----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, Kamis, 10 Juni 1999

Siapa pun Presiden Nanti, Harus Didukung,
Wiranto: Jangan Nodai Demokrasi

JAKARTA (Media): Menhankam/Panglima TNI Jenderal Wiranto
meminta semua pihak untuk tidak menodai demokrasi yang sudah
berjalan baik, terutama saat penghitungan jumlah suara tengah
dilangsungkan.

"Jangan ada ulah-ulah yang tidak perlu yang justru menyurutkan
perkembangan yang sudah baik saat ini, terutama ketika
penghitungan jumlah suara sedang dilaksanakan," ujarnya.

Wiranto mengharapkan masyarakat untuk bersabar karena
penghitungan suara memang tidak bisa serentak dilihat hasilnya.
"Mengenai penghitungan suara ini dibutuhkan kesabaran,
pengertian, dan sikap yang lebih matang sehingga suasana aman
dapat tetap dipertahankan," jelasnya menjawab pertanyaan
wartawan sebelum Sidang Kabinet bidang Ekuin di Bina Graha,
kemarin.

Perkembangan demokrasi saat ini sudah membaik, katanya, dan
jangan lagi surut ke belakang. "Kemarin kita menghadapi pemilu,
di mana mau tidak mau, suka tidak suka, bangsa Indonesia sudah
terseret pada kepentingan kelompok, kepentingan partai. Dan
sekarang semua telah usai, tinggal menunggu hasilnya,"
tuturnya.

Ditanya esensi apa yang membuat situasi sekarang aman sementara
sebelumnya diramalkan keadaan akan memanas, Pangab mengatakan
banyak faktor yang menunjang. Sebenarnya, menurut dia,
masyarakat awam mendambakan suasana serta rasa yang aman dan
tenteram.

Dengan adanya beberapa kejadian setahun terakhir ini, menurut
dia, masyarakat sesungguhnya sudah jenuh menghadapi berbagai
kerusuhan dan kegiatan brutal.

Mendukung

Sementara itu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan mendukung
dan mengamankan siapa pun yang terpilih menjadi presiden pada
SU-MPR 1999, asalkan putra terbaik bangsa dan proses
pemilihannya berlangsung dalam suasana demokratis.

"Kalau memang putra terbaik dan dikehendaki rakyat serta
pemilihannya berlangsung demokratis, mengapa tidak," ujar
Gubernur Lemhanas Letjen Agum Gumelar dalam diskusi Evaluasi
Pemilu dan Indonesia Pascapemilu 1999 di Jakarta Media Center
(JMC), Jakarta, kemarin.

Diskusi yang diikuti para wartawan itu juga menampilkan
pengamat politik Nurcholish Madjid, Koordinator Pelaksana
Harian Jaringan Universitas Pemantau Pemilu (Unfrel) Todung
Mulya Lubis dan Sekjen DPP PAN Faisal Basri.

Menyinggung sikap politik TNI saat ini, Agum mengatakan bahwa
TNI telah berupaya mengujudkan netralitasnya terhadap semua
parpol peserta pemilu. Netralitas itu berlangsung sejak proses
persiapan pemilu hingga SU-MPR mendatang.

Senada dengan pernyataan Agum, Mendagri Syarwan Hamid minta
kepada semua pihak terutama parpol, agar mendukung siapa pun
yang nantinya memenangkan pemilu, "Kita harus mengakui yang
menang," tandasnya.

"Mengurus negara bukanlah pekerjaan gampang. Jadi, siapa pun
presidennya harus didukung, kalau tidak rakyat akan makin
terpuruk."

Syarwan mengemukakan hal itu seusai menemui Ketua KPU Rudini di
Gedung KPU, kemarin. Kepada mantan Mendagri itu, Syarwan secara
khusus mengucapkan selamat atas terselenggaranya pemilihan umum
dengan lancar. "Pak Syarwan datang ke KPU hanya sekadar
mengucapkan selamat, makanya hanya sebentar. Sekarang masalah
berikutnya adalah bagaimana penghitungan suara, serta
menggalang wawasan yang lebih sabar dan menghilangkan rasa
curiga, hanya itu yang dibicarakan," papar Rudini kepada
wartawan yang mengerumuninya.

Ketua DPP Golkar Fredy Latumahina menyatakan, kalah dan menang
dalam pemilu merupakan hal biasa --dalam percaturan politik.
Bahkan menurut dia, kekalahan kali ini akan memberikan hikmah
bagi Partai Golkar untuk menemukan jatidirinya dalam memasuki
milenium ketiga.

"Kalah menang dalam pemilu itu biasa. Malah saya melihat,
kekalahan ini akan memberikan hikmah bagi Golkar untuk
menemukan jatidirinya yang sejati memasuki milenium tiga,"
katanya berkaitan dengan tertinggalnya perolehan suara
(sementara) Golkar dibandingkan PDI-P dan PKB di Jakarta,
kemarin. (Rid/Awi/Wdh/Gss/HA/N-1)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Jun 1999 jam 11:56:54 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke