----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Menjadi tua itu adalah hal yang biasa. Seperti kematian, tua adalah
sebuah kepastian masa depan  setiap mahluk bernyawa, Dalam
usia di ujung hidup begini, wajar saja kita memberikan respek
terhadap orang tua, hormat terhadap perbedaan usia dan koleksi
jumlah pengalaman mereka yang pastinya sangat kolosal di bandingkan
kita kita.

Tapi pengalaman itu sendiri sebenarnya cuma sebuah even atau kejadian.
Untuk mencapai sebuah proses menjadi matang, bijaksana dan berwawasan,
umur dan pengalaman tidaklah cukup, ada satu faktor bernama komprehensi,
tanpa yang satu ini seorang tua yang paling berpengalaman makan asam
garam kehidupan sekalipun akan menjadi mentah, picik, fasik dan sekaligus
cupet.

Untuk mencapai tingkat komprehensi ( pemahaman ) ini manusia sebenarnya
tidak perlu berusia lanjut, bersusah susah dalam hidup, naik turun gunung
migran dan jadi petualang atau mencoba menjadi orang bejad dahulu sebelum
kembali lurus, karena experience itu sebenarnya cuma medium abstrak, sebuah
situasi yang belum berbentuk, dan adalah terletak ditangan manusia untuk
membentuknya menjadi sebuah sosok yang kita bisa mengerti, tua atau muda
punya kemampuan yang sama. Kita sama sama bisa mengukir sepenggal
pengalaman menjadi barang seni ataukah cuma seonggok tahi.

Oleh karena itu, setiap kali saya membaca tulisan di milis ini, saya cepat
menjadi
maklum bila ada beberapa penulis muda yang sangat berbakat walaupun belum
tentu punya pengalaman banyak, ada juga penulis tua yang masih mencari cari
bentuk , cepat tersinggungan dan  kemungkinan kena gangguan develomental
delay complex.

Umur itu relatif? Benar ! Tua itu relatif? Benar !Jika di bandingkan anak
puber saya jelas nampak tua, tapi dibandingkan Suharto, saya lebih muda dari
cucunya. Jadi yang manakah yang saya sebut tua?

Gampangnya adalah ketika anda mulai menginjakan kaki di kesetan pensiun,
itu artinya secara cultural anda mulai masuk di era non produktif, masa
istirahat telah tiba, dan secara biologis  tulang tulang anda mulai mengapur,
penglihatan anda mulai mengabur. Dan anda mulai mengkoleksi ratusan kata kata
mutiara dan nasehat nasehat bijak buat kuping kuping muda yang bersedia dan
punya
waktu untuk mendengarkan ocehan anda itu. Nah itulah tua..

Secara parsial, manusia tua itu terbagi dua. Yang pertama adalah tua
bersahaja.
Ciri cirinya, dia adalah dia tidak emosional, gampang mengerti, tidak gampang
mencaci maki, wajah manusia ini biasanya selalu di hiasi senyum bijak,jujur,
menyukai joke dan mudah terpesona dengan kreativitas orang muda.

Yang kedua adalah tua bangka ( bangkai ) yang penuh trauma, sarat fabrikasi,
terlalu over-bijak dan seperti pencandu opium, otaknya terlalu banyak
melayang layang di langit langit beku tanpa jati diri.

Di milis ini, salah seorang tua yang saya respek adalah Pak Djoko dengan
kolom Raja Bambu. Orang tua ini bukan saja pandai merangkai kata kata
sederhana yang padat akan makna, dia juga pandai membuat mengangkat persoalan
besar dalam bernegara kedalam persoalan sehari hari di perkebunannya di
Blitar sana.
Kekayaan pengalaman hidupnya tidak di umbar secara arogan dan tidak over
acting. Sejujurnya jika di bandingkan dia, saya adalah cuma seorang penulis
bocah penuh ingus yang jarang menulis becus.

Di milis ini ada juga contoh orang tua yang defisit sifat sifat dewasa. Ya
penulis
puisi Panca Sila yang kabur tahun 60 an, bertualang malan melintang, lalu
terdampar di Paris dan menjadi seorang Restaurant Entrepenuer dan menulis
sebuah kisah yang cocoknya cuma untuk majalah " Food & Beverage ".

Tapi lupakan saja, sasaran tulisan ini jelas bukan cuma dia. Contoh lain
orang tua tidak tahu diri adalah: Sudomo,Jim Baker, AM Saefudin again,
Baramuli again, Robert Schuller, si buta Gus Dur,Suharto jelas saja,Woody
Allen sang child molester,Habibie,dan sebagian besar ulama MUI as always.

Tapi ada juga orang tua yang masih produktif dan bermutu tinggi seperti:
Paul Newman, Billy Graham,Ali Sadikin,Robert de Niro, Pramudya,dan KH
Muhammad Bisrin termasuk 100 ulama pesantren Jawa- Bali- Madura yang
baru baru ini bikin silaturahmi mengecam MUI.

Okelah, saya mulai capek.
Kesimpulannya begini, Manusia itu tumbuh ibarat anggur.
Menjadi tua artinya menjadi anggur yang siap diolah.
Ada beberapa anggur yang mutunya bagus, karena dia menyerap
mineral dari tanah secara bagus, punya daya tahan bagus, bersikap bagus.
Anggur ini kelak akan menjadi wine yang mahal dan enak dicicipi di saat winter
atau menjadi grape juice yang manis dan lezat disukai hampir semua orang.

Menjadi tua dan merongsok tidak berguna, seperti penulis di Paris itu
adalah seperti anggur yang tidak punya arti, untuk yang satu ini paling paling
cuma bisa dikeringkan dan di jadikan kismis...

Dan yang bermental kismis demikian bukannya jarang kita temui di hidup yang
singkat ini, kawan.


[EMAIL PROTECTED],

Monngo, mau pergi ke bioskop dulu ah...

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Jun 1999 jam 01:08:33 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke