---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk LASKAR JIHAD DATANGI KOMPAS JAKARTA, SiaR (20/7/99) Sekitar 50 orang yang menamakan diri Komando Jihad berdemo di depan kantor Redaksi Kompas, Jl. Palmerah Selatan, Jakarta, Selasa (20/7). Mereka meminta Kompas agar dalam pemberitaannya tidak menyudutkan umat Islam. "Harian Kompas selama ini sering mengadu domba umat Islam dengan pemerintah, melalui pemberitaan besar-besaran apabila ada daerah-daerah yang mayoritas penduduknya Islam sedang bermasalah dengan pemerintah. Misalnya kasus Aceh. Sementara untuk kasus Timtim, Mnaluku dan Irian pemberitaannya tidak kontinyu dan tidak dibesar-besarkan," tulis mereka dalam pernyataan persnya tertanggal 19 Juli 1999. "Akibat dari pemberitaan tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa pemerintah anti Islam dan anti umat Islam, suka pada kekerasan. Efek lebih lanjutnya dalam masyarakat akan muncul Islamophobia dan citra negatif terhadap ajaran Islam yang mulia," lanjut pernyataan itu. Selain dua hal itu, Laskar Jihad juga menuding Kompas tidak netral dalam pemberitaan-pemberitaan politiknya. Mereka menemukan, pemberitaan Kompas cenderung mendukung PDI-P dengan mengatakan bahwa PDI-P partai pemenang Pemilu sehingga Megawati layak menjadi presiden. "Seharusnya Kompas jujur bahwa 65% rakyat Indonesia tidak menghendaki Megawati menjadi presiden, dengan tidak memilih PDI-P dalam Pemilu 7 Juli 1999. Dengan hasil Pemilu tersebut Megawati tidak otomatis menjadi presiden karena partainya tidak dapat meraih suara rakyat sejumlah 51% lebih," katanya. Sambil menunggu rombongan yang lain berdatangan, salah seorang dari mereka melakukan orasi di jalanan depan kantor Kompas Media Utama dengan mengulang-ulang tuntutannya. "Kompas telah menyudutkan umat Islam," serunya. Setelah 30 menit menunggu dan rombongan lain juga belum hadir, akhirnya dua pimpinan mereka, Ahmadi dan Soleh Rusdiansyah mendatangi salah seorang Satpam dan minta ketemu dengan pimpinan Kompas. "Sama redaksinya juga boleh," kata Ahmadi. "Biar cepat selesai. Sudah terlalu lama panasan," kata Ahmadi berbisik kepada temannya. Tak lama kemudian datang Suryopratomo, salah seorang Redaktur Kompas. Tak ada dialog dan debat argumentatif dalam kesempatan itu. Soleh dan Ahmadi hanya mengatakan bahwa kehadirannya mengantarkan surat pernyataan (yang bertajuk "Pernyataan Pers Laskar Jihad)#. "Kami tidak bermaksud menghujat Islam, atau menyudutkan Islam. Kami concern dengan persoalan-persoalan bangsa ini, termasuk yang terjadi di Aceh dan Timtim. Kalau dibilang kami berat sebelah dalam pemberitaan tentang Aceh dibanding Timtim, itu tidak benar. Ke Timtim kami kirim tiga wartawan, sedangkan ke Aceh cuma dua wartawan. Itu buktinya," kata Suryopratomo. Mendengar penjelasan tersebut Ahmadi dan Soleh yang mengaku berkantor di Menteng Raya itu tidak berusaha mendebatnya. "Kami hanya ingin menyampaikan pernyataan; itu saja," katanya seraya meninggalkan Suryopratomo dan menemui para orator. "Kita sudah ketemu sama Direktur Kompas. Pernyataan kita sudah diterima mereka. Mari kita pulang," kata sang orator dengan megaphone milik Kompas yang dipinjamkan kepada pemimpin demonstrasi karena pengeras suara mereka rusak ketika digunakan. Mereka pun akhirnya pulang. Demo dengan modus serupa juga pernah menimpa Harian Rakyat Merdeka dan Suara Pembaruan beberapa waktu lalu. Para demonstran di dua harian itu juga meminta harian-harian itu untuk tak terlalu mendukung Megawati Soekarnoputri. Rencananya mereka akan melakukan aksi yang sama ke Majalah D&R dan Tabloid Detak. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Jul 1999 jam 04:33:24 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
