---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Berita Buana, 14 Agustus 1999 Ternyata, di Aceh Ada Tentara Disersi Jakarta, Buana PangdamI/Bukit Barisan Mayjen TNI Abdul Rahman Gaffar menyatakan, memang ada kemungkinan anggota TNI disersi yang kemudian membantu Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Diakuinya, ada anggota TNI di Aceh yang disersi, namun jumlahnya hanya sedikit saja, sekitar tiga atau lima orang. "Mungkin saja ada. Tapi, itu baru kemungkinan, karena saya tidak tahu kegiatan yang sebenarnya," kata Gaffar di Dephankam, Jumat (12/8). Menurut Gaffar, anggota TNI yang disersi tersebut akan segera diusulkan untuk dipecat. Sebab, ada yang sudah lima bulan, bahkan satu tahun, tidak masuk dinas, sehingga tidak perlu dipertahankan sebagai nominatif anggota TNI organik di sana. Menurut Pangdam, kekuatan GAM saat ini sudah mulai terdesak dan mulai mengalihkan pola gerakan dengan mengarahkan pada front diplomatik dan politik. Sebelumnya, GAM terdiri atas tiga front, yaitu front bersenjata, diplomatik, dan politik. Namun, dengan kekuatan aparat kepolisian yang cukup banyak di Aceh, dibantu dengan TNI, kegiatan front bersenjata GAM sudah mulai terdesak. "Sekarang mereka mulai mengalihkan perhatiannya dengan kegiatan diplomasi politik melalui pemutarbalikan fakta yang terjadi sebenarnya di lapangan, sehingga opini di atas, khususnya di ibu kota, seolah-olah benar," urainya. Gaffar memberi contoh, polisi Aceh telah menangkap empat orang anggota GAM yang melakukan operasi sweeping terhadap wanita yang tidak menggunakan jilbab. Padahal, sweeping semacam itu tidak beralasan, apalagi mempermainkan wanita tersebut. Belum lagi, GAM mengatakan bahwa Aceh dijajah Indonesia Jawa. Istilah itu membuat transmigran-transmigran dari Jawa banyak yang mengungsi ke Riau dan Kalimantan. Kekuatan GAM saat ini, menurutnya, sebenarnya hanya sekitar 400 orang dan memiliki antara 250-300 pucuk senjata api. Namun, 400 orang tenaga inti GAM yang memiliki kadar separatisme di atas 100% ini didukung banyak simpatisan. Kekuatan bersenjata GAM sendiri didukung sekitar 400-600 orang Aceh yang dilatih di Libia, ditambah TKI yang terusir dari Malaysia. Mereka mendapatkan pelatihan teror dan antiteror serta persenjataan selama sekitar setahun. Informasi ini, menurut Gaffar, diperoleh dari beberapa anggota GAM yang berhasil ditangkap dan menyerahkan diri. Diakui, meski jumlahnya relatif kecil, GAM memang sulit ditangkap. Alasannya, kata Gaffar, karena GAM bergerilya bersama masyarakat. "Kita tidak bisa membabi buta karena kadang-kadang ada lima orang GAM bergabung dengan rakyat kampung yang berpenduduk ribuan orang. Masa seribu orang itu mau dibunuh," tandasnya. Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, diakui Gaffar, rakyat Aceh memang diminta menaikkan bendera Merah Putih sejak 7 Agustus lalu, meski baru diwajibkan mulai tanggal 14 Agustus. Hal ini, menurut Gaffar, memancing GAM mengubah format aksinya dengan menurunkan dan membakar bendera Merah Putih. Untuk mencegah aksi penurunan bendera tersebut, kini seluruh pasukan disebar untuk mengamankan sekaligus mencari anggota GAM. "Kalau ada bendera GAM naik, kita turunkan. Kalau ada yang memaksa tidak boleh diturunkan, berarti ia GAM dan kita akan ambil untuk diproses," ujarnya. (rad) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Aug 1999 jam 10:28:04 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
