---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Langit Jumaat sore dikuasai mendung tapi hujan tidak juga turun. Tidak mau mengambil resiko, bu Tape segera mengemaskan barang dagangannya bersiap untuk pulang ke Tanah Abang. Bonang juga nampak begitu lelah dan kurang bersemangat. Suasana romantis yang hinggap tadi malam,hari ini berubah menjadi seperti suasana berkabung di anatara keluarga yang baru mengalami kematian. Bonang merasa sedih tanpa sebab. Dia merasa kesepian tanpa penyebab, barangkali karena Bonang terlalu banyak memperhatikan pasangan muda kencan dengan nonton film barat ketinggalan jaman atau film lokal berjudul menggiurkan seperti " Semulus Paha Janda" " Desah Dari Kamar Kos ", " Mendaki Puncak Maria " atau yang agak meniru judul surat surat heroik seorang pahlawan wanita bikinan orang Jawa " Habis Gelap, Turunlah Celana "di BenHil Theater yang berkarcis Rp 2500 ( AC tidak termasuk ) Langkah ceria pasangan gang dari Karet Tengsin, Karet Belakang dan Kampung Gang Buaya yang prianya berpakaian kotak kotak,rambut berpomade Brisk mengkilat bergandengan dengan wanitanya yang ber rok jeans merek Tira berkaos obralan Ramayana Department Store dan bersepatu merek Cimande itu makin menenggelamkan Bonang pada lautan rindu terhadap Nisye.Sambil membantu ibunya menaruh segala macam jualan ke dalam gerobak, Bonang mengeluhkan hidupnya " Kapan sih aku bisa bener bener kencan dengan seorang wanita ? " Tepat ketika hendak mendorong gerobak ke Gang Sepakat tempat Ibunya menyewa storage, seorang tua bertampang " Septic Tank " berjalan menghampiri Bonang, sang AM Saefudin yang datang sebagai nabi yang diutus pak Badak tidak berbasa basi ketika menemui kepala nabi dari kampung Lontar ini.Dengan segera dia langsung menyerahkan 3 bags dari tangannya pada Bonang sambil berkata, " Maaf mas, saya ini supir keluarganya Nisye, saya ditugaskan bapaknya Nisye untuk mengundang kamu untuk ikut makan malam bersama besok malam bersama keluarga " Bonang terkejut, dia bertanya " Trus bungkusan ini buat apa?" " Itu hadiah dari Bapaknya Nisye untuk mas, tapi mas jangan kasih tau Nisye soal ini, katanya ini buat suprais ( suprise ) " Jawab Pak Paluwi sambil nyengir ngiri.Dalam hatinya dia mengutuki Bonang ( Sialan si muka petak ini, udah miskin, Batak , non muslim eh bisa deketin keluarga muslim kaya alim dan macarin si Nisye lagi...) Bonang tertegun seperti patung pak tani, Pak Paluwi segera berlalu sambil mengingatkan " Jangan lupa mas, besok malam pakai pakaian yang rapih..." Sambil melirik sepatu Bonang yang bolong di depan. Mendung tiba tiba berlalu, cahaya matahari senja muncul untuk terakhir kali di langit barat ketika Bonang pulang dan sampai di rumah. Sang Batak sangat terperanjat ketika membuka bags itu di kamarnya. Dengan mata terbelalak dia mengeluarkan baju, blazer, celana, dasi tali pinggang dan sepatu yang nampak sangat mahal. Dengan seksama diperhatikan mutu dan jahitannya," Made in Italy ", " Made in France " Bonang menggaruk garuk berkali kali tanda kebingungan. Tapi lama kelamaan dia mengerti bahwa hadiah ini diberikan Bapaknya Nisye agar Bonang dapat tampil di dinner nanti secara lebih beradab . Perlahan tapi pasti, Bonang membuka celana dan baju usang yang dia kenakan, slow but sure dia celana dan baju buatan lokal lengser digantikan pakaian rancangan seorang fashion designer homo internasional. Magrib itu Bonang berdiri di depan cermin retak. Wajah sang batak yang biasanya kasar dan didominasi kotak, lambat laun makin menampakan ketampanannya. Ini jelas hal yang lumrah, mode pakaian memang selalu mengurangi kekurangan manusia.Lihat saja Bonang, tanpa Versace, dia cuma nampak seperti preman terminal Pulo Gadung yang brengsek dan dekil, dengan pakaian impor , sang preman sekejab menjadi mirip Rob Lowe. Lihat saja Sudomo dan Baramui, tanpa Versace dan Jas Impor tampang mereka memang kembar dengan isi jamban, tapi dengan Versace, mereka juga bisa menjadi lebih nampak sopan seperti " Tinja Berdasi " Bonang sendiri kaget melihat perubahan dirinya di kaca. Gembel satu ini menjadi petentengan dan terkagum kagum terhadap dirinya sendiri. Dia menyeringai dan tersenyum senyum dengan pasti. Tidak lupa Bonang sambil mengenakan blazer coklat dan mencoba mengenakan dasi tapi gagal, menyeringai dan menanyakan bayangannya sendiri di kaca seperti Robert de Niro di Film Taxi Driver " are yu talkin to mi ?" " ekcus mi, are yu talkin to me ? " Ucok sang adik yang tanpa sengaja masuk kedalam dan memergoki Bonang, terperanjat dan kabur serentak keluar dari kamar dengan menjerit jerit " Makkkk...ada draculaaaa...!! " Bu Tape yang sedang menanak nasi di dapur tersentak mendengar teriakan Ucok, dengan sigap dia membuka pintu dan hampir roboh melihat seorang Robe Lowe berada di dalam kamar anaknya tersenyum maut padanya.Melihat ibunya mau pingsan Bonang segera memburu dan menepuk nepuk pipinya " Bu...ini aku ..Bonang..bangun bu " Bu Tape terkesiap dan mengusap usap mata. " Anakku. "Katanya lirih sambil terus berusaha untuk tetap siuman. " Kamu lebih mirip bintang pelem dan lebih ganteng dari Rashe Kappor " Kata sang ibu dengan wajah yang masih pucat pasi.. Bonang tertawa senang mendengar pujian ibunya.Tapi sang Ibu rupanya memang niat untuk pingsan buktinya dia meneruskan.. " Juga lebih keren dari catatan si Boy ..." [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 Aug 1999 jam 22:02:56 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
