----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 20 Juli 1999

Menunggu Megawati

Berbagai kalangan, termasuk pers, belakangan ini
semakin gencar mendesak Ketua Umum PDI Perjuangan,
Megawati Soekarnoputri, mengambil prakarsa politik dan
peka terhadap persoalan bangsa ini. Sebagai pemimpin
partai politik pemenang pemilu dan calon presiden,
Megawati diharapkan menjelaskan sikap dan kebijakan
partainya dalam menyelesaikan persoalan besar bangsa
ini. Megawati tidak bisa tenggelam dalam diam, yang
akhirnya memperkuat keraguan berbagai pihak atas
kamampuannya.

Ketika diwawancarai harian Yomiuri Shimbun Jepang,
Sabtu (17/7), kita berharap Megawati memaparkan
gagasan-gagasan yang segar, jelas, dan rasional bagi
bangsa besar ini. Dalam wawancara itu, Mega hanya
mengemukakan tekadnya untuk menjadi presiden.
Begitu juga dalam pembukaan rapat kerja nasional PDI-P
dua hari lalu, pers berharap dapat mengemukakan
berbagai pertanyaan seputar persoalan-persoalan aktual,
namun gagal. Rakernas itu bahkan tertutup bagi pers.

Masyarakat, tidak hanya para pendukung PDI-P,
menginginkan Megawati tampil sebagai pemimpin
sesungguhnya, mengemukakan gagasan-gagasan tentang
persoalan-persoalan yang membalut bangsa ini, seperti
misalnya penyelesaian Aceh, Timor-Timur,
pengangguran, pelanggaran hak asasi manusia, korupsi,
penegakan hukum, perbaikan ekonomi, Dwifungsi TNI,
amandemen UUD-45, dan berbagai persoalan lain.
Masyarakat juga ingin penjelasan sejauh mana Megawati
mengetahui dan menyetujui perilaku pendukungnya
dengan memobilisasi cap jempol darah.

Menghadapi Sidang Umum MPR -- yang kini diramaikan
manuver dan lobi-lobi politik -- Mega pun harus tampil dan
mengambil prakarsa aktif. Namun hingga kini, kita
belum melihat prakarsa itu, kecuali komentar sejumlah
pengurus dan tokoh yang tidak jarang kontra-produktif
bagi proses demokrasi.

Pernyataan akan walk-out jika MPR menerapkan
mekanisme voting untuk memilih presiden, niat mundur
semua anggota legislatif PDI-P kalau mereka gagal
mengantarkan Mega jadi presiden, dan rencana
mengerahkan massa ke Gedung MPR/DPR -- untuk
menyebutkan beberapa contoh -- yang dikemukakan
tokoh-tokoh PDI-P di media massa, selain mengesankan
pemaksaan kehendak, kurang percaya diri atas realita
sesungguhnya, juga memberikan citra tidak demokratis
bagi partai yang menyandang nama demokrasi. Sejauh
ini, Megawati tidak bereaksi dan ini oleh pendukungnya
dapat dianggap kebijakan resmi.

Bahwa diam adalah hak seseorang. Tapi, sebagai seorang
pemimpin, milik rakyat, diam melihat
persoalan-persoalan yang terjadi, menggambarkan
sensitivitas yang rendah, tidak peduli terhadap realitas,
dan bahkan terkesan kurang bertanggung jawab. Dalam
masyarakat yang primordial, sedikit berbicara memang
lebih baik untuk mendapatkan simpati rakyat, tapi bagi
pengembangan demokrasi jelas tidak produktif. Dalam
perspektif komunikasi politik, seorang pemimpin harus
mampu melakukan komunikasi politik, berdialog, dan
mengemukakan visi yang jelas dan rasional.

Kita tidak tahu pasti, apakah diam bagian strategi. Jika
demikian, kita berupaya menghormati pilihan tersebut.
Tapi, diam terlalu lama dan tidak responsif terhadap
persoalan bangsa, justru memperlihatkan kadar
kemampuan seorang pemimpin.

Dalam Rakernas yang berakhir hari ini, kita berharap
para intelektual yang ada di jajaran pengurus PDI-P,
memberikan ruang yang lebar bagi Megawati untuk
berdialog dan membuka komunikasi politik, bukan justru
sebaliknya. Rakyat berhak tahu lebih banyak tentang
calon pemimpinnya, kualitas yang dimilikinya. Sebab,
nasib bangsa berpenduduk 200 juta ini ke depan dengan
segala kerumitannya, akan tergantung kemampuan
pemimpinnya. Para intlektual di jajaran PDI-P tentu
memahami soal itu, tidak justru bersikap defensif, atau
melihatnya sebagai upaya menghalangi Megawati --
seperti yang sering dikemukakan sejumlah tokoh PDI-P.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Jul 1999 jam 05:33:17 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke