---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Alangkah susahnya memang menjadi orang miskin, apalagi miskin yang tidak berpotensi untuk menjadi apa-apa dan siapa-siapa. Makanya membaca tulisannya A.Aidit yang terbaru adalah seperti menemukan seorang yang memberikan saya satu cermin ,dia ingin menunjukan saya suatu realitas baru bahwa saya bukanlah siapa-siapa. Dia ingin mencoba melukai perasaan saya dengan kenyataan yang menyedihkan bahwa saya ini cuma gelandangan tidak karuan, yang cuma bisa menulis roman picisan dan arogan. Ingin sekali saya menjadi sedih, lalu menyesali semua caci maki yang pernah saya tuliskan. Tapi sayangnya saya tidak punya perasaan beginian. Sambil mencoba membetulkan mobil Mitsubishi Galant tua yang sudah sebulan lebih mesinnya setiap kali berjalan melonjak lonjak seperti onta memusingkan kepala di pinggir jalan,saya berpikiran " Kenapa saya begitu keras kepala?" tangan saya bekerja mengganti thermostat dan cabel busi, tapi otak saya tetap didera oleh pertanyaan selanjutnya "Mengapa saya terus menerus bebal?" walaupun sudah berkali-kali diingatkan orang untuk menjadi orang sopan, yang mau menghargai orang tua dan berhenti memakai kata-kata vulgar baik di dunia real ataupun di tulisan. Tapi bung, biarpun setengah modar saya coba, saya tidak pernah bisa berpura-pura. Saya adalah manusia yang telah menggumpal keras, kepala saya terbuat dari batu. Saya menjadi perantauan dalam usia muda selain karena dipepet keadaan, juga lantaran saya ini sejak kecil berbakat jadi pembangkang.Makanya tidak heran bila tidak ada seorangpun di dalam keluarga saya bisa menghentikan kaki ini, ketika saya berniat meninggali tanah air dan mencari kehidupan lain di luar negeri dengan cuma bermodalkan tiket pesawat pada saat saya berumur 19 tahun, 15 tahun . Barangkali ini cuma semacam alibi,tapi saya harus melanjutkan alasan ini,sebab kalau tidak anda atau si A. Aidit akan terus menerus melanjutkan tulisan-tulisan cengeng bernada merayu dan membujuk agar saya menjadi orang kemayu dan sopan seperti barisan banci Taman Lawang. Walaupun saya ini manusia yang sudah karatan, karakter keras jidat ini tidak bisa diruntuhkan. Saya bukanlah sepenggal tanah lempung yang bisa anda bentuk sedemikian rupa. Jelas saya tidak mau bercerita tentang suka duka menjadi perantauan. Karena cerita seperti ini sudah biasa.Kebanggaan merantau di luar negeri dan bersusah susah mencari penghidupan bukanlah sesuatu yang unik. Tapi dalam setiap perjalan hidup manusia, selalu terdapat ceceran yang menarik untuk kita bagi bersama. Salah satu satu yang membuat saya mau terus menerus menulis di sini, bukanlah ingin mencari ketenaran dan sensasi. Tidak juga ingin mendapat julukan sebagai penulis , sastrawan, kolumnis yang filosofis,ataupun menjadi kritikus dan pengamat politik. Ceceran itu adalah semacam kesadaran baru. Anda boleh bilang ini sebagai culture shock, tapi bagi saya ini bukan sekedar gegar budaya atau proses urbanisasi tipikal manusia gunung yang baru datang ke kota. Karena bagi seorang perantau sejati, dia harus punya kemampuan untuk membuka diri dan menganggap sebuah penjelajahan adalah sebuah proses perenungan,menemui manusia baru dan tempat tempat baru adalah sebuah penyerapan yang bisa memperkaya khazanah berpikir yang bisa memerdekakan kita dari kotak-kotak penjara nasionalisme, rasisme, dan agamaisme. Freedom, kebebasan, kemerdekaan berpikir itulah salah satunya yang paling berharga saya dapatkan dari penjelajahan ini. Kebebasan untuk membongkar paham paham lama, menghancurkan kultur penuh sungkem dan adat istiadat penuh kepalsuan,menistakan sejumlah kebohongan dalam agama, termasuk kebebasan untuk menjadi durhaka ,untuk menertawakan diri sendiri, untuk memaki secara brutal siapa saja, baik para lonte yang berkedok negarawan,agamawan sampai para nabi dan Tuhan.. Anda boleh saja menyebut saya sinting. Tapi akan saya katakan pada anda para pembaca yang masih muda, beruntunglah anda dengan usia anda yang masih panjang di depan. Karena anda punya begitu banyak waktu untuk menyerap dan menikmati perjalanan. Suatu saat ketika waktunya tiba ,anda juga bisa terbebas merdeka dari belenggu tabu-tabu mistik dan kekangan kultural. Jadilah orang yang bebas , Jadilah orang yang durhaka pada hal-hal yang amoral.Jadilah orang yang hedonis dalam batas batas yang wajar. Jangan sekali kali berniat untuk menjadi seorang sufi macam A. Aidit dan memaksakan diri menjadi penyair, karena bertuhan tuhan macam orang gila ,memaksakan diri menjadi orang beragama secara irasional sambil sok menjauhi kesenangan dunia, akan menenggelamkan anda pada sebuah pelarian yang menyesatkan. Hidup ini,kawan...adalah sebuah ladang buah yang harus kita nikmati. Para sufi religius fanatic seperti A Aidit itu tidak lain adalah seperti seorang yang abnormal yang mencoba mengutuki pesta anda karena dia iri dan dengki,manusia-manusia sariawan ini bukannya mencoba mengurangi sakitnya dengan banyak menelan Vitamin C tapi malah mencoba mengajak anda untuk tidak menikmati buah bersama sama dalam satu penderitaan. Tapi saya harus akui dulu, bahwa saya ini memang gelandangan. Tapi itu dulu, kira kira 2 tahun pertama di Amerika saya memang menggelandang dan hidup nomadis seperti kecoa yang migran dari dapur ke dapur mencari sisa -sisa ampas nasi basi.Hanya saja, saya tidak memandang gelandanganya saya ini sebagai sebuah aib yang memalukan. Karena saya ini dari dulu merasa sebagai petualang, bagi saya seorang penjelajah memang mesti berani menggelandang. Kalau anda berpergian ke tempat-tempat baru untuk sekedar berfoto foto dan beli pajangan, itu namanya turis bukan petualang . Sekarang jelas saya tidak lagi bisa menjelajah sendirian. Saya bukan lagi gelandangan ,hidup saya sudah terbelenggu dalam kemapanan. Ritualisme orang yang telah berumah tangga menghentikan saya dari hobby lama yang sampai sekarang masih menyiksa untuk menjelajah dan menikmati manusia baru dan tempat tempat baru seperti hitch hike saya waktu SMP keliling Jawa sendirian, atau mengemudi sendirian dari LA ke Seattle pulang pergi, atau menyebrangi Atlantik dengan kapal barang dari Bremen ke Florida , Atau hampir mati ketika mendaki di gunung Ciremai waktu SMA . Atau naik motor dari Jakarta ke Pengalengan sendirian.Atau tidur di emperan sebuah toko di Cipanas dengan adik di pertengahan jalan ke Bandung karena kemalaman.Atau tidur di Mesjid raya di depan alun alun di kota Malang. Sekarang saya kemana-mana harus tidur di hotel dan motel yang kamar dan alasnya tempat tidurnya bersih. Sekarang saya saya sudah bisa menikmati kamar hotel mewah seperti di Las Vegas ( well jelas karena tarifnya murah ) sekarang saya sudah ada istri yang tidak bisa diajak bertualang. Tapi jauh di dikolong dada ini, saya masih ingin terus menjadi gelandangan. A, Aidit saya kira juga adalah gelandangan. Tapi orang tua yang memaksakan dirinya untuk menjadi sastrawan ini masih malu untuk mengakui dirinya sebagai orang susah, walaupun di suratnya , dia masih sempat bercerita soal kesusahan hidup lantaran keluarganya kabur dari Indonesia.Walaupun dia terus menerus membela perjuangan Komunisme yang hak untuk hidupnya jelas saya hargai, tapi hak untuk berpolitiknya seperti Golkar dan orde baru dan orde lama saya tentang dan harus dijegal karena membahayakan generasi orang orang yang punya pikiran sehat . A. Aidit yang bangga karena pernah menulis di majalah Mimbar Indonesia dan WAKTU ,tahun 1954 ( well, ini 9 tahun sebelum saya lahir ) adalah gelandangan yang lupa diri yang seolah olah selama ini dia itu too touristy untuk disebut demikian. Pada manusia yang mencoba gagal berpuisi secara sastra ( well Aidit, ingin benar saya memuji anda, tapi saya harus bilang puisi anda persis puisi anak SMP di majalah dinding sekolahan yang datar,kurang menggigit dan penuh kalimat klise yang membosankan ) saya menemukan bahwa Aidit ternyata cuma seorang tua pemberang yang terus menerus mencoba mempertahankan konflik saya dan abangnya di Paris sana dan mencari backing dari pembaca seperti bayi premature yang over cengeng lantaran salah asuh. Tapi bagaimanapun saya harus berterima kasih atas kritiknya. Thanks atas usulan anda untuk memberhentikan cerber Bonang yang ngasal itu. Kan saya sudah berkali-kali bilang, itu cerita memang picisan, isinya memang bikin enek orang. Karena saya memang bukan seorang sastrawan. Saya memang punya latar belakang kehidupan sumpek yang menyesakkan walapun tidak separah si Bonang, ya saya masih berjiwa gelandangan . Tapi paling kurang ceceran perjalanan saya dan ceceran tulisan ini bisa menghibur orang . Jadi biarkan orang lain yang menilainya apakah tulisan saya selama ini berguna atau sama sekali tidak berharga seperti sampah atau isi jamban. Teruslah mengkiritik , karena saya memerlukan kritik. Teruslah menulis puisi, tapi coba tinggalkan jiwa SMP anda yang immature itu sedikit demi sedikit....Barangkali kawan, kelak anda akan menemukan style menulis yang mengaggumkan. Barangkali tulisan anda akan dimuat di majalah Horison, walaupun terus terang saja saya sangat ...meragukan.. Hasan Basri ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Jul 1999 jam 12:15:54 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
