---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Stockholm, 7 Juli 1999 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu'alaikum wr wbr. BAGAIMANA MENYATUKAN VISI DAN MISI ?. Ahmad Sudirman Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA. Jawaban untuk saudara Rizki Herucakra (Indonesia). Saudara Rizki Herucakra telah mengirimkan tanggapan dan pertanyaan dengan subjekt "Bagaimana menyatukan visi yang berbeda dalam suatu Khilafah" pada tanggal 7 Juli 1999. "Yang ingin saya tanyakan mungkin terlalu teknis (sementara Khilafahnya sendiri belum terbentuk). Tapi marilah kita membayangkan bahwa Khilafah itu sudah berdiri saat ini. Lalu bagaimana caranya kita mempersatukan perbedaan-perbedaan pandangan di antara banyak pemahaman Islam. Maksud saya, di milis PK-Timur ini saja, Imamiyah (Jakfari/Syi'ah) banyak dikritik habis oleh kaum Sunnah. Imamiyah nantinya mungkin (saya tidak tahu pasti) menghendaki agar yang menjadi Khalifah adalah salah seorang dari keturunan Imam Ali bin Abi Thalib ra. Hal tersebut akan ditentang habis-habisan (jika melihat keadaan sekarang) oleh kaum Sunnah. Kita juga tahu ada paham lain seperti Ahmadiyah yang mungkin tidak akan mendukung kekhalifahan, padahal jumlah mereka juga tidak sedikit. Belum lagi Jamaah Tabligh yang memiliki visi tidak ingin ikut campur dalam masalah politik (setidaknya itu yang saya tangkap). Mereka pun jumlahnya tidak sedikit. Di Indonesia sendiri, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sudah memiliki visi yang berbeda. Oya, bagaimana juga dengan aliran-aliran Tasawuf yang ada. Aliran-aliran tarekat ini bahkan mem-fanakan dunia (dan tentunya juga politik). Sekian dulu pertanyaan saya. Semoga pak Ahmad berkenan menjawabnya dan semoga Allah membalas semuanya dengan kasih dan rahmat dari sisiNya" (Rizki Herucakra, 7 Juli 1999). Baiklah saudara Rizki Herucakra. Dalam tulisan-tulisan yang lalu pernah saya menyinggung mengenai penyatuan visi dan misi untuk menyatukan kaum muslimin yang telah terkotak-kotak kedalam berbagai macam mazhab, golongan, kelompok, partai, organisasi yaitu, dengan "membangun persatuan dengan berlandaskan keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT dengan misi membangun kembali satu masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan Islam dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil dalam naungan Daulah Islam yang berdasarkan akidah Islam dengan konstitusi yang mengacu kepada Undang Undang Madinah yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras." Jadi, untuk memulai usaha penyatuan visi dan misi ini kita harus kembali kepada awal mulanya yaitu, kaum muslimin adalah satu, dibawah satu Tuhan yaitu Allah, yang kita kaum muslimin beribadah dan bertaqwa serta meminta ridha-Nya. "Sesungguhnya kamu adalah ummat yang satu, Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku" (An-Biyaa',21: 92). "Dan sesungguhnya kamu adalah ummat yang satu, Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku" (Al Mu'minun,23: 52 ). Adapun sampai detik ini telah lahir berbagai macam aliran pemahaman, janganlah dijadikan sebagai suatu alasan untuk makin memperuncing dan memecahkan lagi menjadi bagian-bagian yang kecil, melainkan harus dijadikan sebagai suatu hikmah yaitu, dengan adanya berbagai macam pemahaman, penafsiran, pikiran akan menjadi suatu kekuatan yang merupakan hasil dari keaneka ragaman tersebut. Sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah ketika dilahirkannya Undang Undang Madinah. Selama kita masih sama mengikrarkan janji 'laailaha illallah Muhammad Rasulullah', tidak ada Tuhan kecuali Allah (dan) Muhammad Rasul Allah, maka selama itu pertentangan yang diakibatkan oleh adanya perbedaan paham, mazhab, aliran, pemikiran, kelompok, golongan, partai dapat disatukan dan dicarikan jalan keluarnya untuk mencapai suatu kesatuan kaum muslimin diseluruh dunia dengan tetap mengangkat rasa saling hormat menghormati (paham, mazhab, aliran, pemikiran) antara satu terhadap yang lainnya. Para ulama besar dari mulai Imam Abu Hanifah (80 H-150 H) dengan Mazhab Hanafi-nya, Imam Malik bin Anas Al-Ashbahi (93 H-170 H) dengan Mazhab Maliki-nya, Muhammad bin Idris bin Syafi'i (150 H-204 H) dengan Mazhab Syafi'i-nya sampai Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal (wafat 241 H) dengan Mazhab Hambali-nya, yang merupakan juga mujtahid-mujtahid ulung, yang telah melahirkan pemikiran-pemikiran yang hebat tidaklah mereka satu sama lain saling jatuh menjatuhkan. Tidaklah mereka satu sama lain saling hina menghinakan. Tidaklah mereka satu sama lain saling rendah merendahkan. Tidaklah mereka satu sama lain saling nafi menafikan. Para pelahir mazhab yang sekaligus Imam-imam besar tersebut tidak melakukan serang menyerang satu sama lain, walaupun terdapat perbedaan dalam pemahaman, pemikiran dan penafsiran terhadap sesuatu perkara. Mengapa justru kita yang bila dibandingkan dengan para pelahir mazhab tersebut tidaklah ada artinya, tetapi justru kitalah yang melahirkan pertentangan, pengelompokan, pemisahan bahkan sampai penafian (penolakan) terhadap yang lainnya. Kita harus masih banyak belajar untuk menghormati pemikiran orang lain yang juga mendasarkan kepada Al Qur'an dan hadist. Kita harus masih banyak belajar untuk berlapang hati dan membuka pikiran terhadap pemikiran, pemahaman, penafsiran terhadap isi kandungan Al Qur'an dan hadist yang disampaikan oleh pengikut mazhab-mazhab lain. Perbedaan penafsiran, pikiran dan pemahaman terhadap sesuatu masalah yang kurang terang nash-nya (dasar dari Al Qur'an dan hadist), janganlah dijadikan sebagai suatu masalah yang prinsipil dan utama, sehingga melahirkan pertentangan satu sama lain, yang akhirnya menjadikan pemisahan diri dalam bentuk kelompok, aliran, golongan. Nah sekarang, dalam usaha menyatukan "visi membangun persatuan dengan berlandaskan keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT" dari seluruh kaum muslimin yang telah terkotak-kotak kedalam berbagai macam mazhab, golongan, kelompok, partai, organisasi yaitu, dengan banyak belajar untuk menghormati pemikiran orang lain yang juga mendasarkan pemikirannya kepada Al Qur'an dan hadist. Juga dengan banyak belajar untuk berlapang hati dan membuka pikiran terhadap pemikiran, pemahaman, penafsiran terhadap isi kandungan Al Qur'an dan hadist yang disampaikan oleh pengikut mazhab-mazhab lain serta tidak menjadikan sesuatu masalah yang kurang terang nash-nya (dasar dari Al Qur'an dan hadist) sebagai suatu masalah yang prinsipil dan utama, sehingga melahirkan pertentangan satu sama lain, yang akhirnya menjadikan jurang pemisah diri kedalam bentuk kelompok, aliran, golongan. Penyatuan visi tersebut harus diikuti juga dengan misi untuk membangun kembali satu masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan Islam dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil dalam naungan Daulah Islam yang berdasarkan akidah Islam dengan konstitusi yang mengacu kepada Undang Undang Madinah yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras." Terakhir, tentu saja akan ada orang-orang yang mengatakan pemikiran saya ini adalah merupakan pemikiran yang utopis yaitu, yang akan terjadi dalam alam khayalan. Tetapi saya yaqin, apabila setiap muslim berusaha semampunya untuk banyak belajar menghormati pemikiran orang lain yang juga mendasarkan pemikirannya kepada Al Qur'an dan hadist, berlapang hati dan membuka pikiran terhadap pemikiran, pemahaman, penafsiran terhadap isi kandungan Al Qur'an dan hadist yang disampaikan oleh pengikut mazhab-mazhab lain, dan tidak menjadikan sesuatu masalah yang kurang terang nash-nya (dasar dari Al Qur'an dan hadist) sebagai suatu masalah yang prinsipil dan utama, maka saya yaqin, usaha kearah penyatuan visi dan misi tersebut diatas lambat laun akan tercapai. Insya Allah. Inilah sedikit jawaban dari saya untuk saudara Rizki Herucakra. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada [EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 7 Jul 1999 jam 21:02:48 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
