----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


CATATAN PERJALANAN DI BUMI LOROSAE (2)

Dear Joko dan Riri,

Maaf, aku baru sekarang menjawab surat kalian, meskipun beberapa kali aku
mendengar pesan kalian lewat mailbox di handphoneku. Riri, surat yang kamu
titipkan pada seorang teman juga sudah aku baca. Terima kasih, ya. Aduh,
kamu baik bener ngirimi aku makanan dan rokok. Memang sudah satu bulan ya,
aku tak pernah berkabar pada kalian. Kalian jangan khawatir begitu, dong.
Ada-ada saja kalian ini. Percayalah, aku baik-baik saja. Dibunuh milisi? Ah,
jangan berpikir yang aneh-aneh.

Dalam perjalanan ke luar kota, kadang-kadang aku juga melihat milisi. Pernah
aku menduga-duga jangan-jangan milisi itu bukan manusia, tapi robot. Eh,
ternyata mereka manusia seperti kita juga. Cuma tindakan brutal yang mereka
lakukan itu yang seperti robot. Mereka bisa membunuh orang lain, seperti
kita membunuh nyamuk. Kata Neves, mereka mau bergabung menjadi anggota
milisi karena dipaksa. Dipaksa? Ya, mereka memang tak punya plihan. Mereka
tak punya kuasa untuk melawan. Ketika Neves cerita, aku nggak habis
mengerti, bagaimana mungkin seorang kepala desa ternyata juga merangkap
menjadi milisi. Ya, begitulah Timor Lorosae. Mereka tentu saja mendapat gaji
atau tepatnya upah atas tugas mereka itu. Yang pernah aku dengar besarnya Rp
150 ribu. Gila ya?

Sebagaimana manusia biasa tentu saja aku letih. Kadang aku merasa lelah yang
amat sangat. Kelelahan itu rasanya lebih diakibatkan karena aku tahu semakin
maraknya kekerasan yang dilakukan oleh aparat. Terkadang aku tak sanggup
mendengar berita adanya  penyerangan atau pembunuhan di Dili atau di tempat
lain. Dan itu bukan cuma sekali-sekali. Kalau boleh aku katakan, hampir
terjadi setiap hari. Jika ada yang menghitung mungkin saja setiap jam sekali
pasti ada pembunuhan, penganiayaan, teror atau intimidasi. Bagaimana mungkin
kita bisa melupakan begitu saja kejadian itu. Kamu tahu, kekerasan itu tak
hanya terjadi di Bumi Lorosae. Tapi saat ini juga terjadi di Aceh dan Ambon,
juga di Papua Barat. Temanku seorang jurnalis di Aceh, pernah mengaku pusing
ketika menyaksikan kekerasan demi kekerasan itu. Saat itu, ia tengah menulis
berita sejumlah narapidana yang kabur dari penjara, eh,  ada berita lain
tentang para pengungsi yang diserbu tentara. "Lama-lama aku jadi pusing
sendiri dengan masalah-masalah seperti ini. Gila, mau jadi apa negeri ini.
Di sana masalah, di sini banyak masalah. Mending aku minggat saja ke Kutub
Utara, ya," tulisnya, mencoba bercanda. Sebagai jurnalis, Prima, temanku itu
mengaku seringkali tak bisa tidur nyenyak. Menurut Prima, ingin rasanya dia
menghentikan semua kebiadaban ini. Ia juga agak kecewa karena media
tempatnya bekerja tak selalu bisa mengungkapkan semua fakta yang tengah
terjadi.

Aku mengerti betul bagaimana media di Indonesia memberitakan
kejadian-kejadian itu. Bukan hanya itu, Jok. Tak jarang mereka
memutarbalikkannya. Apalagi persoalan Timor Timor yang berkaitan dengan
referendum. Berbagai media lebih sering mengutip apa yang dikatakan para
pejabat. Kalau bukan pejabat pemerintah di Jakarta sana, pastilah para
petinggi di Polres, Polda atau pimpinan lembaga pro-Jakarta yang ada di
sini. Males  aku menyebut apa saja lembaga mereka itu dan siapa pimpinannya.
Buang-buang waktu saja, ah.

Semenjak aku di sini, aku hanya membaca dua surat kabar dari Jakarta. Itu
pun kalau ada pesawat terbang yang mendarat di Pelabuhan Comoro. Kalau
tidak, setiap pagi aku hanya membaca harian Suara Timor Timur (STT).
Meskipun koran itu sering membuat aku pusing karena isinya yang nggak
karuan, tapi aku harus membacanya setiap hari.  Kayaknya, STT sudah jadi
corongnya kelompok pro-otonomi atau yang lebih dikenal sebagai
pro-integrasi. Bagaimana tidak? Tiap hari, hampir seluruh halaman koran itu
dipenuhi gambarnya Sico Lopes, Ketua BRTT dan Salvador Ximenez, Sekjen BRTT.
Padahal Salvador juga menjadi salah satu pimpinan di STT. Bisa dibayangkan
bagaimana berita di STT itu, Ri.  Tiap hari penuh dengan pernyataan perang
kelompok-kelompok milisi dan upaya  cuci tangan pihak Polri, yang telah
diberi mandat oleh PBB untuk mengurusi masalah keamanan. Belum lagi
orang-orang pemerintah yang melakukan propaganda lewat STT dengan nama
samaran.

Saat ini, STT sedang menurunkan serial artikel dari kelompok pro-integrasi.
Apa isinya, coba? Tanggapan atas hasil diskusi Sahe Study Club (SsC). Di
Jakarta, kelompok diskusi ini menerbitkan hasil diskusi mereka, yang
kemudian dibukukan dengan judul "Jebakan Integrasi". Buku kecil itu selain
disebarkan di Indonesia juga beredar meluas di Timor Timur. Membaca judul
buku itu tentu gampang ditebak apa isinya. Kupasan dari orang-orang muda
asal Timor Timur dan sejumlah aktivis dari Indonesia ini, tentunya merupakan
upaya menelanjangi konsep DOK TT yang menurut mereka nggak berbeda dengan
zaman integrasi.

Kalian tahu, aku membeli buku itu dari seorang anak penjual koran di
Colmera. Ketika ada temanku yang juga bermaksud membeli buku itu, aku tak
berhasil menemukannya lagi. Buku itu memang laris bak kacang goreng. Ketika
aku tengah membeli kue di sebuah bakery, aku didekati seorang anak. Dia
menanyakan, apakah aku mencari sesuatu. Ah, rupa-rupanya mereka tak berani
menjual buku itu terang-terangan. Kata Manuel, pernah ada penjual buku itu
ditampar polisi. Kenapa? Ya, gara-gara menjual buku itu. Padahal apa sih
salahnya menjual buku di jalanan? Rasanya aku tak perlu menjelaskannya pada
kalian.

Ri, salam kamu untuk Manuel sudah aku sampaikan. Lama juga aku tak pernah
berjumpa dengan Neves dan Jose. Mereka pasti pulang ke kampungnya
masing-masing. Meskipun aku merasa kehilangan, tapi aku mengerti betul
kenapa mereka harus pulang kampung. Kata Neves, mereka punya kewajiban untuk
memberi semangat rakyat Timor Lorosae, agar mereka berani datang  sebagai
pemilih saat referendum nanti. Kalian yang tak melihat langsung tentu heran
kenapa rakyat Timor Lorosae membutuhkan keberanian hanya untuk mendaftar.
Pastilah banyak aktivis, laki-laki maupun perempuan melakukan apa yang
dikerjakan oleh Manuel, Neves dan Jose. Ya, karena referendum 'kan hanya
sekali saja, tidak seperti pemilu di Indonesia. Melihat begitu gencarnya
pihak pro-otonomi melakukan pemaksaan terhadap rakyat Timor Lorosae, Manuel
pernah mengeluh. "Aduh, bagaimana kalau kami kalah, ya." Aku hanya tertawa
ketika itu. Bagaimana Manuel tak was-was kalau Pemerintah Indonesia dengan
berbagai cara mencoba memaksakan kehendaknya. Memaksa agar rakyat memilih
otonomi. Menurut aku, Pemerintah Indonesia pasti tak rela jika Timor Timur
lepas dari Indonesia. Lewat berbagai cara mereka aktif menteror masyarakat.
Bukan hanya milisi yang diwajibkan menakut-nakuti rakyat tapi juga bupati,
camat, bahkan gubernur. Duh, sungguh memalukan ya.

Untuk pergi ke tempat pendaftaran saja mereka memerlukan keberanian yang
luar biasa, lho. Penduduk sipil yang punya hak pilih diteror oleh aparat
maupun oleh milisi. Ada saja cara mereka untuk menakut-nakuti. Ada milisi
yang menjaga di setiap jalan menuju tempat pendaftaran, ini terjadi di
Kabupaten Ermera. Maksunya apalagi kalau bukan menghalangi orang pergi ke
sana. Aku baru tahu dari Manuel, bahwa ayahnya Jose diancam oleh milisi yang
merajalela di kampungnya. Katanya, rumah keluarga mereka diobrak-abrik. Itu
gara-gara keluarga Jose adalah pendukung kemerdekaan.

Jok, Pemerintah Indonesia 'kan sadar betul ketika menandatangani kesepakatan
dengan Pemerintah Portugal, yang kemudian dikenal sebagai Kesepakatan 5 Mei
itu.  Mereka tahu persis bahwa hanya petugas dari UNAMET yang bertindak
sebagai panitia penyelenggara referendum. Tapi apa yang terjadi? Sejumlah
aparat melarang mereka yang berhak memilih itu mendaftarkan pada petugas
dari PBB, tapi mereka mendatangi rumah-rumah penduduk, mencatat agar memilih
otonomi. Atau, kalau rakyat sudah mendaftar, mereka ditakut-takuti jika
nanti menolak otonomi. Katanya, jika memilih merdeka rakyat akan dibunuh
atau dikubur hidup-hidup. Ini tak masuk akal.  Bahkan Lopes da Cruz telah
berkoar-koar, kalau pro-kemerdekaan menang maka darah akan mengalir tapi
kalau pro-otonomi yang menang, darah hanya menetes saja di Timor Timur.
Kalian tahu kan maksud duta besar keliling yang baru saja meluncurkan
otobiografinya itu?

Di Dili pun pasti banyak teror semacam itu. Jadi jangan kalian bayangkan
intimidasi hanya terjadi di daerah. Kalau malam aku sempat mendengar bunyi
tembakan. Meskipun bukan hanya sekali tapi setiap terdengar bunyi letusan
senjata api  selalu membuat aku deg-degan. Pertanyaanku sepertinya tak ada
yang bisa menjawab, "ada apa dan di mana itu terjadi". Beberapa temanku di
sini menganggapnya biasa. Seperti tak pernah terjadi apa-apa. Aneh, menurut
kalian? Tidak aneh, karena mereka telah diteror selama hampir 24 tahun. Bagi
aku aneh sekali kejadian hari Jum'at lalu. Aku diberitahu Collin, kalau ada
korban akibat tembakan di Caicoli. Beberapa teman yang sudah ke sana, pulang
dan mengatakan tak ada apa-apa. Aku penasaran, lalu mengajak seorang teman.
Di tengah jalan ada yang mengatakan, kejadian itu di Mercado Lama. Mercado
itu pasar, Jok. Eh, ternyata juga sepi-sepi saja. Tak ada seorang pun yang
tahu di mana asal tembakan itu. Pertanyaan itu baru terjawab, setelah aku
membaca koran keesokan paginya.  Ternyata, tembakan itu datang dari arah
Detasemen Peralatan (Denpal) Dili, yang terletak di Desa Mascarenhas, jalan
raya Balide. Katanya, tembakan itu diletuskan oleh anggota TNI Denpal
sendiri. Nah, lho ...

Kejadian-kejadian jenaka, menurut istilah kamu, Ri, banyak bener terjadi di
sini. Ada hal yang sampai saat ini tak aku pahami. Di pos penjagaan yang ada
di dekat rumah kami, misalnya. Kadang-kadang, kalau malam hari aku melihat,
tentara yang berjaga-jaga di sana membawa senjata panjang. Ngeri juga sih,
tapi aku berpikir, mereka itu menjaga apa atau siapa musuh mereka. Dan kamu
tahu, semua kampung di wilayah Timor Lorosae itu selalu ada pos penjagaan.
Kalau dihitung, pasti ribuan jumlahnya.  Aku belum cerita ya, dalam
perjalananku ke Baucau beberapa waktu lalu, aku melihat begitu banyak pos
tentara di pucuk bukit yang sepi. Sama juga dengan pos penjagaan
yang ada di kampung-kampung itu. Bedanya, tentara yang ada di sekitar rumah
penduduk  bisa ketemu orang lain dan masih bisa bebas. Sedangkan yang di
bukit-bukit itu? Kalau yang jauh dari perkampungan, mereka disediakan
tong-tong air di pinggir jalan, ada dua atau tiga drum air untuk mereka.
Katanya, air itu diisi oleh petugas Dinas PAM tiga hari sekali. Aku
membayangkan, kok seperti Bona, anjing kamu itu, Ri. Hanya bisa minum di
tempat yang disediakan. Aduh, tentara-tentara itu pasti senewen. Mereka
tinggal di pos kecil, tanpa tetangga, apalagi bacaan. Mereka stes bukan
hanya karena  terpisah jauh dari keluarganya. Tapi disuruh jaga nggak jelas
apa yang dijaga, mereka cuma diperintahkan mengamankan negara dari GPK.

Kalian tahu 'kan mulai Sabtu lalu, kampanye untuk memenangkan referendum
sudah dimulai. Ri, aku penasaran kayak apa sih kalau  kelompok pro-otonomi
pamer massa. Acara mereka diadakan di lapangan Merdeka di Comoro.  Ternyata
mengecewakan sekali, aku bayangkan acara mereka akan  heboh dan riuh rendah.
Bendera merah putih memang ada di mana-mana, tapi acara itu ternyata
biasa-biasa saja. Biasa maksudku, pendukung mereka yang diangkut dengan bus
kota atau truk itu diam saja. Cuek bebek, menurut istilah kalian. Mereka
kayak nggak tahu apa-apa meski ada yang berkalungkan kain merah putih dan
ada band yang mengiringi penyanyi. Aku lihat ada ibu-ibu seperti baru pulang
dari pasar duduk di mikrolet, ada juga yang duduk di bawah pohon tanpa tahu
ia sebenarnya disuruh apa.  "Sejak pagi, orang-orang yang berdiri di pinggir
jalan di Caicoli dan sekitarnya diminta untuk naik kendaraan yang telah
disediakan. Tapi banyak yang menolak ketika tahu akan diajak ke Comoro,"
kata sopir taksi.

Di perempatan Comoro sejumlah pemuda  yang mengenakan kaos putih, di
punggungnya bertuliskan "simu otonomi" [menerima otonomi], membagian
selebaran bertuliskan "O Hanoin Tan Sa Ida Otonomia Mak Dalam Diak Liu"
[Kamu pikir apa lagi, otonomi jalan terbaik]. Selebaran ini juga masih
disebarkan di kawasan Farol pada malam harinya. Semula aku pikir, ada apa
kok ada mobil yang ngebut. Eh, rupanya ada yang membuang kertas-kertas putih
itu.  Ada  beberapa pemuda yang tengah duduk-duduk di tepi pantai Farol itu
mengambilnya, tapi segera membuangnya kembali.

Yang menarik  adalah pertemuanku dengan seorang laki-laki setengah baya. Ia
hanya menatap  ke arah kami berdiri di pinggir lapangan.  Aku mencoba
menyapa  dalam bahasa Tetun yang patah-patah. Tio Alex itu bercerita panjang
lebar tentang kehadirannya pada acara itu. "Sebagai orangtua di daerah ini,
saya  harus datang. Ketika diberi merah putih ya saya terima saja, tapi saya
mau merdeka," katanya lirih. Aku tahu Tio Alex jujur mengatakan apa yang ia
inginkan. Bukan karena ia pernah bergabung dengan Falintil sampai dengan
tahun 1991. Tapi, ia ingin bebas dari penjajahan yang dibungkus dengan kata:
integrasi.

Tio Alex  tak sendirian. Aku menjumpai ribuan rakyat Timor Lorosae yang
hadir pada  acara yang diadakan di Lecidere pada Minggu pagi tadi. Kelompok
pro-kemerdekaan menandai kampanye hari kedua dengan membuka kantor CNRT
[Conselho Nacional da Resistencia Timorrense, Dewan Nasional  Perlawanan
Timor]. Saat bendera berwarna biru, hijau, putih dan hitam itu dikibarkan,
aku melihat begitu banyak orang yang menangis. "Ini saat yang kami
tunggu-tunggu selama hampir 24 tahun." Tua-muda, laki-laki dan perempuan
tumpah ruah  di kawasan pinggir laut itu. Mereka menyanyikan lagu: Funu
Na'in Falintil sambil mengepalkan tangan kanan ke dada sebelah kiri.  Inti
lagu perjuangan itu adalah  "Falintil berjuang untuk membebaskan rakyat
Timor Lorosae dari imperialis dan kolonialis Indonesia
dengan menyerahkan jiwa dan raganya, untuk mencapai kemenangan.
Indonesia tak akan memerintah kita".

Aku tahu banyak yang datang dari luar Kota Dili. Mereka duduk-duduk di
pantai, menggelar tikar, membawa bekal makan siang. Dan tentu saja wajah
mereka cerah-ceria. Baru kali ini aku menyaksikan hari Minggu yang tidak
senyap di Dili. Di jalan-jalan begitu banyak orang berjalan kaki atau
mengendarai motor dengan gembira. Kalau kompleks pertokoan tutup, bukan
karena mereka takut akan terjadi kerusuhan. Toko-toko di Dili memang banyak
yang memilih tutup pada hari Minggu.

Riri, kalau kamu hadir di tengah-tengah mereka, kamu tak perlu melontarkan
pertanyaan: benarkah rakyat Timor Lorosae menginginkan kemerdekaan. Kampanye
macam apa yang akan mereka adakan, tanya kamu lagi. Menurut aku, mereka tak
perlu kampanye lagi apalagi dengan mengerahkan massa sebagaimana yang biasa
kita saksikan di Indonesia.  Bukankah selama hampir 24 tahun rakyat Timor
Lorosae  telah melakukan kampanye?

Duh, kelabunya suratku kali ini, ya? Bener, Ri, di sini nggak ada yang
pantas ditertawakan. Karena itu barangkali, kamu menganggap aku berubah jadi
serius. Malam ini aku sendirian di rumah. Sesungguhnya aku was-was juga tak
ada siapa-siapa di rumah. Seperti juga kita di Jakarta, kehadiran tentara di
sekitar kita 'kan malah membuat kita tak merasa aman, apalagi di Bumi
Lorosae ini.  Tapi, mau apa lagi. Tiga temanku bepergian ke luar kota. Aku
nggak bisa ikut mereka  pergi ke beberapa daerah, karena beberapa hari ini
aku demam. Aku khawatir, jangan-jangan sakit malariaku kambuh. Masih ingat
kan, aku pernah terserang malaria sepulang dari Timor Timur, empat bulan lalu.

Udahan dulu ya, suratku kali ini. Ada suara motor berhenti di depan rumah.
Mungkin, Victor adiknya Neves  yang datang. Ia berjanji akan  menemani aku
malam ini.  Ah, aku jadi lapar karena dia berjanji akan membawa ikan bakar
kesukaanku untuk makan malam. lain kali  aku tulis surat lagi. Tapi, kalian
jangan berharap  minggu depan suratku akan kalian terima. Kalian tahu 'kan,
aku paling males menulis surat. Salamku untuk Dimas dan Andre. Katakan, aku
kangen sama mereka.

Dili, 15 Agustus 1999
Peluk dan cium,

Pratiwi

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Aug 1999 jam 22:19:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke