----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Republika, 11 Juli 1999

Ketua PP Muhammadiyah Soal Pemilihan Ulang Capres
Pemikiran Aberson Mengarah Premanisme

BANDUNG -- Pejabat Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii
Ma'arif menilai pemikiran yang dilontarkan salah satu tokoh PDI
Perjuangan, Aberson Male Sihaloho -- tentang harus diulangnya
pemilihan presiden bila MPR tak menetapkan Megawati sebagai
presiden mendatang -- merupakan cara berpikir yang liar. ''Itu
merupakan gejala pemikiran yang liar dan mengarah premanisme.
Jangan diulang lagi pernyataan seperti itu,'' kata Syafii, di
Bandung, kemarin.

Pernyataan tadi, menurut Syafii di depan wartawan usai
menyajikan makalah 'Demokrasi dan Posisi Umat' dalam Rakornas
ICMI, Sabtu (10/7), bisa menimbulkan kerawanan stabilitas
negara. Kecuali, kata Syafii, bila UUD-nya dilakukan amandemen
dan perubahan yang mendasar. ''Itu baru bisa,'' tandasnya.

Sebelumnya, Aberson seperti dikutip beberapa media massa
menegaskan bahwa jika nantinya SU MPR tidak mau menetapkan
Megawati sebagai presiden, maka PDI Perjuangan akan mengusulkan
lagi pemilihan presiden secara langsung. ''Kita minta ini
dikembalikan kepada rakyat,'' katanya.

Secara terpisah, Mulyana W Kusuma menilai pemikiran Aberson
tersebut bisa melahirkan budaya politik tidak sehat. ''Itu akan
melahirkan ketidakteraturan politik,'' ungkap wakil ketua
Panwaspus itu di Jakarta Jumat (9/7).

Menurut Mulyana setiap sistem kenegaraan itu memiliki aturan
main yang harus dipatuhi. ''Dalam pemilu ada aturan mainnya,
dalam pemilihan presiden juga ada aturan mainnya,'' lanjut
Mulyana. Semua aturan main yang sudah disepakati dan ditetapkan,
menurutnya, tidak bisa diubah hanya karena kepentingan seseorang
atau sekelompok orang.

''Jangan karena calonnya tidak terpilih lantas semua peraturan
yang sudah siap dimentahkan,'' tegasnya. Menurutnya, jika hal
itu sampai terjadi, proses demokrasi di Indonesia menjadi tidak
terlembaga.

Demokrasi yang tidak terlembaga seperti itu, kata Mulyana, akan
melahirkan political disorder (ketidakteraturan politik).
''Politik akan berjalan tanpa aturan-aturan,'' tandas Mulyana.

Todung Mulya Lubis, yang juga wakil ketua Panwaspus,
mengungkapkan bahwa pihaknya sangat setuju dengan pemilihan
presiden secara langsung. ''Tapi itu dilakukan jangan karena
kepentingan seseorang. Bukan saatnya lagi sekarang berpikir
hanya untuk kepentingan partai,'' ungkapnya dalam kesempatan
terpisah di Jakarta, Jumat.

Aberson, lanjut Todung, bisa saja mengemukakan usulan pemilihan
presiden secara langsung. Tapi, lanjut Todung, usul tersebut
harus dikemukakan untuk semakin menyehatkan proses demokrasi.
Sehingga roda politik bisa berjalan lebih baik dan menyehatkan.

Menurut Syafii, saat ini di kalangan masyarakat terjadi gejala
yang rancu menyangkut hasil pemilihan umum, yakni peraih suara
terbanyak dan memenangkan pemilu otomatis jadi presiden.
''Kecuali UU kita ubah semua, itu baru bisa. Dalam masalah ini
perlulah kita kembangkan kearifan politi itu. Dan saya berharap
dalam waktu yang tidak lama bisa diwujudkan. Ini memang agak
rawan. Tapi semua itu untuk menyelamatkan bangsa di masa
depan,'' tegas Syafii.

Karena itu bagi Syafii, anggota MPR yang akan datang, dengan
haknya berupa satu orang satu suara, harus berpikiran mendalam
bagaimana menyelamatkan negara ini. ''Siapa saja jadi peresiden,
saya rasa usul dari rektor Gajah Mada (UGM) itu bagus sekali.
Pemilian itu bertingkat, berapa sepuluh, lima atau berapa, lalu
disaraing, tinggal dua. Yang ini dipilih lagi, tinggal suara
terbanyak. Yang pertama jadi presiden dan kedua menjadi wakil
presiden, atau ada mekanisme lain,'' katanya.

''Kita lupakanlah kesetiaan primordialisme partai. Bangsa ini
sedang kritis sekali,'' ujar Syafii.

Dikatakannya, MPR itu harus mandiri, karena sekarang tidak ada
lagi recalling. ''Demi hati nurani, dia tidak lagi harus memilih
sesuai keinginan fraksinya. Ini asalkan untuk kepentingan yang
lebih besar. Sebab, bila terlambat akan repot. Kalau lurah
bertanding, disuruhlah mereka berbicara membentangkan visi dan
misinya, platform. Sebab kalau di MPR dan DPR tak berani, apa
ukurannya. Ini tidak hanya untuk Habibie, tapi semuanya,'' ujar
Syafii.

Sebab, katanya, kemenangan dua partai non-religius dalam Pemilu
1999 pada 15 dan 11 daerah pemilihan, merupakan fenomena politik
yang menarik untuk dicermati lebih lanjut. ''Saya melihat bahwa
kemenangan ini tidak akan permanen,'' ujarnya.

Hal itu, kata dia, ada tiga faktor yang sangat menentukan
perkembangan selanjutnya. Pertama, keterpasungan politik selama
empat dekade hingga munculnya era Habibie. Ini memungkinkan
rakyat untuk tidak berpikir secara obyektif dan jernih dalam
menentukan pilihannya. ''Sampai batas-batas yang jauh, yang
terjadi adalah 'kemenangan' kekuatan irasional berhadapan dengan
kekuaran rasional,'' ujar Syafii.

Kedua, kebanyakan pemilih tidak mengerti betul mana kekuatan
yang dapat dikategorikan sebagai pendukung cita-cita reformasi
dan mana kekuatan lainnya yang hanya kelihatan reformis. Bahkan
yang lebih irinos lagi ialah sebagian orang tidak menghiraukan
perbedaan kekuatan reformis substantif dan kekuatan reformis
retorik.

''Euforia politik telah mengaburkan perbedaan antara substansi
dan kulit. Tapi semuannya ini adalah ongkos yang harus
dikeluarkan untuk sebuah demokrasi,'' papar Syafii.

Ketiga, pada saatnya nanti rakyat akan keluar secara sadar dari
euforia politik itu. Mereka, kata Syafii, akan tampil sebagai
critical-mass yang cerdas dalam pemilu mendatang. Pada saat itu,
lanjut Syafii, diharapkan kekuatan rasional akan mengalahkan
kekuatan irrasional yang pada hakekatnya lebih merupakan beban
sejarah.

''Memang dalam situasi yang serba emosional dan irrasional orang
tidak boleh berharap telalu banyak akan tampilnya sebuah
demokrasi yang bulat. Wajah gepeng pasti akan menjamur di mana-
mana. Panorama yang bukan mustahil akan muncul adalah fenomena
'tukang ojek' bakal terpilih jadi bupati,'' ujar Syafii.
(yul/mag/irf)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Jul 1999 jam 06:53:56 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke