---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk PIMPINAN GOLKAR KEBERATAN WIRANTO CAPWARES JAKARTA, (SiaR, 22/9/99). Intervensi Presiden Habibie kepada Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung untuk segera memroses pencalonan Wiranto sebagai satu-satunya calon wapres partai itu, telah dibahas dalam rapat DPP Golkar. Sejumlah pimpinan Golkar marah dan tetap tidak akan membahasnya sebelum Rapim Golkar 17 Oktober mendatang. Seperti dilansir sejumlah media massa, bahwa Ketua Umum DPP Golkar Akbar Tandjung diundang Presiden Habibie, juga bersama Menhankam/Panglima TNI Jenderal Wiranto, dan Mensesneg/Menkeh Muladi. Pada pertemuan itu, dibicarakan soal pencalonan Wiranto sebagai wapres. Untuk menekan Akbar, Habibie sempat mengancam bahwa jika duet Habibie-Wiranto gagal, maka akan berakibat pecahnya Partai Golkar dan munculnya disintegrasi Indonesia Timur. Sejumlah fungsionaris Golkar menilai, Habibie sebagai calon yang diusulkan DPP Partai Golkar, seharusnya bersikap proaktif terhadap Golkar, yaitu mendekati Golkar dengan pendekatan organisatoris. "Bukan malah mendikte atau mengancam Golkar dengan cara memanggil Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung ke kediamannya. Seharusnya Habibie dong yang datang ke DPP Golkar. Kalau begitu caranya, apa bedanya dengan pola lama. Padahal paradigma baru Golkar ingin membentuk sebuah partai yang benar-benar mandiri," katanya. Menurut sejumlah fungsionaris Golkar, menampilkan Wiranto menjadi calon Wapres justru akan memperburuk Golkar saja. "Di masyarakat sekarang sedang berkembang opini anti militer, masak kita terang-terangan menentang opini massa," kata mereka. Selain itu mereka juga menilai, di dunia internasional sekarang sedang berkembang inisiatif untuk mengadili para penjahat perang di Timtim. Sehingga jika Wiranto menjadi opresiden atau Wapres, bisa-bisa Indonesia akan dikucilkan dari pergaulan dunia. "Apa nggak malu, kalau pimpinan negara ditangkap interpol lantaran dianggap sebagai penjahat perang," kata sumber SiaR. Yang penting lagi sebagai pertimbangan, kata sumber ini, Habibie telah banyak melakukan kegagalan, yaitu dari gagal dalam memberantas KKN dan mengadili Soeharto, gagal dalam masalah Timtim dan terlibat dalam skandal Bank Bali. Suara keras menentang Habibie sebenarnya sudah mulai mengkristal di tubuh Golkar. Di kalangan FKP DPR yang sekarang, faksi-faksi penentangnya sudah mulai terang-terangan. Dalam kasus Bank Bali, misalnya, sejumlah anggota FKP justru yang paling ngotot membongkar jaringan kolusi birokrasi Habibie yang terlibat dalam skandal tersebut. Begitu juga dalam sidang pleno mendengarkan penjelasan presiden di DPR Selasa (21/9), sejumlah anggota FKP sudah berdiri dan mengangkat jari interupsi. Hanya saja, walaupun sempat membuat gugup Abdul Gafur sebagi pimpinan sidang, interupsi tersebut tidak digubris. Abdul Gafur cepat-cepat menutup acara. Perkembangan terakhir komposisi para pendukung Habibie di DPR hasil Pemilu 1999 semakin mengecil. Walupun telah mengancam akan merecall sejumlah anggota dewan, ternyata tidak membuat anggota dewan surut langkah. Bahkan sedikitnya 80 calon anggota legislatif asal Partai Golkar berniat menyeberang ke kubu lawan Partai demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. "Saya akan merangkul 80 calon dari partai Golkar untuk mendukung partai pemenang Pemilu 1999 memimpin bangsa ini," kata Ade Komaruddin Muhammad, anggota Fraksi Karya Pembangunan, Selasa (21/09). Ade adalah salah satu anggota FKP yang akan menginterupsi pidato Habibie tersebut. Sebagai langkah awal, menurut anggota yang berasal dari wilayah pemilihan Jawa Barat, akan memperjuangkan agar Habibie dicopot sebagai calon presiden dari partai berlambang pohon beringin itu. "Saya menyangsikan Habibie untuk menjadi calon presiden mendatang. Kami akan menolak pertanggungjawabannya di Sidang Umum MPR nanti," kata Ade. Tentunya, terutama masalah Timor Timur, daerah jajahan Indonesia yang dilepas Habibie begitu saja dengan referendum. Sementara itu, beberapa pemuka agama Islam mengkawatirkan kampanye yang dilakukan kubu Habibie yang mengatasnamakan Islam. Menurut Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Prof Dr Azyumardi Azra mengatakan, kalaupun BJ Habibie menang dalam Sidang Umum MPR nanti, maka kemenangan itu tidak identik dengan kemenangan Islam. Menurut Azyumardi, Islam terlalu besar untuk hanya direpresentasikan oleh seorang BJ Habibie. Bahkan kemenangan Habibie bisa berarti ada masalah yang belum terselesaikan. "Ada orang bilang, jangan memaksa diri untuk menegakkan benang basah. Jangan sampai ada anggapan Habibie merupakan representasi Islam. Apalagi sekarang Habibie dalam keadaan sulit," ujarnya. Menurut Azyumardi, posisi Habibie cukup sulit mengingat kasus Bank Bali dan Timor Timur. "Dalam kasus Timtim, mungkin nama BJ Habibie di luar negeri makin populer karena concern pada hak asasi manusia, tetapi di dalam negeri 'kan makin tidak populer. Apalagi, ditambah kasus Bank Bali yang belum tuntas," ujarnya. Dalam batas-batas tertentu, kata Azyumardi, Habibie memang bisa dikatakan mewakili Islam, misalnya posisi Habibie sebagai Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan concern-nya terhadap Islam. "Tetapi, dia 'kan bukan satu-satunya representasi Islam. Umat Islam jangan hanya melihat Habibie sebagai representasi mereka. Kalau dianggap satu-satunya, berarti kita menafikan Pak Amien Rais dan Gus Dur," ujarnya. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Sep 1999 jam 19:55:24 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
