----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

KOLOM SUPANGKAT:

        MENGAPA ISLAM JADI ISSUE AKHIR AKHIR INI ?
                PNI SIDIK RESPEK ISLAM, OSA-USEP DIPIMPIN SANTRI

Serangkaian skandal politik telah mengakibatkan Islam semakin mendapat sorotan
baik oleh dirinya sendiri umat Islam, maupun oleh umat agama lain, terutama
umat
Kristen di luar negeri. Hari Minggu ini harian New York Times telah
menyorotinya.

Pada hemat saya Islam diisuekan setelah Megawati dikecam oleh Menterinya
Habibie yang Muslim bahwa ia bisa mengalahkan Mega karena dia tidak beragama
Islam. Umat Hindu Bali, dll memberikan reaksi hebat, kemudian mereda, namun
issue bahwa PDI-P telah didominasi Kristen semakin meluas di kalangan Islam.
Tuduhan ini bukannya tidak beralasan.

Sebagai bekas orang PNI jaman Sidik Djojosukarto, kemudian disambung dengan
Osa-Usep, kemudian sejak itu partijloos, saya mengetahui PNI "inside out".
Jaman PNI Sidik, Islam mendapat perhatian utama oleh DPP.  Anggota DPP yang
mengepalai seksi Islam adalah Sabilal Rasjad dibantu oleh Hussein Kartasasmita
(bapaknya Ginanjar). Bersenjatakan respek terhadap Islam dalam DPP ini, maka
kami berani berkampanye di kandang Masyumi. Sabilal adalah kiayi, Hussein
santri.

PNI pernah punya Ketua Umum yang santri dalam diri Osa Maliki - pernah
menjadi issue besar waktu Hadisubeno melontarkan istilah "Islam abangan" - na-
mun tokoh DPP kiayi yang khusus ditugaskan merangkul umat telah memberikan
citra yang baik kepada partai justru pada jaman Mayumi yang fanatik di mana
Kiayi
Isa Anshari pernah melontarkan istilah "kafir" kepada Muslim abangan.

PDI-P Mega tidak punya anggota DPP kiayi yang cukup kondang cukup vokal.
Inilah yang menjadi sebab sorotan Islam karena mereka sudah tahu Mega akan
menang berkat anti-Suhartonya dan telah disisihkan pula oleh Habibie yang
mengangkat PDI boneka Golkar sebagai Menteri Kabinetnya.

PNI Osa-Usep dipimpin oleh Osa Maliki, seorang santri, putera seorang Amil
yang berkepribadian rendah hati pula. Dalam era pasca-G30S, PNI telah menjadi
partai kesayangan rakyat mayoritas karena rakyat mengerti PNI telah
diinfiltrasi
oleh Surachman yang komunis sehingga pengikutnya menjadi ASU yang terkutuk.

PNI Osa-Usep belum sempat  membentuk DPP Islam karena segera dipaksa me-
nerima faksi ASU dalam Kongres Bandung sehingga dari partai kesayangan rak-
yat menjadi partai yang kembali dicurigai rakyat dan akhirnya citranya
terpuruk
dan menjadi partai gurem walaupun ganti nama menjadi PDI. Suryadi jaman Osa-
Usep masih anak bawang hingga tak berhasil meraup kembali pengaruh Osa-Usep.
PNI ASU terkenal Islamophobia walaupun Suryadi dipompa oleh Ali Murtopo.

Ada yang mengusulkan agar Mega merangkul Yusril atau Didin untuk memperba-
iki citranya. Namun sebaiknya Mega mengangkat orang PDI sendiri yang kiayi
kondang sebagai anggota DPP dalam tradisi Sabilal Rasyad/Kartasasmita.
Memang sudah agak terlambat untuk memulihkan citra PDI-P sebagai pihak yang
merespek Islam. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak samasekali.
(Koreksi: sistem proporsional pemilu memang membolehkan suara parpol kecil
untuk bergabung, namun dalam prakteknya sulit sekali kalau tidak mustahil
untuk melaksanakannya karena sektarianisme dan jiwa non-politician kebanya-
kan pimpinannya, sedangkan ancaman kepunahan sesudah pemilu 2004
tetap tak dapat ditolong lagi akibat UU Pemilu 1999 yang kejam).

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Jun 1999 jam 13:11:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke