---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Stockholm, 4 Agustus 1999 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu'alaikum wr wbr. PECAH BELAH MUSLIM MELALUI MEGAWATI. Ahmad Sudirman Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA. Tanggapan untuk saudara A. Simanjuntak. Pada tanggal 2 Agustus 1999 saudara A. Simanjuntak telah mengirimkan tanggapannya terhadap tulisan "Megawati: Meningkatkan kualitas hidup umat Islam" yang dipublisir pada tanggal 2 Agustus 1999. Sebelum saya menanggapi, saya lampirkan terlebih dahulu tanggapan saudara A. Simanjuntak dibawah ini yang berisikan, "Salam persatuan. Sebagai bagian dari komponen bangsa Indonesia, maka saya mencoba menanggapi pemikiran Pak Ahmad sebagai berikut: Benar tidaknya hal itu, berilah ia kesempatan untuk membuktikan ucapannya itu, jangan apriori dulu sebelum melihat yang ia lakukan nantinya. Sepengetahuan saya Ibu Megawati itu seorang Muslim yang taat sehingga tidak mungkin dia tidak membangun sesamanya Muslim. Tetapi yang saya salut dari ke-Musliman Mega, ialah menghargai kemajemukan bangsanya. Ia sadar bahwa Indonesia ini harus dibangun dengan dasar yang bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Terus terang (mohon maaf sebelumnya), saya sangat kecewa dengan Soeharto yang notabene sudah Haji, dan selalu bersikap alim, tetapi ia banyak melakukan penyimpangan dan selama pemerintahannya banyak terjadi pelanggaran HAM. Saya khawatir agama dijadikan oleh oknum-oknum pejabat untuk menutupi kebobrokannya, tetapi umat mungkin tidak menyadarinya. Banyak umat tertipu oleh pejabat-pejabat yang seolah-olah dekat dengan Bapak-Bapak Kyai untuk mencari muka/legitimasi umat. Sebagai contoh saja Pak Ahmad, saya pernah mendengar lontaran teman dari Irian Jaya dan Bali, kalau Indonesia dijadikan negara yang didasarkan pada paham golongan tertentu mereka tidak ragu-ragu untuk minta merdeka dari Indonesia. Apakah kita rela bangsa yang kita cintai ini hancur berantakan hanya karena pemaksaan ideologi suatu golongan tertentu ? Belum lagi daerah lain di Indonesia. Itulah gunanya Pancasila sebagai dasar negara yang majemuk ini. Menurut saya, pendapat Pak Ahmad bagus, namun bagi golongan lain hal itu justru tidak adil. Golongan lain juga ingin mengaktualisasikan pemikiran dan pola hidupnya berdasarkan ajaran agamanya masing-masing. Saya pikir pemaksaan paham golongan tertentu di negeri ini justru melanggar Hak Asasi golongan lain. Golongan lain pasti tidak mudah begitu saja menerima, sehingga potensi-potensi konflik akan muncul. Seharusnya kita harus menghargai ide para "founding fathers" kita untuk membuat format pemersatu bangsa yang begitu majemuk, baik dari segi suku, agama, ras, sosial budaya, etnis, yang semuanya merupakan ciptaan Tuhan yang begitu indah dan mulia kalau semua sejalan seiring, saling menghargai, tolong menolong dan saling membangun. Saya kira golongan lain juga mempunyai hak untuk hidup di bumi Indonesia. Karena bumi Indonesia ini merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang diberikan bagi manusia, bukan untuk dimiliki golongan tertentu saja. Bukan hanya diatur oleh golongan tertentu saja, tetapi masing-masing berhak mengaktualisasikan diri. Pak Ahmad jangan curiga dulu, yang penting mari kita buktikan ucapan Mega, dan untuk membuktikannya ia harus diberi kesempatan terlebih dahulu, baru dilakukan evalusi-evalusi. Kesimpulan Pak Ahmad belum bisa dibuktikan, masih tampak pemikiran yang berangkat dari rasa apriori terhadap Mega. Menurut saya, seandainya Soeharto dengan Orde Baru-nya melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 dengan sungguh-sungguh bisa dipastikan bangsa Indonesia sudah tidak akan ketinggalan dari bangsa lain. Namun kenyataannya, Orde Baru justru menyelewengkan Pancasila dengan segalam macam retorikanya untuk mengelabui rakyat, termasuk mengelabui umat Islam. Jadi, terlalu dini untuk menilai Mega "tidak mensejahterakan Islam", karena ia belum diberi kesempatan untuk membuktikan ucapannya" (A. Simanjuntak, 2 Agustus 1999). Baiklah saudara A. Simanjuntak, saya akan menjawab tanggapan saudara. Apabila Ketua PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, seperti yang saudara Simanjuntak katakan diatas yaitu, seorang muslimah yang taat dan berusaha membangun sesama muslimin dengan dasar pancasila yang berisikan sila persatuan untuk menyatukan kemajemukan, menurut saya pemikiran saudara (kalau saudara seorang muslim) telah menyimpang jauh dari apa yang diajarkan oleh Islam dan dicontohkan Rasulullah saw. Tetapi kalau saudara adalah seorang non muslim, maka saya bisa maklumi. Tentu saja, dengan catatan bahwa, pemikiran saudara bukan dilandaskan kepada dasar-dasar Islam yang telah digariskan dalam Al Qur'an dan Sunnah. Seorang muslim dan muslimah yang taat adalah ia hanya taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta menjalankan segala hukum-hukum-Nya yang telah tertuang dalam Al Qur'an dan yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Jadi, kalau ada seorang muslim atau muslimah yang menjalankan hukum-hukum yang dibuat bukan oleh Allah dan bukan yang dicontohkan Rasulullah saw, misalnya menerapkan hukum-hukum yang didasarkan kepada pancasila dan UUD 1945 maka ia telah menyimpang dari apa yang telah diajarkan dalam Islam dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Nah sekarang, apa yang akan diterapkan dan dijalankan oleh Ketua PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (walaupun ia muslimah) apabila ia terpilih menjadi Presiden Indonesia adalah program-program, ketetapan-ketetapan, hukum-hukum yang dasarnya diambil dari pancasila dan UUD 1945, bukan diambil dari Al Qur'an dan Sunnah. Disini Ketua PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri ingin menunjukkan bahwa kaum muslimin yang kebetulan tinggal dan hidup di Indonesia harus mencontoh dirinya yaitu menerapkan dan mempertahankan Preambul UUD 1945 tanpa tawar menawar yang bersisikan Pancasila untuk diresapi, dipahami dan dijalankan. Bukan hukum-hukum Islam secara menyeluruh. Akibatnya, timbul perpecahan dikalangan kaum Muslimin yang ada di Indonesia. Disini, saya bukan curiga kepada Ketua PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, seperti yang saudara Simanjuntak katakan diatas, melainkan memang sudah jelas, bahwa Megawati apabila terpilih menjadi Presiden akan menerapkan program-program Partainya, ketetapan-ketapan dan hukum-hukum yang berdasarkan kepada isi yang ada dalam Preambul UUD 1945 yaitu, Pancasila, sebagaimana tertuang dalam pidato politiknya pada tanggal 29 Juli 1999. Adapun usaha saya memasyarakatkan Khilafah Islam, Pemerintahan Islam, hukum-hukum Islam dan Undang Undang Madinah adalah bukan pemaksaan ideologi kepada pihak lain dan usaha itu tidak bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM), melainkan suatu usaha untuk saling sadar menyadarkan kepada sesama muslim dalam rangka beribadah, bertaqwa dan mencari ridha Allah. Nah, kalau ada dari pihak-pihak lain yang mempunyai ide, pemikiran, konsep mengenai kenegaraan, pemerintahan, hukum-hukum silahkan tampilkan, misalnya, bagaimana konsepsi kenegaraan menurut ajaran Kristen, Hindu, Buddha, dan ajaran ajaran agama lainnya. Kita sama-sama untuk mencari jalan keluarnya bagi kebaikan umat. Adapun Penguasa-penguasa Indonesia dari mulai Soekarno, Soeharto dan sekarang Habibie melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang bukan menjadi suatu alasan bahwa ajaran Islam dan hukum-hukum Islam yang tidak benar, melainkan karena mereka (walaupun mereka adalah muslim) tidak menjalankan ajaran dan hukum-hukum Islam secara menyeluruh. Yang dijalankan oleh mereka adalah ajaran-ajaran dan hukum-hukum yang didasarkan kepada pancasila dan UUD 1945 yang sekuler. Walaupun menurut saudara Simanjuntak seandainya Soeharto dengan Orde Baru-nya melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 dengan sungguh-sungguh bisa dipastikan bangsa Indonesia sudah tidak akan ketinggalan dari bangsa lain. Namun kenyataannya, Orde Baru justru menyelewengkan Pancasila dengan segalam macam retorikanya untuk mengelabui rakyat, termasuk mengelabui umat Islam, (walaupun) Islam tidak menerima Pancasila. Sebenarnya, menurut saya bahwa Penguasa-penguasa Indonesia dari mulai Soekarno, Soeharto dan sekarang Habibie telah melaksanakan dan menjalankan apa yang tercantum dalam Pancasila dan UUD 1945. Bahkan bukan mereka saja, termasuk semua jajaran bawahannya. Jadi, bukan mereka tidak melaksanakan apa yang ada dalam Pancasila, melainkan mereka telah disumpah untuk menerapkan dan mengamalkan Pancasila dan UUD 1945. Persoalannya adalah Pancasila itu bagaikan karet yang bisa membal, tergantung dari siapa yang mempergunakannya. Karena itu, kalau para Penguasa Indonesia dan bawahannya yang kebetulan mereka adalah muslim melakukan kesalahan dan penyimpangan, itu disebabkan karena Pancasila yang telah diresapinya tidak memberikan sangsi apa-apa. Dilaksanakan atau tidak, sama saja, karena tidak ada sangsinya yang kuat baik di dunia atau sangsi kelak di akherat. Jadi, walaupun para Penguasa Indonesia dan bawahannya kebetulan muslim (sebagian telah haji), tetapi karena mereka tidak menerapkan ajaran dan hukum Islam secara menyeluruh, melainkan hanya menerapkan ajaran dan pemahaman Pancasila dan UUD 1945, maka jadilah Indonesia seperti sekarang ini, jauh dari apa yang dicita-citakan. Nah, kesimpulan terakhir adalah, memasyarakatkan Khilafah Islam, Pemerintahan Islam, hukum-hukum Islam dan Undang Undang Madinah adalah bukan pemaksaan ideologi kepada pihak lain dan usaha itu tidak bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Adapun para Penguasa Indonesia dan bawahannya kebetulan muslim telah menyimpang itu disebabkan oleh Pancasila yang telah diresapinya tidak memberikan sangsi apa-apa. Sedangkan Ketua PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri apabila terpilih menjadi Presiden akan menerapkan program-program Partainya, ketetapan-ketapan dan hukum-hukum yang berdasarkan kepada isi yang ada dalam Preambul UUD 1945 yaitu, Pancasila, sebagaimana tertuang dalam pidato politiknya pada tanggal 29 Juli 1999. Tentang seorang muslim dan muslimah yang taat adalah ia hanya taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta menjalankan segala hukum-hukum-Nya yang telah tertuang dalam Al Qur'an dan yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Inilah tanggapan saya untuk saudara A. Simanjuntak. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada [EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 4 Aug 1999 jam 23:20:17 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
