----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 20 Agustus 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MENANGGAPI CAK NUR
Ahmad Sudirman
Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA.


Jawaban untuk saudara Darwis Husain.

Pada tanggal 19 Agustus 1999 saudara Darwis Husain telah mengirimkan
surat yang mengambarkan isi hatinya mengenai tulisan yang dimuat oleh
Republika Online edisi: 13 Januari 1999 dengan subject "Cak Nur: Tak
Mungkin Indonesia Jadi Negara Islam".

Dalam suratnya saudara Darwis Husain menulis : "Artikel di bawah ini
sangat membuat hati saya menjadi tidak enak namun saya tidak mempunyai
kemampuan yang cukup untuk mendebat dan meyakinkan setiap orang yang
membelanya. Saya pribadi tidak setuju dengan apa yang ditulis oleh Cak
Nur tersebut. Kalaulah boleh saya mohon bantuan Bang Ahmad untuk
memberikan tanggapan atas artikel di bawah ini, sekaligus sebagai
pegangan kita dalam perjuangan menegakkan ajaran Islam dalam kehidupan
bernegara. Atas perhatian dan jawaban Bang Ahmad saya ucapkan terima
kasih" (Darwis Husain, 19 Agustus 1999).

Dimana sebagian isi artikel Republika Online edisi: 13 Januari 1999
dengan subject "Cak Nur: Tak Mungkin Indonesia Jadi Negara Islam"
adalah,

"Kendati umat Islam mayoritas dan partai Islam marak bermunculan, hal
itu menurut cendekiawan Dr Nurcholish Madjid bukan indikasi Indonesia
akan jadi negara Islam. Dalam pandangan Cak Nur, panggilan akrab
Nurcholish Madjid sudah banyak bukti yang membenarkan argumentasinya. Ia
kemudian memberi contoh beberapa negara berpenduduk mayoritas yang tak
jadi negara Islam. ''Turki penduduk muslimnya 90 persen, Syria dan Mesir
80 persen muslim, tapi semuanya tidak menjadi negara Islam,'' tandasnya
usai usai berbicara pada diskusi panel dalam rangka Hari Amal Bhakti
Departemen Agama RI ke 53 di Jakarta, Selasa.

Demokrasi, lanjutnya, akan tegak kalau ada dorongan pada masyarakat
untuk berpartipsipasi. Sebaliknya, bila yang muncul merupakan apatisme
akan berbahaya sekali. Secara khusus, Cak Nur mengemukakan, kendati
partai-partai Islam tersebut menyebut berazas Islam namun bila
diperhatikan setiap kali mendeklarasikan diri selalu disertai dengan
pernyataan partai mereka terbuka untuk non-muslim. ''Ini suatu kemajuan
yang luar biasa yang pada 1950-an tidak terbayangkan dan bisa dianggap
kafir,'' tegasnya. Karena itu, Cak Nur kembali menegaskan tidak perlunya
ide mendirikan negara Islam. Yang diperlukan, lanjutnya, adalah negara
yang kokoh dan penuh dengan persatuan serta kesatuan. Meskipun negara
itu sekular yang penting kokoh dan para pemimpinnya memiliki komitmen
kuat terhadap penegakan etika. ''Etika harus dijadikan salah satu
persyaratan dalam kepemimpinan bangsa,'' ujar dosen pasca sarjana IAIN
Jakarta ini (Republika Online edisi: 13 Januari 1999).

Nah setelah saya membaca cukilan artikel yang dimuat oleh Republika
Online edisi: 13 Januari 1999 yang dikirimkan oleh saudara Darwis Husain
diatas, lahirlah dari pikiran saya suatu sikap untuk menanggapi apa yang
dikatakan oleh Cak Nur tersebut.

Memang tidak mungkin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam apabila
pembentukannya melalui sistem demokrasi barat dengan lembaga
triaspolitika-nya dalam naungan udara sekuler lewat pemilihan umum
partai-partai politik sekuler yang berasas Pancasila bersama
partai-partai politik berasas Islam. Kalau mau membangun kembali Daulah
Islam, maka harus memakai sistem dan metode Rasulullah saw dengan dasar
aqidah Islam dan Undang Undang Madinahnya dalam bentuk penjabaran Tauhid
- Hijrah - Jihad.

Kenyataannya jelas, ucapan yang dilontarkan Cak Nur pada tanggal 13
Januari 1999 sebelum pemilihan umum dilaksanakan terbukti. Dimana hasil
pemilihan umum yang dilakukan pada tanggal 7 Juni 1999 yang lalu
menghasilkan partai-partai politik sekuler yang menang yang dipelopori
oleh PDI Perjuangan-nya Megawati Soekarnoputri dan GOLKAR-nya Akbar
Tanjung.

Nah sekarang, yang menjadi inti dari tulisan ini adalah membangun
kembali Daulah Islam Rasulullah dengan Undang Undang Madinahnya harus
mencontoh sistem dan metode Rasulullah. Bukan mencontoh sistem demokrasi
barat dengan triaspolitikanya yang sekuler seperti yang diidamkan oleh
Cak Nur dengan penegasannya: "tidak perlu ide mendirikan negara Islam.
Yang diperlukan adalah negara yang kokoh dan penuh dengan persatuan
serta kesatuan. Meskipun negara itu sekular yang penting kokoh dan para
pemimpinnya memiliki komitmen kuat terhadap penegakan etika. ''Etika
harus dijadikan salah satu persyaratan dalam kepemimpinan bangsa'' (Cak
Nur, Republika Online edisi: 13 Januari 1999).

Jadi wajar kalau yang dijadikan contoh oleh Cak Nur seperti "Turki
penduduk muslimnya 90 persen, Syria dan Mesir 80 persen muslim, tapi
semuanya tidak menjadi negara Islam". Karena memang dinegara-negara yang
disebutkan oleh Cak Nur diatas adalah negara-negara yang menganut sistem
demokrasi barat dengan triaspolitikanya yang sekuler.

Sekarang yang saya masyarakatkan mengenai Daulah Islam, Pemerintahan
Islam, hukum-hukum Islam dan Undang Undang Madinah adalah mencontoh dari
apa yang telah dilakukan Rasulullah saw ketika Rasulullah membangun umat
dengan aqidah Islam didalam satu Daulah Islam dengan Undang Undang
Madinahnya.

Dalam tulisan ini saya tidak akan menguraikan kembali metode pembangunan
Daulah Islam Rasulullah dan Undang Undang Madinah-nya, karena telah
dikupas dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Karena itu, bagi yang berminat
untuk melihat dan membacanya silahkan lihat dalam adres-adres dibawah
ini.

[990409] Langkah-langkah awal untuk membangun kembali Daulah Islam
Rasulullah di abad millennium yang modern.
http://www.dataphone.se/~ahmad/990409.htm

[990415] Cara untuk membangun kembali Daulah Islam Rasulullah di abad
millennium yang modern bukan dengan cara revolusi atau cara evolusi
melainkan dengan cara Rasulullah.
http://www.dataphone.se/~ahmad/990415.htm

[990430] Cukup metode Rasulullah jangan ditambah lagi dengan sistem
demokrasi barat dalam usaha membangun kembali Daulah Islam Rasulullah
dengan Undang Undang Madinah-nya.
http://www.dataphone.se/~ahmad/990430.htm

[990507] Apakah dalam Undang Undang Madinah Rasulullah menyebutkan
secara tegas mengenai pembentukan negara, atau hanya contoh peradaban
Islam secara luas tanpa terkotak dalam bentuk negara?
http://www.dataphone.se/~ahmad/990507.htm

[990511] Apakah pembentukan kembali Daulah Islam Rasulullah dengan
Undang Undang Madinah-nya diabad millennium ini tidak membawa suatu
manfaat yang strategis?
http://www.dataphone.se/~ahmad/990511.htm

[990513] Mulai dari jajirah mana Daulah Islam Rasulullah dengan Undang
Undang Madinah-nya dibentuk dan siapa yang akan menjadi pemimpinnya?
http://www.dataphone.se/~ahmad/990513.htm

[990515] Akankah kita tetap menggunakan pendekatan politik semata
didalam pengembalian Daulah Islam Rasulullah dengan Undang Undang
Madinah-nya?
http://www.dataphone.se/~ahmad/990515.htm

[990617] Tegaknya Daulah Islam Rasulullah bukan berlandaskan kepada
dasar pancasila dan UUD 1945 yang sekuler
http://www.dataphone.se/~ahmad/990617.htm

[990625] Menyatukan kaum muslimin sebagian dari metode da'wah Rasulullah
saw
http://www.dataphone.se/~ahmad/990625.htm

[990702] Idris Syafiee: Negara Islam bukan Theokrasi
http://www.dataphone.se/~ahmad/990702.htm

Nah, itulah sebagian tulisan-tulisan yang berisikan hasil diskusi
mengenai Daulah Islam Rasulullah dan Undang Undang Madinah.

Tentu saja ada yang setuju dan tidak setuju (misalnya Cak Nur) dari
hasil diskusi tersebut. Tetapi, adanya perbedaan pandangan dari kaum
muslimin janganlah dijadikan dasar untuk berpecah belah.

Inilah jawaban saya untuk saudara Darwis Husain.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]


------------------------------------------------------------------------
<center>
<IFRAME 
SRC="http://ad.doubleclick.net/adi/N567.egroups.com/B14535;sz=468x60;ord=935186880?"
  WIDTH=470 HEIGHT=62 MARGINWIDTH=0 MARGINHEIGHT=0 HSPACE=0 VSPACE=0 FRAMEBORDER=0 
SCROLLING=no
  BORDERCOLOR='#000000'>
<SCRIPT language='JavaScript1.1' 
SRC="http://ad.doubleclick.net/adj/N567.egroups.com/B14535;abr=!ie;sz=468x60;ord=935186880?"></SCRIPT>
<NOSCRIPT>
<A 
HREF="http://ad.doubleclick.net/jump/N567.egroups.com/B14535;abr=!ie4;abr=!ie5;sz=468x60;ord=935186880?">
  <IMG 
SRC="http://ad.doubleclick.net/ad/N567.egroups.com/B14535;abr=!ie4;abr=!ie5;sz=468x60;ord=935186880?"
  BORDER=0 WIDTH=468 HEIGHT=60 ALT="It's a Free World">It's a Free World</A>
</NOSCRIPT>
</IFRAME>
</center>



eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/forum-islam
http://www.egroups.com - Simplifying group communications

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Aug 1999 jam 00:08:20 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke