----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 13 Juni 1999

Apakah Kita Sudah Siap Mental?

BANGSA Indonesia sedang menghadapi waktu yang sangat menentukan
7 Juni 1999 adalah hari Pemilu. Beberapa hari kemudian kita
akan tahu apa pilihan rakyat yang akan dipercaya mengatur rumah
tangga bangsa.

Dalam kamus saya Pemilu tidak mengenal istilah kalh atau
menang. Sebab, Pemilu menurut saya adalah penjajakan pendapat
untuk menemukan cara terbaik dan siapa yang dianggap paling
mampu mengatur rumah tangga bangsa. Jadi yang menang atau kalah
tetap adalah bangsa Indonesia. Kalau pilihannya benar, maka
cerahlah hari depan bangsa, tapi kalau salah, tragedi nasional
jadinya.

Tetapi istilah kalah dan menang telah terbiasa dipakai maka
saya juga akan memakai istilah itu. Siapapun yang termasuk
golongan kalah dan siapapun yang termasuk golongan menang,
kedua-duanya harus berhati besar dan sportif dalam menerima
arti kata besar. Yang kalah harus berhati besar dan sportif
dalam menerima kekalahan kali ini, dan yang menang harus tetap
memelihara jiwa besar dalam kemenangannya karena semuanya
secara bersama-sama menghadapi pelaksanaan tugas maha berat.
Untuk dapat melaksanakan tugas berat, seperti diamanatkan
reformasi perlu ditempa perpaduan tenaga semua kekuatan dan
aliran agar sukses.

Rumah kita memang perlu perbaikan dan pembersihan total, karena
keadaannya sudah kotor dan tidak terpelihara selama puluhan
tahun. Kita harus bersatu padu dalam pembersihan rumah yang
baru kita duduki itu. Dan "pemilik lama" yang telah terusir
masih berupaya keras untuk mendudukinya kembali yang dalam
usahanya ini dibantu oleh kroni-kroninya yang telah ikut
menikmati kebaikan hati pemilik lama, meskipun diketahui bahwa
cara-cara perolehan "rezeki" itu tidak selalu bersih.

Meskipun menurut Prof Muladi tidak ada istilah status quo,
dalam kehidupan politik yang nyata keadaan itu ada. Para
reformis menghadapi kubu status quo yang tidak boleh dipandang
enteng. Kadang-kadang saya berkesan bahwa pers juga ikut
memelihara image status quo, khususnya pemimpin puncaknya
beserta keluarga. Penampilan mantan presiden itu dan keluarga
masih merupakan topik yang hangat.

Kalau datang ke polisi atau kejaksaan Pak Harto dan keluarga
diberitakan secara besar-besaran sebagai pengakuan bahwa figur
itu masih memiliki arti politik penting dalam news value yang
besar, sehingga diusahakan supaya tidak dilupakan masyarakat.
Kita selalu baca Pak Harto atau putra-putrinya kalau datang
terus ditulis jam berapa datang, memakai baju batik warna apa,
mobil apa yang dipakai, warnanya apa dan nomor polisi berapa,
yang kesemuanya ini tidak ada relevansinya dengan soal yang
sedang dihadapi. Lalu televisi menyoroti yang bersangkutan yang
dikerumuni pengacaranya dan pengawal pribadi. Apakah mungkin
kalau pers mencuekkan saja peristiwa yang menyangkut tokoh ini
agar lambat-laun hilang dari perhatian masyarakat? Suatu
harapan kosong.

Yang saya ingin serukan adalah, mari kita bersatu padu sebab
persatuan kita semua akan menentukan nasib negara yang sedang
kesulitan serius. Jangan kita terpecah belah.

Sangat disayangkan dalam masa yang masih sulit ini, pemberitaan
di The Jakarta Post Kamis 3 Juni mengenai anjuran Majelis Ulama
Indonesia yang menentukan tuntunan bagi umat Islam untuk
memilih Parpol Islam pada tanggal 7 Juni. MUI bukan suatu
Parpol, tapi badan yang harus membina dan memimpin umat Islam
untuk mencapai kehidupan yang diridhoi Allah SWT, dan bukan
mencampuri urusan politik.

Seruan ini ditandatangani oleh Ketua Umum MUI Prof Ali Yafie,
Sekjen Nazri di Jakarta dan oleh pimpinan Muhammadiyah Syafii
Ma'arif dan Muchlas Abror di Yogyakarta. Suatu seruan yang
tidak pada tempatnya dan menyulitkan usaha mempersatukan
Bangsa.

Soegih Arto
Jl. Metro Alam X No TE 43
Pondok Indah, Jakarta Selatan

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Jun 1999 jam 09:42:54 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke