----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Serambi Indonesia, 31 Juli 1999

Wiranto: Silakan Temui Hasan Tiro

Serambi-Medan

Menhankam/Panglima TNI Jenderal Wiranto kepada pers di Jakarta
menegaskan, bila bermaksud baik guna menyelesaikan masalah Aceh,
siapa saja dipersilakan menemui pimpinan Gerakan Aceh Merdeka
(GAM) Hasan Tiro. Tapi, jangan malah untuk memperburuk suasana.
Sebab, katanya, semua pihak sebenarnya menginginkan kasus Aceh
dapat diselesaikan secara damai, bijaksana, dan tidak berdarah.
Sedangkan Panglima Kodam I/Bukit Barisan melalui Kapendam Letkol
Inf Drs Nurdin Sulistiyo mengatakan, sejak Jumat (30/7), seluruh
pasukan nonorganik selama ini mengamankan daerah Aceh ditarik
dan dikembalikan ke kesatuannya masing-masing.

Menjawab wartawan usai shalat Jumat kemarin, Jenderal Wiranto
menjelaskan, sudah ada kebijakan pemerintah dalam menyelesaikan
kasus Aceh, dan ada keinginan maupun itikad dari berbagai pihak
untuk membantu menyelesaikan kasus itu. "Semuanya menginginkan
penyelesaiannya dengan cara damai, bijaksana, dan tidak
berdarah," katanya.

Wiranto kemudian menyebutkan bentuk konkretnya adalah
melaksanakan berbagai komitmen pemerintah tentang pelaksanaan
pembangunan di Aceh. Selain itu, menerapkan peraturan perundang-
undangan mengenai otonomi daerah dan perimbangan keuangan pusat
dan daerah, dan menetralisir segala bentuk keinginan
separatisme. Dikatakan, kebijakan-kebijakan itu dilaksanakan
secara komprehensif dan simultan. "Jika tidak diterapkan seperti
itu, dikhawatirkan suatu kasus diselesaikan, namun akan muncul
kasus lainnya. Selain itu perlu ada pemahaman yang jernih dari
masyarakat dan pers dalam melihat kasus Aceh."

Menurut dia, kasus Aceh hendaknya dilihat secara jernih. Satuan
TNI- Polri datang ke Aceh untuk melaksanakan tugas, yakni
melindungi masyarakat. "Jangan semua aparat keamanan yang
bertugas di Aceh malah yang disalahkan. Apa kita biarkan
gerombolan bersenjata malang  melintang di bumi Indonesia. Kalau
sampai kita berikan toleransi, apa yang akan terjadi di republik
ini," katanya.

Ia juga mempersilakan siapa saja untuk bertemu dengan Hasan Tiro
asal bertujuan membantu menyelesaikan kasus Aceh. "Jangan sampai
ada upaya untuk memperburuk suasana."

Kasus Aceh, menurut dia, berkaitan dengan masalah keamanan,
ekonomi, kesejahteraan, kebudayaan, atau harga diri. "Karenanya,
penyelesaiannya harus komprehensif," katanya menegaskan.

Ketika wartawan meminta tanggapan TNI akan pidato politik Ketua
Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, ia menolak
menanggapi. Dikatakan, pidato itu hendaknya dibiarkan apa
adanya, diterima masyarakat, dan tidak dipolemikkan, karena akan
menjadi rumit.

Sedangkan Berkaitan dengan penarikan pasukan nonorganik,
Kapendam I/BB kepada wartawan di Medan mengatakan, "Untuk
selanjutnya, tugas pengamanan Aceh akan dilaksanakan pasukan
organik Aceh." Ia menyebutkan, pasukan organik yang nantinya
akan melaksanakan pengamanan di Aceh, antara lain, Yon Infantri-
111/KB, Yon Infantri-113/BH, beserta aparat kepolisian yang ada
di Daerah Istimewa Aceh.

Rombongan pertama pasukan nonorganik itu tiba dari Lhokseumawae
pukul 11.30 WIB di Pangkalan TNI AU Kelapa Sawit Medan, dan
selanjutnya diterbangkan menuju home basenya di Pekanbaru.

Penarikan pasukan nonorganik ini akan dilanjutkan hari ini
(Sabtu, 31/7) dari Banda Aceh ke Medan dan Pekanbaru, dengan
pesawat udara. Selain pengangkutan lewat jalur udara, juga
menggunakan truk-truk Bekangdam-I/BB, langsung dari pos-pos
kedudukannya di Aceh, di antaranya Meulaboh, Tapaktuan, dan
berbagai daerah lainnya. Pengangkutan menggunakan truk,
dilakukan karena keterbatasan armada udara, juga termasuk
tempat-tempat embarkasi pasukan yang sukar disinggahi pesawat
udara.

Kapendam mengharapkan, dengan ditariknya pasukan dari Aceh
sesuai aspirasi dan permintaan masyarakat Aceh, maka masalah
keamanan dan ketertiban menjadi tanggungjawab aparat keamanan
yang ada di DI Aceh. Oleh karena itu, Kapendam I-Bukit Barisan
mengimbau semua komponen masyarakat di Aceh supaya dapat
membantu aparat keamanan demi terciptanya situasi kondusif bagi
kelancaran pembangunan.

Dwifungsi ABRI

Ketika menanggapi pertanyaan wartawan di Istana Negara seputar
masalah Dwifungsi ABRI dan pelanggaran HAM yang melibatkan oknum
militer, Wiranto mengatakan, TNI sudah berulangkali menegaskan
bahwa konsep Dwifungsi sudah dihapus.

Menurut Wiranto, TNI sekarang ini kembali pada pengabdian hakiki
yang titik beratnya sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan
(Hankam).

Dikatakan, TNI juga punya hak untuk turut menyejahterakan bangsa
ini, maka TNI tentu perlu dilibatkan dalam "nation building".
Penerapannya bisa dilaksanakan secara arif dan kompromi, seperti
porsi TNI di bidang apa saja, katanya.

Ia menyatakan jangan sampai dikotomi militer-sipil ditonjolkan,
karena akan berdampak tidak baik bagi bangsa Indonesia. Katanya,
TNI bersedia melaksanakan role sharing power. Peran TNI
dilaksanakan dalam suatu bingkai kebersamaan.

Ketika wartawan menyatakan pelanggaran HAM masih tetap
berlangsung, Wiranto mengatakan di belahan dunia manapun, selama
masih ada kepentingan beragam, tentu akan ada perbuatan yang
dinilai melanggar HAM.

Dikatakan, TNI tengah menyusun suatu perundangan yang baru untuk
menyempurnakan UU yang lama, dalam memperkecil pelanggaran HAM.
Masalah pelanggaran HAM hendaknya tidak difokuskan pada aparat
keamanan, katanya. TNI-Polri bertugas menegakkan keamanan
nasional, sehingga jangan sampai dikendurkan perannya dalam
menegakkan hukum dan keamanan, katanya. (ant/lau)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Aug 1999 jam 05:35:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke