---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk MAHASISWA ANCAM GUNAKAN KEKERASAN JAKARTA, (SiaR, 18/9/99). Tujuh wadah gerakan mahasiswa mengecam tindak kekerasan aparat dalam menghadapi demo penolakan RUU Keadaan Darurat. Mahasiswa juga menyerukan agar Presiden Habibie mundur dan mencabut mandat TNI sebagai tentara nasional. Jika TNI tetap represif, para mahasiswa itu akan menyiapkan aksi kekerasan balasan. Demikian ditegaskan tujuh wadah gerakan mahasiswa dalam jumpa pers di Universitas Jakarta, Kamis (16/9) di Jakarta. Tujuh kelompok itu adalah: Forum Kota (Forkot), Front Aksi Mahasiswa Untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred), Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ), Komite mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi (Komrad), Keluarga Besar mahasiswa Univ Indonesia (KBUI), Forum Reformasi Ekonomi Mahasiswa (FREM), Kesatuan Aksi mahasiswa Trisakti (Kamtri). Untuk menyatakan keseriusannya mahasiswa menyerukan seluruh rakyat untuk melakukan aksi bersama mahasiswa seluruh Jabotabek pada tanggal 17 September 1999 dengan tuntutan: Presiden Habibie segera turun karena ia adalah pengkhianat bangsa; Menolak RUU Keadaan Darurat yang akan mematikan demokrasi dan awal kudeta TNI dan membebaskan secepatnya seluruh elemen pro demokrasi yang ditahan TNI dan Polisi. "Para elit politik terjebak hanya mengurusi skandal Bank Bali dan tidak mau peduli aspirasi rakyat. Saat rakyat aksi menolak RUU darurat militer dan diinjak aparat seperti di Pejompongan, para wakil rakyat tidak mau peduli," ujar Arry Birong, juru bicara mahasiswa. Dalam pernyataan bertajuk "Menatap Masa Depan", para mahasiswa melihat jiwa dan tuntutan reformasi tak mampu ditangkap rezim Habibie dan militer. Bahkan mereka memanipulasi dan menjadikan kekuasaan sebagai persekongkolan untuk mencuri harta negara. Menurut Elly Salomo dari Forkot, peristiwa pemukulan demonstran di Pejompongan yang menolak RUU Keadaan Darurat oleh aparat PHH dan polisi, Rabu lalu serta penembakan korlap aksi Tim Relawan di depan Kantor PBB, Jakarta, di hari yang sama, menunjukkan belum ada niat TNI mengganti paradigma dasar yang mengandalkan kekerasan. "Alat negara yang harus menciptakan rasa aman namun justru menggunakan seluruh fasilitasnya untuk menghadapi rakyat. Oleh karena itu mahasiswa mengancam akan mencabut mandat TNI dengan sikap akan memulai aksi aksi kekerasan untuk melawan represi militer," ujarnya. SiaR memperoleh info bahwa Lettu Polisi Makmur Simbolon memerintahkan sejumlah anak buahnya menembak Azas Tigor Nainggolan di depan Gedung Kantor PBB, Rabu (15/9), angota Tim Relawan Untuk Kemanusiaan. Seorang saksi mata mendengar perintahnya, "Tembak, tembak! Saya yang bertanggung-jawab!" serunya pada anak buahnya. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Sep 1999 jam 10:08:23 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
