnya menyewa Siman.

Ibu Siman kebetulan adalah tukang cuci kami, setiap pagi ketika
matahari masih merah menguasai langit timur, rumah kami di
jalan Haji Jalil itu sudah mulai berisik. Tangan Siman memompa
dengan tangguhnya menderak derak batangan pompa dari atas
kebawah secara mantap. Sedang Ibunya juga mulai sibuk menggesek
gesekan pakaian kotor di papan cuci. Tangan orang tua dari Bojolali
yang mulai keriputan ini nampak basah kuyup oleh Rinso dan kadang
kadang Naso. Menjelang jam 7, Siman biasanya telah selesai memenuhi
bak mandi, seperti biasanya dia akan membantu ibunya memeras pakaian
yang masih basah sebelum di gantung ditiang jemuran.
Bila kita bisa melihat cara  Siman yang tangannya kokoh berurat itu
memeras,kita seperti melihat sebuah pertunjukan seni,
Siman akan menggertakan gigi geraham sambil memelintir pakaian basah
dengan sekuat tenaga. Air berceceran keluar dari baju basah menjadi lembab.
Kita harus mengakui  Siman memang seorang pemeras yang baik...

Dulu itu saya mengakui keperkasaan Siman,saya sempat berpikir
barangkali cuma Siman yang bisa memeras baju sedemikian kuat,sampai
akhirnya suatu saat saya mengetahui bahwa teman teman saya anak polisi di
Komseko Tanah Abang, setiap kali mencuci pakaian kotor bekas main bola
bersama sama di halaman pemakaman Karet Kubur, selalu lebih cepat
selesai dari kami kami yang bukan anak polisi. Saat itu jelas mesin pengering
belum ada. Dan jemuran kita sama sama berada di bawah matahari yang sama.
Tapi herannya bagaimana bisa pakaian mereka lebih cepat mengering
dari pakaian saya dan Dedi, anak Pak Sarbini.

Misteri kecepatan mengeringkan pakaian itu tidak bisa saya pecahkan
sekian lama sampai saya membaca berita tentang Korupsi Jaksa Agung
Andy Ghalib baru baru ini.

Dulu waktu di SMA saya juga tidak percaya dengan desas desus bahwa
mengerinkan baju basah di kompleks kejaksaan juga sangat efesien
seperti juga di kompleks Polisi.

Seharusnya dulu saya berani melakukan penelitian bahwa konon
karena Polisi dan Jaksa itu jarang punya kerjaan yang berarti,
selama di rumah, mereka adalah suami yang setia pada istri.
Jadi tidak heran ketika Istri mereka mencuci pakaian, mereka
tidak canggung membantu memeraskan cucian. Dan ini pointnya..
Tangan mereka ternyata lebih kuat dan perkasa dari tangan Siman,
Bahkan jauh lebih kuat dari tangan pegulat, petinju bahkan kuli
beras di Tanjung Priuk. Jika Siman harus mengeluarkan seluruh
tenaga dalam dan enersi dan memelintir berkali kali, mereka cuma
mempergunakan otot sedikit, pakaian langsung kering sekering keringnya.

Tidak heran,Karena sesungguhnya merekalah pemeras yang top,
dan terkenal sangat profesional . Mereka adalah pemburu baju basah
yang piawai, pandai menggunakan kiat dan penuh taktik.Mereka culas
tapi sayang istri dan anak.Mereka adalah penganut dokrin Ghalibisme..

Ibunya Siman mungkin sudah mati sekarang ini. Keluarga miskin
yang tidak punya skill di belantara metropolis memang tidak punya
pilihan lain selain mati perlahan kurang gizi atau kembali ke gunung.

Sedang Siman kurang jago peras, pergaulan ikan cere ini tidak akan
pernah bisa menjangkau kasta pemeras elit dan menjadi pengikut
para Jaksa dan Polisi, juara olimpiade peras yang dilatih oleh
seorang Bugis dan Tentara ( dua duanya adalah nilai minus ..melihat
kenyataan bahwa setiap orang Bugis atau Militer yang menjadi
pejabat, semua yang mereka hasilkan adalah trash dan manipulasi )

So, walaupun saya memang selalu alergi dengan para lalat hijau,
dan selalu enek dengan semua orang Makasar di Kabinet.
Saya tidak bisa menyangkal... Ghalibisme adalah suatu sistem
kreative terbaik temuan gang SDM dan SDKJ ( semua dari Keratonan
Jawa ) yang teori perasnya sudah dipraktekan oleh Nurdin Halid
Beddu Amang ( Hoi mang...gue tahu elo punya 3 rumah di Beverly
Hilss mang, ingat nggak gue dateng saat si Mutia anak loe diwisuda
dari American College di Culver city , mang? )

So, jika anda melihat begitu banyak tabungan dan deposit
Pak Ghalib beserta Ibu..nggak usah kaget dong....

Uang uang pengusaha papan tengah itu jelas  adalah uang perasan.
Dan uang uang  anjing anjing Cina Konglomerat itu adalah sabun
Naso atau Rinso nya. yang berfungsi melicinkan tangan Ghalibku sayang..
Selamat datang di era Ghalibisme...


Hasan Basri

[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Jun 1999 jam 14:08:41 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke