---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- From: Yayasan Anak Bangsa Rabu, 30 Juni 1999 Rumah Penduduk Dibakar, Puluhan Ribu Mengungsi Serambi-Sigli Puluhan ribu warga desa di Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Barat, kini berada di lokasi pengungsian dalam kondisi yang memprihatinkan, terutama karena keterbatasan persediaan pangan maupun sandang. Gelombang pengungsian kian membludak di Pidie kemarin menyusul terjadinya pembakaran rumah-rumah penduduk oleh pihak-pihak tak dikenal pada Selasa (29/6) dini hari. Dari Sigli dilaporkan, gelombang pengungsian warga dari sejumlah desa di Kecamatan Tangse, ke Masjid Abu Beureueh Kecamatan Mutiara, hingga menjelang petang kemarin telah mencapai sekitar 6.000 orang. mereka mengaku sangat takut, menyusul dibakarnya rumah penduduk di kawasan Desa Blang Malo pada Selasa dini hari. Sebelumnya, warga Blang Malo dan Krueng Sekeuek mengungsi ke Masjid Bengga. Setelah beberapa hari berada di kamp pengungsian, kemudian mereka kembali ke desa masing-masing, Senin (28/6). Sebagian mereka ada yang sudah pergi ke kebun untuk memetik buah kopi. Setelah dibakarnya satu unit rumah dan kios jualan milik Tgk Nurdin, warga Desa Blang Malo Tangse, masyarakat setempat mulai trauma dan ketakutan lagi. "Setelah itulah warga mengungsi ke Masjid Abu Beureueh. Padahal, sebelumnya kami telah berupaya memberikan pengertian sehingga warga pulang. Tapi, kini terjadi lagi," kata mahasiswa yang berposko di Bengga, Ruslan. Karena adanya pembakaran rumah oleh orang tak dikenal, maka masyarakat tujuh desa mengungsi ke Masjid Abu Beureueh yang dianggap lebih aman. Warga yang mengungsi terdiri dari Desa Blang Malo, Krueng Sekeuek, Bengga, Alue Calong, Pulo Ie, Paya Guci, Ule Gunong, dan Krueng Meriam. Sebelumnya, warga Desa Lhok Keutapang melakukan hal serupa. Diperkirakan, jumlah pengungsi telah mencapai sekitar 6.000 jiwa. Pengamatan Serambi, hingga tadi malam arus pengungsi masih berdatangan dengan menggunakan pikap dan labi-labi. Kabarnya, selain ke Masjid Abu Beureueh banyak pula warga Krueng Meriam terpaksa bertahan di Pesantren Blang Jeurat Tangse. Camat Mutiara Drs M Jailani mengatakan, panitia agak kewalahan dengan membludaknya pengungsi kemarin. Sebab, jumlah pengungsi sebanyak itu tidak mungkin tertampung di sejumlah ruang belajar santri. Sehingga, sebagiannya terpaksa ditampung di tenda-tenda dan meunasah Kelurahan Baro Barat Jaman. Dengan membludaknya pengungsi, tambah Jailani, sudah terasa mulai krisis air dan WC. Begitu pula logistik mulai menipis. Karena itu, ia minta para dermawan dan orang yang lebih untuk menyumbang kepada para pengungsi. Panitia mengkhawatirkan bila para pengungsi tidur ditempat terbuka, seperti tenda dan tempat parkir di depan Masjid Abu Beureueh. "Mereka tak mungkin lagi tertampung di ruang belajar santri, atas bawah sudah penuh," kata Cut Ali Abdullah. Sementara itu, sejumlah panitia lainnya juga sibuk mengurusi logistik untuk kebutuhan makanan bagi para pengungsi. Apalagi, persediaan beras sudah menipis, hanya cukup untuk satu hari makan. "Kami harap adanya pihak yang mau membuka matanya," kata Rinaldi Nurdin. Berangkatnya sejumlah warga Tangse ke Masjid Abu Beureueh, bukan hanya karena ekses pembakaran rumah milik Tgk Nurdin. Tapi masyarakat lebih takut lagi dengan banyaknya peluru murahan berterbangan. "Kami tak takut kepada TNI dan AGAM. Kami hanya tak menginginkan mati konyol," sebut seorang warga Blang Malo. Tak tahan Sedangkan para pengungsi yang berasal dari Desa Lhok Leumak dan kawasan Padang Petuali, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur, mulai tidak tahan, karena kekurangan pangan. Di antaranya mulai meninggalkan lokasi pengungsian di Gedung Keterampilan Idi Rayeuk. Tukimin (seorang pengungsi) menjelaskan, mereka mengungsi menyusul dibakarnya delapan rumah di kawasan Dusun Pelita, Padang Petuali Idi Rayeuk. Delapan rumah yang dibakar itu meliputi, rumah milik Pardi, rumah Kasirin, rumah Paiman, rumah Bandri, rumah penjaga SD, rumah Jasiron, rumah Buk Kisem, dan rumah Parno Menik. Sepuluh rumah di kawasan Simpang Lokasi dan Titi Mamprei, Desa Lhouk Leumak juga dibakar orang tak dikenal. Yang hangus dibakar itu terdiri dari dari rumah Dalimin, Kasiran, Kamiran, Samin, Tukimin, Muji, Pak Giman, Mbok Kisem, Kasiren, dan rumah Supardi. Selain rumah yang dibakar, juga mendapat ancaman berupa maklumat yang dibuat lewat selebaran tentang harus perginya seluruh warga Padang Petuali, yang diperkirakan jumlahnya mencapai 2.000 jiwa lebih. Karenanya, warga mengambil sikap untuk eksodus sementara ke gedung keterampilan kecamatan setempat. Menurut Dalimin (62), penggungsi asal Desa Lhouk Leumak, karena pembakaran dan ancaman membuat mereka harus mengungsi. Namun, situasi yang dadakan, menyebabkan mereka tidak sempat membawa perbekalan secukupnya. Mereka berharap, Pemda mau menanggulangi beban yang menggayut para pengungsi. "Kami mengungsi karena keadaan. Tolonglah bantu kami sementara. Kalau nanti tenang kami tidak meminta bantuan lagi," ia memelas. Plt Camat Idi Rayeuk Amiruddin menyatakan telah membantu satu ton beras. Bantuan lain belum bisa diserahkan karena keberadaan pengungsi tidak jelas. Maksudnya, data jumlah pengungsi setiap saat bisa berubah, karena para pengungsi tidak melapor jika pergi ke tempat lain. Di Aceh Utara dan Aceh Barat, beberapa lokasi pengungsian juga masih dipenuhi warga yang belum berani pulang ke rumah. Kondisi mereka juga cukup prihatin, terutama soal makanan dan tempat tidur yang sangat rawan terserang penyakit, terutama bagi anak-anak dan wanita. (tim) Tiga Orang Dibunuh Serambi-Panton Labu Dua pria dan seorang wanita, kemarin (29/6), ditemukan tewas bersimbah darah dengan kondisi tubuh penuh luka bacokan benda tajam. Ketiganya terindikasi dibunuh oleh pihak yang belum dikenal di Aceh Utara. Dari tiga korban pembunuhan itu, hanya seorang yang dikenali identitasnya, yakni Abdullah bin Usman (37), penduduk Desa Bukit Batee Badan, Kecamatan Tanah Jambo Aye. Sedangkan satu mayat pria dan satu wanita lainnya belum dikenali. Menurut keterangan, Abdullah dibacok dua orang tak dikenal yang datang ke rumahnya, Minggu (27/6) sekitar pukul 20.00 WIB. Sebelum dibunuh, Abdullah dibawa sekitar 200 meter dari rumahnya. Dalam aksi itu, kabarnya Abdullah sempat memberi perlawanan. Dalam perkelahian itu, salah seorang pria tak dikenal menyalakkan senjata api hingga peluru mengenai bahu kiri korban. Setelah ditembak, korban pura-pura mati dan penembaknya meninggalkan lokasi itu. Kemudian Abdullah pulang sendiri. Menurut warga, peluru yang ditembak orang tak dikenal itu bersarang dalam tubuhnya. Namun, Abdullah tak pergi ke rumah sakit karena tidak memiliki biaya pengobatan. "Kalau saya sudah ajal, kemanapun pergi akan mati," kata korban seperti dikutip kata-kata Abdullah, Senin (28/6) siang. Rupanya, pada Senin (28/6) malam, sekitar pukul 22.00 WIB, orang tak dikenal itu kembali menjemputnya. Korban kemudian dibacok berkali-kali hingga tewas di lokasi berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya. Korban dikebumikan Selasa (29/6) di kuburan umum Desa Bukit Batee Badan. Di Desa Alue Bilie Rayeuk, Kecamatan Baktiya, warga kemarin juga heboh menyusul ditemukannya satu mayat pria tak dikenal. Mayat ditemukan dalam parit jalan nasional Banda Aceh-Medan. Ketika ditemukan,, pria berkulit sawo matang itu dalam kondisi mengenaskan. Pada bagian leher bekas digorok dan tubuhnya bekas dianiaya. Satu jam setelah ditemukan, Selasa kemarin, korban dijemput dengan mobil Puskesmas Baktiya. Pihak Puskesmas Baktiya mendapat kabar bahwa mayat itu warga Kuta Binjai Kecamatan Julok, Aceh Timur. Lalu, mayat itu dibawa ke kampung halamannya, tetapi sesampai di sana, tak seorangpun warga yang mengenal. Akhirnya kembali dibawa ke Puskesmas Baktiya. Sesampai di Alue Ie Puteh (ibukota Kecamatan Baktiya), kembali diterima kabar bahwa mayat itu warga Alue Reubek, Kecamatan Seunedon. Lalu pihak Puskesmas mengangkut mayat itu ke Alue Reubek. Sesampainya di situ, kembali warga tak ada yang mengenalnya dan dibawa lagi ke Puskesmas. "Supaya tidak terkatung-katung, mayat itu lalu dibawa ke RSU Lhokseumawe karena di situ ada kamar mayat," kata para medis di Puskesmas Baktiya. Ciri-ciri mayat yang ditemukan itu, kulit sawo matang, rambut agak keriting, tinggi badan sekitar 165 sentimeter, serta ada gigi yang berbalut platina atau besi putih. Korban mengenakan celana biru. Tapi, petang kemarin, pihak RSU Lhokseumawe mengaku menerima mayat seorang wanita berusia antara 35-40 tahun dalam keadaan berluka gorokan pada lehernya. Mayat itu dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Lhokseumawe, dengan sebuah mobil dinas Puskesmas Baktya Kesehatan, Selasa (29/6) siang. Tak ada identitas apa-apa padanya. Dalam kantongnya hanya ditemukan secarik kertas bertuliskan "provokator". "Setelah mayat itu dibawa masuk ke ruang UGD, orang yang mengantarkannya pun segera pergi meninggalkan rumah sakit. Sehingga kita tak sempat menanyakan apa-apa tentang temuan mayat tersebut," ujar sumber yang enggan ditulis namanya. Ketika diperiksa di RSU Lhokseumawe, pembuluh darah utama pada leher korban dalam keadaan terputus, seperti tersayat dengan benda tajam. "Mayat itu diperkirakan sudah meninggal dunia enam jam sebelum sampai di rumah sakit," kata sumber itu. Hingga pukul 20.00 WIB tadi malam, mayat wanita tak dikenal itu masih berada di RSU Lhokseumawe. Pihak rumah sakit itu menyatakan akan menunggu keluarga korban mengambilnya. "Kalau tidak ada yang mengambil, mungkin besok akan dikebumikan," kata sumber itu.(tim) Enam Warga Disambar Geledek, Dua Tewas, Empat Dirawat Serambi-Sigli Dua dari enam warga Desa Cot Glumpang Kemukiman Utue Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, yang disambar petir (geledek) tewas di tempat. Sedangkan empat lainnya, terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Sigli. Peristiwa memilukan itu terjadi, Selasa (29/6) petang atau sekitar pukul 15.00 WIB. Korban yang tewas adalah Tgk Abdul Wahid (53) dan Nazaruddin Hasballah (26). Sedangkan yang menjalani perawatan medis di RSU Sigli, masing-masing Abdul Wahab Adam (39), Badlisyah Hamzah (58), Arifin (50), dan Muhammad Insya (58). Menurut Kepala Desa (Kades) Cot Glumpang, Tgk Zakaria M Syam kepada Serambi, peristiwa itu terjadi ketika itu, para korban sedang berteduh menghindar hujan lebat di sebuah kios milik Tgk Muhammad Insya. Kios itu terletak di pinggir jalan diapit persawahan penduduk Desa Cot Glumpang dan Desa Seukeum Brok Kemukiman Utue. Pada saat hujan turun, sebut Kades Zakaria M Syam, beberapa masyarakat termasuk korban berlindung menghindar hujan di kios tersebut. Tidak ada yang melihat bagaimana keadaan di kios itu saat halilintar menyambar. Juga tidak diperoleh laporan apakah kios itu hangus atau tidak. Menurut Zakaria, kedua korban yang meninggal dunia itu merupakan tokoh masyarakat Desa Cot Glumpang. Tgk Abdul Wahid (Kaur Pembangunan) dan Nazaruddin Hasballah (Ketua Pemuda). "Kini, kami kehilangan tokoh," ujar Kades. Seorang pemuka masyarakat Desa Cot Glumpang Utue, Apa Cut Ahmad, kepada Serambi menyebutkan, Tgk Abdul Wahid meninggalkan tujuh anak dari istri bernama Fatimah. Sedangkan Nazaruddin Hasballah meninggalkan seorang anak dan istrinya Zubainiyah. Dari pihak medis Unit Gawat Darurat-Rumah Sakit Umum (UGD-RSU) Sigli, diperoleh keterangan korban telah divisum. Sedangkan dua dari empat korban lainnya, terpaksa dirawat inap. Dua orang berobat jalan. Mereka yang dirawat inap adalah Abdul Wahab dan Badlisyah Hamzah. Sedangkan berobat jalan adalah Muhammad Insya dan Arifin. Menurut dr Hj Harniwati melalui perawat medis di UGD-RSU Sigli, korban yang dirawat masih mengalami kebas dan ngilu berat pada bagian tubuh sebelah kiri. "Hingga sekarang ini, mereka yang dirawat itu masih merasakan seperti terkena aliran strom listrik di bagian tubuhnya," sebut juru medis Fachruddin. (da) Teror dan Petrus Makin Marak, Enam Penumpang Hardtop Diciduk Serambi-Takengon Aksi teror dan penembakan misterius (petrus) kian menghantui warga dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, dalam pekan ini. Akibat suasana yang gawat itu, selain ketakutan, banyak warga terpaksa mengungsi ke kota, bahkan sebagiannya eksodus ke luar daerah. Sedangkan aparat keamanan pada Sabtu (26/6) malam, menahan satu unit mobil Toyota Hardtop bersama enam penumpang yang di antaranya mengaku simpatisan Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM). Aksi teror yang merisaukan masyarakat itu, di antaranya dialami warga Karangampar, Paya Kolak Kecamatan Silihnara, dan beberapa desa di Kecamatan Timang Gajah, Bintang, Pegasing, dan Bukit. Korban di antaranya Abdul Kadir (50) warga Gelelungi Kecamatan Pegasing terpaksa menginap di Makodim setelah berhasil lolos dari sergapan orang tak dikenal yang ingin menghabisinya, Senin (28/6) malam. Empat warga desa yang sama sebelumnya juga terpaksa mencari tempat aman setelah ada surat ancaman yang akan menghabisi mereka. Hal serupa pun dialami Enam (60), warga Paya Kolak Silihnara. Purnawirawan itu terpaksa mengungsi setelah diteror dari suatu sindikat, karena diketahui Enam ikut membantu aparat keamanan melakukan penangkapan ganja beberapa waktu lalu. Sedangkan di Kecamatan Bukit, aksi petrus kembali terjadi, Minggu (27/6) malam. Kali ini korbannya bernama Abdurrazak (54) warga Dusun Senebok Aceh Desa Pantai Raya. Ia tewas sekitar pukul 19.30 WIB setelah dua orang tak dikenal menembak dengan AK 47 di depan rumahnya. Pada Jumat (25/6) dinihari dua korban petrus masing-masing Jamaluddin (40) dan Masmiko (40) penduduk Bergang Kecamatan Silihnara berhasil menyelamatkan diri setelah ditembak masing-masing satu kali dan mengenai rahang korban. Sebelum ditembak kedua korban dijemput orang tak dikenal mengendarai mobil Toyota Hardtop tanpa plat polisi. Lalu keduanya dibawa ke Ronga-ronga Kecamatan Timang Gajah, dan di pinggir jalan sepi kawasan itu mereka ditembaki. Para penembak meninggalkan korban yang mereka duga sudah tewas. Namun, kedua korban ternyata tidak tewas. Sampai kemarin masih dalam perawatan. Kapolres Aceh Tengah Letkol Pol Drs Misik Natari didampingi Kasat Sersenya Lettu Pol Drs Dean Marten yang dikonfirmasi Serambi, Selasa (29/6) mengaku pihaknya terus melakukan penyelidikan terhadap aksi-aksi yang dilakukan kelompok tak dikenal untuk mengacaukan keamanan dan meresahkan masyarakat tanah Gayo tersebut. "Selain terus kita lakukan penyidikan, juga diupayakan tindakan preventif dengan menurunkan satuan tugas yang akan mengamankan wilayah-wilayah rawan," ujar Misik Natari seraya mengimbau masyarakat untuk senantiasa kompak dan berani menghadang jika adanya orang-orang "aneh" dengan maksud-maksud menimbulkan ketidakamanan. Polisi, kata Kapolres Misik Natari, terus berupaya untuk memberi rasa aman bagi masyarakat. Sehingga beberapa titik rawan, katanya, sudah diturunkan petugas yang dibeking satuan Brimob, terutama empat wilayah. "Kita sedih karena rakyat tidak bersalah menjadi korban serta takut," katanya. Simpati GAM Sementara itu sumber lain menyebutkan, enam penumpang mobil Toyota Hardtop BL 451 KF yang ditangkap satuan Yonif 113 di kawasan Lampahan Kecamatan Timang Gajah, Sabtu (26/6) malam adalah TB (40) penduduk Pantai Cermin Kecamatan Kaway XVI Aceh Barat, MA (20) warga Babah Krueng Kecamatan Beutong, Aceh Barat, MD (35) warga Tingkeum Manyang Kecamatan Gandapura, Az (35) Cot Serani Krueng Mane Kecamatan Muara Batu, HD (34) penduduk Teupin Kupula Jeunib, dan SK (36) penduduk Mon Keulayu Gandapura (Aceh Utara). Mobil mereka dihadang aparat TNI. Ketika diperiksa tidak memiliki surat apapun. Di dalam mobil petugas menemukan daun ganja kering sekitar lima kilogram lebih. Lalu, tangan seorang penumpang yang kemudian diketahui bernama TB, terlihat luka bekas tembakan yang kondisinya sudah membengkak dan membusuk. Aparat TNI dari Yonif 113/JS Kompi Lampahan, kemudian menyerahkan warga bersama mobil dan daun ganja kering ke Mapolres Aceh Tengah untuk proses lebih lanjut. Tersangka TB (40) kepada Serambi, mengaku ia ditembak aparat TNI di kawasan Pantai Cermin, beberapa waktu lalu saat menghadiri ceramah Aceh Merdeka. Namun saat itu tidak sempat berobat ke Meulaboh, melainkan lari ke kampungnya karena takut dibunuh TNI hingga kemudian mengikuti temannya ke Aceh Utara dengan maksud akan mengobati lukanya. Ditanyai apakah ikut terlibat anggota GAM, TB mengaku hanya merasa simpati terhadap perjuangan GAM karena agar tidak ada lagi penindasan rakyat Aceh sebagaimana dialami selama puluhan tahun. "Saya baru mau bergabung dengan iktikad baik, saya tidak terlibat kejahatan," ungkapnya sambil memegang kepalanya yang diakui merasa sangat sakit setelah dihantam dengan popor senjata oleh aparat TNI sewaktu mereka ditangkap. Sedangkan Mahdi (35) mengaku mantan relawan HAM Aceh. Dari dalam tasnya ditemukan kain kuning sepanjang 2 meter yang setiap sudut bertuliskan ayat-ayat, dan kain ukuran 4 persegi juga bertuliskan ayat al-Quran yang dikatakan sebagai ikat kepala. Selain itu didapat kain putih sepanjang 6 meter yang diakuinya diberikan Tgk Bantaqiah untuk dijadikan bakal baju jubah tersangka. Sementara tersangka MA (20) warga Babah Krueng, mengaku disuruh sebagai sopir mobil hartop milik Keuchik Lami di Beutong untuk mengantarkan tersangka lain dan ganja. Sedangkan pemilik daun ganja adalah SK (36). Penduduk Mon Keulayu itu mengaku membeli "lakoe bakong" dari Din di Betong Ateuh. Pekerjaan tersebut baru pertama dilakukan setelah ia menganggur sebagai pekerja tambak udang di desanya. Menurut sumber polisi, TB yang tangannya terkena tembakan, diduga salah seorang dari kelompok Buyung yang ditembak aparat Kodim ketika hendak melarikan diri dari tahanan. Sedang AZ juga disebut-sebut sebagai salah satu yang selama ini diburu pihak aparat keamanan di Aceh Utara karena diduga terlibat berbagai tindak kerusuhan.(tim) _ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 Jul 1999 jam 08:43:30 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
