---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk ISTIQLAL (25/8/99) # HUKUM DAN KEADILAN TIDAK AKAN TEGAK MELALUI JALAN EVOLUSI HABIBIE Oleh Sulangkang Suwalu Presiden BJ Habibie dalam sidang paripurna DPR (16/8) antara lain mengatakan bahwa masyarakat sudah tidak sabar menunggu tegaknya hukum dan keadilan. Masyarakat menuntut agar bangsa ini bisa segera keluar dari krisis dan semua persoalan bangsa dapat segera diselesaikan. Dikatakan pada dasarnya ada dua pilihan untuk perubahan tersebut. Yaitu melalui suatu revolusi atau evolusi. Menurut Habibie, revolusi adalah perubahan yang dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dan bersifat memutuskan kaitan atau kesinambungan dengan masa lalu. Oleh karena itu perubahan revolusioner tidak mudah diketahui perkembangannya dan sukar dikelola atau dikendalikan. Bercermin pada pengalaman bangsa kita di dalam menghadapi perubahan melalui revolusi tersebut dan besarnya korban yang ditimbulkannya, maka saya dengan keteguhan hati memilih cara evolusi, atau tepatnya evolusi yang dipercepat. Oleh karena itu langkah yang akan ditempuh dalam mengatasi berbagai masalah bangsa adalah secara bertahap dan dalam waktu yang singkat. Pada tahap awal akan dicoba memahami dan mengenali permasalahannya yang dihadapi. Setelah itu akan dilakukan upaya-upaya mengendalikan kerusakan agar tidak meluas. Langkah selanjutnya adalah pengenduran agar ketegangan yang terjadi dapat berkurang dan persoalan yang terjadi tidak berkembang ke arah yang lebih buruk. Pada tahap pengenduran inilah pemerintah bersikap toleran dan membuka kesempatan yang cukup luas untuk mengakomodasi pendapat dan aspirasi yang berkembang. Namun toleransi itu ada batasnya. Pendekatan seperti itulah kata Habibie, yang telah dan akan tetap digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan berat yang dihadapai= bangsa. Apakah yang terkandung dalam pidato tersebut? Apakah ia bertujuan hendak menggantikan sistem Orde Baru Suharto, atau ia hendak mempertahankan, dengan bersembunyi dibalik kata-kata memilih evolusi yang dipercepat? Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya di sini sebuah pada majalah Hidayatullah, edisi 01/XII/Mei 1999 berjudul: "KORBAN SAMA, REVOLUSI LEBIH EFEKTIF DAN TERKENDALI" Menurut tulisan itu, ada perbedaan pokok antara reformasi dan revolusi. Pada gerakan reformasi, rakyat banyaklah yang menentukan arah perubahan. Karena banyaknya yang ikut andil, maka sulit mencapai target akhir. Bisa-bisa di tengah jalan terjadi perubahan arah, bahkan tidak mustahil akan berbalik 180 derajat. Para inisiator perubahan tidak lagi bisa mengendalikan arah perubahannya, apalagi jika mereka sendiri berselisih dalam memahami dan menginterpertasikan arah reformasi. Menurut tulisan itu, jika diamati secara teliti, gerakan reformasi saat ini boleh dikatakan telah terhenti, mandeg. Yang diramaikan saat ini bukan reformasi, tetapi rebutan kursi. Ribut-ribut saat ini telah jauh keluar dari agenda reformasi. Padahal, korban terus berjatuhan. Darah segar terus mengalir tak peduli dari laki atau perempuan, tua atau muda. Jerit tangis bayi bersahut-sahutan, baik karena kelaparan maupun ditinggal orangtuanya selama-lamanya. Kamp pengungsi yang jauh dari kelayakan berdiri dimana-mana, dengan jumlah pengungsi puluhan ribu orang. Jumlah besar korban yang begitu besar sungguh tak sebanding dengan hasil yang dicapai saat ini. Kita tidak menyesalkan terjadinya reformasi. Bahkan kita sendiri telah ikut andil dalam proses perubahan ini. Kita menyesal justru kenapa tidak sejak awal kita melakukan revolusi. Jika jumlah korban yang jatuh sama besarnya, revolusi jauh lebih efektif. Arah perubahannya selalu dapat diarahkan sesuai tujuan awal. Rakyat kebanyakan "manipulited", artinya dikondisikan untuk "manut" saja. Dengan cara itu perubahan dapat segera tercapai dalam tempo yang tidak terlalu lama seperti sekarang ini. Revolusi jangan selalu dikonotasikan negatif, jahat dan kejam. Revolusi tidak selalu identik dengan pertumpahan darah, pembunuhan, kekerasan dan berbagai bentuk penindasan. Sebuah revolusi, berdarah-darah atau tidak, sangat tergantung pada manajemennya. Jika manajemen revolusinya baik, poertumpahan darah itu semaksimal mungkin bisa dicegah. Tidak ada ahli sejarah yang bisa menyangkal bahwa Islam dikembangkan oleh Rasullulah dengan cara revolusioner. Beliau tidak mengadakan perubahan secara tambal sulam. Meskipun cara yang ditempuh bertahap, tapi setiap tahapannya jelas menuju arah perubahan yang pasti dan mendasar. Tidak sekedar perubahan kulitnya, tapi jantung dan hatinya. Subtansinya yang diubah, bukan permukaannya. Hasil reformasi saat ini tidak lebih dari sekedar menumbangkan Suharto, sementara sistem politik, ekonomi dan budayanya tidak berubah sama sekali. Apalah artinya menumbangkan Suharto, jika sistemnya masih tegak berdiri, bahkan dilanggengkan oleh bekas musuhnya. Yang harus ditumbangkan adalah bangunan sistem Suharto yang berdiri tegak selama 32 tahun itu. Tunggu saja lima tahun lagi, ia pasti tidak mampu bercokol memimpin negara ini. Ia akan dimakan oleh usia. Demikian tulisan= itu. MEMBENTUK PEMERINTAHAN REVOLUSIONER Jauh sebelum tulisan Hidayatullah itu, Prof. Sarbini Sumawinata pada bulan September 1988 telah menerbitkan buku berjudul "Revolusi 1988". Risalah ini diterbitkan oleh Yayasan Kerakyatan, Jakarta. Pada bagian akhir dari risalah ini, Prof Sarbini mengatakan bahwa pada bulan Mei 1988, pemimpin-pemimpin rakyat telah membuat kesalahan besar pada rakyat, oleh karena kita biarkan kekuasaan pemerintah tetap berada pada rezim Orde Baru, sesudah jatuhnya Suharto sebagai presiden. Seharusnya pada waktu itu, kekuasaan langsung beralih (diambil alih) oleh pejuang-pejuang sejati atas nama rakyat. Sebaliknya, semua terpukau dan terbelenggu dalam konsentrasi penggulingan Suharto, sehingga kita lengah dan terperangah oleh kejadian-kejadian yang mendadak dahsyat. Terlupakanlah tujuan pokok dan esensiil perjuangan yaitu mengikis habis Orde Baru dan menguburnya untuk selama-lamanya. Dengan cerdik sekali Orde Baru mengadakan transisi semu, dengan mengadakan perubahan pada sikap dan gaya tanpa mengubah sistem dan rejim Orde Baru. Dengan politik reformasi-reformasi tertipulah kita semua dengan menerimanya reformasi-reformasi tersebut sebagai perubahan yang dituntut oleh pemimpin-pemimpin rakyat. Yang terjadi sebenarnya adalah perubahan-perubahan di permukaan tanpa mengubah sistem, tanpa mengubah rejim. Yang berubah hanya gaya dan penampilan, tetapi sistem, karakter dan jiwa kekuasaan masih tetap kekuasaan Orde Baru yang diciptakan Suharto, lengkap dengan UUD 45 yang dimanipulasi dan disakralkan, dwi fungsi yang menggunakan kekuatan senjata untuk memaksakan kehendak yang berkuasa dan Golkar sebagai wakil rakyat tipuan yang digunakan sebagai citra palsu dari demokrasi semu. Semua masih ada sekarang ini sebagai kelengkapan Orde Baru dari pemerintah sekarang. Sekarang mereka menyatakan bahwa merekalah yang berada dalam sistem dan karenanya merekalah yang berada pada pihak yang benar dan sah, sedangkan rakyat yang tidak setuju dengan pemerintah berada di luar sistem dan karenanya berada di pihak yang salah dan tidak sah. Ini adalah pemutar balikan (180 derajat) antara keadaan dan kenyataan politik. Dengan kata lain, Prof Sarbini juga berpendapat bahwa sejak awal seharusnya yang dilakukan adalah revolusi, bukan reformasi. Karena reformasi adalah perubahan dalam kerangka sistem yang lama, yaitu sistem yang tidak memungkinkan berkembangnya penyelenggaraan negara yang memenuhi tuntutan rakyat yang terpendam. BUKAN DENGAN EVOLUSI, TAPI DENGAN REVOLUSI Bertolak dari tulisan yang terdapat dalam kolom Hidayatullah, serta tulisan Prof Sarbini, jelas kiranya bahwa hanya dengan revolusi dan bukan evolusi, perubahan-perubahan yang mendasar bisa terjadi, sistem Orde Baru rejim Suharto bisa ditinggalkan. Jalan reformasi atau evolusi yang ditempuh selama ini adalah jalan dalam kerangka Orde Baru belaka. Bila dalam bulan Mei 1988 tidak terjadi revolusi, seperti dikatakan Prof Sarbini, yang terjadi hanya reformasi, karena syarat-syarat objektif untuk revolusi belum tersedia. Sebab, pihak yang berkuasa masih mampu meneruskan kekuasaannya lama dengan sedikit variasi (orangnya diganti) tapi sistemnya tetap dan sebaliknya pihak yang dikuasai, belum siap mengambil alih kekuasaan dari pihak yang berkuasa itu. Pendapat kolom di Hidayatullah dan Prof Sarbini di atas menghendaki jalan revolusi, tentu saja bertentangan benar dengan jalan evolusi, meskipun dipercepat, seperti yang dikehendaki Habibie. Dalih habibie menolak jalan revolusi untuk menghindari korban yang banyak, seakan-akan rasa kemanusiaan Habibie begitu tinggi dan luhur dan yang menghendaki jalan revolusi tidak berperikemanusiaan. Padahal sesungguhnya, Habibie hendak mempertahankan tetap berlakunya sistem Orde Baru rejim Suharto. Hanya Habibie tak berani menyatakan secara terus terang dan terbuka. Menyatakan secara terus terang dan terbuka akan membuka belangnya sendiri, yang atas nama reformasi menggagalkan tujuan gerakan reformasi itu sendiri. Untuk itu ia bersembunyi di belakang kata-kata evolusi dipercepat. Kenyataan menunjukkan jalan evolusi yang dipercepat ala Habibie, tidak sedikit lagi memakan korban jiwa dan harta, selama 1,5 tahun ia berkuasa. Lihatlah apa yang terjadi di Aceh, Kalimantan Barat dan Ambon. Malah di ibukota saja aparat keamanan dengan sangat mencolok menembaki, memukuli dan menginjak-injak para demonstran. Dan tampaknya jalan itu akan diteruskan Habibie di masa mendatang, dengan dalih "toleransi juga ada= batas". KESIMPULAN Jelas kiranya bahwa dengan bersembunyi dibalik kata-kata "evolusi yang dipercepat", guna menghindari korban yang banyak, Habibie hendak mempertahankan tatap berlakunya sistem rejim Orde Baru Suharto. Hal itu tercermin dari kata-kata "revolusi=85 memutuskan kaitan atau kesinambungan dengan masa lalu". Habibie tidak mau memutuskan kesinambungannya dengan Orde Baru. Karena dirinya memang bagian dari Orde Baru. Karena itu tepatlah julukan yang diberikan pada kabinet Habibie, sebagai "kabinet Orde Baru Jilid II". Karena itu kelirulah bila mengharap hukum dan keadilan akan tegak melalui jalan evolusi dipercepat ala Habibie. Malah hukum dan keadilan akan semakin tiarap. Hanya dengan revolusi hukum dan keadilan akan tegak. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Aug 1999 jam 13:38:37 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
