----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 21 September 1999

Madu dan Racun Tentara PBB di Timtim

SEBAGAI bangsa yang aktif dalam pergaulan dunia, Indonesia harus
dapat memperhatikan saran dan masukan yang diutarakan oleh negara-
negara lain. Khususnya yang sama-sama tergabung dalam PBB dan
mencermati krisis yang terjadi di Timor Timur. Sikap pemerintah
dan TNI untuk membuka diri terhadap keterlibatan tentara
multinasional dalam kegiatan pengamanan wilayah Timtim paska jajak
pendapat patut kita dukung.

Karena hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia mampu
kooperatif dengan negara-negara lain dalam menyikapi permasalahan
Timtim. Sikap ngotot dan kurang bersahabat yang ditunjukkan oleh
pemerintah Australia pada akhirnya hanya akan merugikan pihak
Australia.

Kehadiran pasukan PBB diharapkan akan mampu mengatasi kekerasaan
yang disebabkan pertikaian antara masyarakat pro kemerdekaan dan
pro integrasi di Timtim. Sebab pertikaian itu, telah mengakibatkan
kerusakan dan pengungsian penduduk Timtim ke beberapa daerah dan
negara tetangga.

Namun perlu diingat bahwa tidak semua negara yang terlibat dalam
payung PBB khususnya menyangkut Timtim mampu bersikap netral.
Karena seperti diketahui bahwa Australia memiliki kepentingan
tertentu terhadap daerah itu. Kita tidak berharap Timtim mengalami
tragedi seperti di Kosovo dan Bosnia di mana keterlibatan tentara
asing justru menyengsarakan penduduknya.

Sepak terjang Australia sepertinya sudah mulai terlihat. Belum
selesai penempatan pasukan PBB di Timtim, negara itu sudah
mengeluarkan statemen akan melakukan penyelidikan terhadap
pelanggaran HAM di sana yang dilakukan oleh pemerintahh Indonesia.
Bahkan menyelidiki kemungkinan adanya pembunuhan massal. Apakah
Australia merasa dirinya steril dari pelanggaran HAM, sehingga ia
bisa seenaknya saja mendikte negara lain terhadap pelanggaran HAM.
Kalau boleh kita menuduh, bagaimana perlakuan pemerintah Australia
terhadap penduduk aslinya yaitu kaum Aborigin di sana? Kami
menghimbau pemerintah Australia tidak usah membangkitkan emosi
masyarakat Indonesia. Karena dalam situasi krisis seperti ini,
jika muncul dari luar hinaan yang menganggu rasa nasionalisme
bangsa, tidak tertutup kemungkinan bangsa Indonesia bersatu dan
melakukan balasan yang setimpal dengan apa yang telah diperbuat
negara asing terhadap Indonesia.

Pemerintah Indonesia sudah cukup bersabar dan mengalah dalam
masalah Timtim. Tetapi jangan sampai kesabaran ini terus membuat
Australia merasa berhak mendikte. Bukti lain bahwa Australia
memiliki maksud tertentu, terlihat dari belum adanya kesepakatan
di antara masing-masing komandan tentara negara yang ikut terlibat
dalam misi PBB di Timti-tim (Interfet) di bawah kepimpinan Mayjen
Peter Cosgrove dari Australia.

Drs. Toni Poniman
Depok

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Sep 1999 jam 07:35:47 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke