----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 28 Juni 1999

RAKYAT - Oleh Baihaqi (wartawan Rakyat Merdeka)

Saat ini, saya ingin mengajukan pertanyaan: dimanakah posisi
"rakyat" dalam otak para calon legislatif? Di manakah rakyat
kini? Bagaimana para wakil rakyat memikirkan orang-orang yang
diwakilinya?

Dalam Pemilu Juni lalu, yang berlangsung hingar-bingar, rakyat
seperti menemukan rohnya kembali. Semua orang berdiskusi
politik, memilih-milih partai, memperbincangkan segala
kemungkinan dan juga berbagai resiko.

Saat itu, orang berpikir, bahwa Pemilu adalah memilih wakil
rakyat, sekaligus memutuskan presiden. Saat itu, kubu-kubu
politik seperti dipisahkan secara ekstrem. Ada kubu status quo
dan ada kubu reformis. Orang-orang kemudian memisahkan partai
dalam dua kategori itu. Rakyat, dengan sok hebat, merasa seperti
penguasa yang menentukan segala-galanya. Apalagi, ditambah
slogan-slogan menggelembung bahwa "kedaulatan rakyat telah
pulih".

Sementara itu para wakil rakyat atau calon legislatif, yang
mungkin tak dikenal sama sekali oleh para pemilih, menunggu
dengan berdebar-debar. "Apakah saya akan terpilih?" begitu
pertanyaan besar yang muncul di benak mereka. Para wakil rakyat
itu kemudian sibuk mengutak-atik kekuatan dan kelemahan,
ditengah maraknya kampanye.

Di luaran, orang-orang tetap sibuk berkampanye. Mereka mengecat
muka dengan aneka warna, menyetel kendaraan dengan suara
sekencang-kencangnya, dan berteriak sekeras-kerasnya, walaupun
setelah itu perut keroncongan.

Mengenang itu, kita memang wajib mengajukan pertanyaan:
dimanakah posisi "rakyat" dalam otak para calon legislatif? Di
manakah rakyat kini? Bagaimana para wakil rakyat memikirkan
orang-orang yang diwakilinya?

Kalau melihat ulah orang-orang partai yang sekarang
memperebutkan kursi presiden, geli juga rasanya. Apa yang mereka
cari? Dalam pergelutan perebutan itu, apakah mereka masih sempat
memikirkan rakyat? Syukurlah kalau ada dalih bahwa usaha mereka
merebut posisi itu adalah semata-mata demi kepentingan rakyat.
Walaupun juga harus diajukan pertanyaan lain: rakyat yang mana?

Yang justru saya khawatirkan sekarang adalah sejarah, bukan
siapa yang memimpin. Bukan siapa presidennya. Bukan siapa ketua
DPR/MPR-nya.

Saya kemudian ingat cerita akan Napoleon, yang dengan gagah
berani menumbangkan tirani monarki raja Louis, tapi sepuluh
tahun kemudian, dia menjadi diktaktor baru. Juga tentang Fidel
Castro di Kuba, yang dengan sangat perkasa berseru, "kami akan
membawa kebahagiaan buat rakyat". Tapi sekarang, di negeri
komunis itu, kondisi rakyatnya tak lebih baik dari Indonesia
empat puluh tahun lalu. Kisah serupa juga bisa ditemui di banyak
negeri.

Mungkin rakyat di seluruh dunia terlalu percaya kepada para
pemimpinnya. Atau mungkin juga kita semua terlalu bodoh,
sementara para pemimpin memasang muka tebal dengan wajah tak
tahu malu. Entahlah.

Tapi, saat ini, saya ingin mengajukan pertanyaan: dimanakah
posisi "rakyat" dalam otak para calon legislatif? Di manakah
rakyat kini? Bagaimana para wakil rakyat memikirkan orang-orang
yang diwakilinya?

Pada akhirnya kita akan tahu, siapa dan bagaimana pemimpin kita.
Tenang saja.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Jun 1999 jam 11:01:51 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke