----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 16 September 1999

Basilio Araujo: Jika Australia Memihak, Kami tidak akan Diam

JAKARTA - Keputusan Dewan Keamanan PBB menunjuk Australia
memimpin Pasukan Perdamaian di Timor Timur ditanggapi beragam di
dalam negeri. Kelompok prootonomi dapat menerima Australia jika
mereka bersikap netral. Sedangkan Partai Golkar menyatakan
penunjukkan Australia itu mengecewakan.

Juru bicara 'United Front For East Timor Autonomy (UNIF)',
Basilio Araujo, menyatakan bisa menerima kedatangan pasukan PBB
meskipun nanti dikomandoi oleh Australia. Meski begitu, sebelum
pasukan itu datang pihaknya menyerukan agar mereka bersikap
netral.

"Silakan saja datang. Kami setuju saja. Harapan kami sederhana,
pasukan PBB itu janganlah memihak," kata Basilio Araujo, ketika
dihubungi Republika, tadi malam.

Menurut Basilio, penegasan sikap melalui tindakan yang nyata di
lapangan dari pasukan PBB untuk tidak memihak, saat ini memang
sangatlah penting. Sebab, katanya, bila nanti mereka malah
melakukan tindakan sebaliknya, berarti mereka itu sudah bersiap
untuk membuat masalah baru.

"Jadi silakan saja. Kami hanya tunggu saja buktinya di lapangan.
Kalau nanti dia bertindak seperti UNAMET yang tidak bisa netral,
maka masalah baru pasti akan timbul. Dan, pastinya kami tidak
akan diam bila kedatangan mereka untuk menghabisi kami serta
mendukung mereka yang prokemerdekaan," katanya lagi.

Dari cerita Basilio, sikap ketidaknetralan pasukan PBB memang
bukan hal baru. Contoh itu pernah terjadi ketika berlangsung
konflik di Anggola. Pasukan PBB malah terusir dari daerah
konflik karena tidak bisa netral.

"Di negara Anggola terbukti pasukan PBB pernah bertindak
memihak. Akibatnya mereka dimusuhi. Pasukan mereka diserang.
Pesawat terbangnya ditembak. Dan, akhirnya pasukan PBB di
Anggola pulang dengan tangan hampa. Nah, saya harap yang seperti
ini tidak akan mereka ulangi," tegas Basilio Araujo.

Dari Jakarta, Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung menegaskan
sebaiknya pasukan perdamaian PBB tidak dipimpin oleh negara yang
tidak netral. "Kita ketahui, Australia itu tidak netral dan
punya agenda politik terhadap Timtim sehingga sangat
mengecewakan jika pasukan PBB di bawah komando Australia,"
katanya di Jakarta kemarin.

Menurutnya, semua pihak telah menyatakan sikap menentang
keterlibatan Australia. Karena itu, partai ini mendesak DK PBB
memperhatikan aspirasi sebagian masyarakat Indonesia menolak
Australia. "Kami yang semula menolak kehadiran Australia
terpaksa harus menerima, yang lebih kecewa lagi malahan
Australia yang memimpin pasukan," katanya.

Dalam pandangannya, Australia begitu ngotot untuk terlibat di
Timtim karena memiliki agenda politik, baik untuk kepentingan di
dalam negeri yang segera memasuki masa pemilu, maupun agenda
regional. "Timtim sedang menjadi isu yang dimainkan pimpinan
Australia untuk menarik pemilih," katanya.

Reaksi juga datang dari Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.
Ia mendesak PBB memperhatikan kedaulatan RI atas Timtim yang
masih akan berlanjut hingga SU MPR mendatang. "Kondisi itu harus
menjadi perhatian PBB, jangan sampai ada keputusan yang
merugikan Indonesia yang masih memiliki kedaulatan atas Timtim,"
katanya kemarin.

Reaksi terhadap Australia muncull dari Durabaya. Sikap Australia
yang berambisi untuk memasuki wilayah koloni Portugal dengan
dalih menjaga perdamaian, dinilai Pagar Nusa, Banser, dan
Generasi Muda NU sebagai pelecehan terhadap RI. Mereka siap mati
demi Indonesia jika Australia melakukan intervensi.

Menghadapi semangat para kader muda tersebut, ketua PWNU Jatim
KH Hasyim Muzadi menyambut gembira. "Sikap itu bisa dipahami
karena ini sudah menyangkut harkat bangsa," ujar KH Hasyim
Muzadi di Surabaya kemarin.

KH Hasyim Muzadi mengingatkan semangat heroisme sporadis itu
tetap dikoordinasikan secara nasional. "Jangan berjalan sendiri-
sendiri. Lebih penting lagi, kita juga harus mengukur tingkat
tekanan asing itu terhadap kita dan kita juga harus menghitung
kekuatan serta ketahanan kita untuk menghadapi tekanan tersebut.
Semua itu harus dipikirkan masak-masak, jangan terlalu grusa-
grusu (tergesa-gesa - Red) agar tidak salah langkah," ingatnya.

Pengamat politik LIPI Indria Samego menilai jika ingin dipandang
dunia sebagai masyarakat yang memahami demokrasi, Indonesia
harus menerima apa pun keputusan PBB tersebut.

"Kita kan anggota PBB, kalau kita ingin dipahami sebagai
masyarakat yang mengerti demokrasi, sebaiknya menerima keputusan
PBB," katanya kepada wartawan seusai menjadi pembicara pada
debat "Timor Timu Pasca Jajak Pendapat" yang diselenggarakan
Pusat Kajian Informasi dan Pembangunan (CIDES), di Jakarta
kemarin.

Mengenai adanya anggota DPR yang keberatan terhadap keterlibatan
Australia dalam pasukan itu, Indria mengatakan mereka harus
mencerminkan pikiran rakyat, bukan memaksakan kehendaknya
sendiri. "Jika tidak menerima, kita akan tetap dipandang sebagai
bangsa yang tidak bisa berdemokrasi," katanya.

Pendapat itu, lanjutnya, bukan masalah penting saat ini,
melainkan adalah bagaimana agar persoalan Timtim mengurangi
beban Jakarta dalam menghadapi masalah berikutnya. "DPR itu
dasarnya apa? Kalau soal memihak itu dari dulu, bukan hanya
Australia, semua negara Barat adalah negara yang mendukung
proses referendum, tapi karena Australia itu tetangga dekat maka
menjadi yang paling kelihatan," katanya, dan menjelaskan
hubungan Indonesia dan Australia, sejak dulu, sangat diwarnai
dengan satu permasalahan, yakni Timtim.

"Kalau kita menentang secara keras agar Australia jangan, itu
berarti kita menentang PBB, sehingga kalau PBB sudah memutuskan,
ya kita harus menerima," tutur Indria.

Ketika ditana tentang dugaan adanya kepentingan politik
Australia, terutama dalam masa kampanye pemilu di negara kanguru
itu, ia mengatakan bukan urusan Indonesia. "Itu kepentingan
politik mereka, lalu apa urusan kita, itu urusan domestik
politik, biarkan saja."

Sikap Indonesia menerima keputusan PBB serta mengizinkan
masuknya pasukan penjaga perdamaian ke Timtim, menurut peneliti
CIDES itu, menjadi konsesi pengakuan Indonesia, yakni bukan
sebagai bangsa yang menang sendiri.

Indria mengatakan Indonesia sebagai warga internasional akan
terus menjadi sorotan dunia dan dapat diajak duduk bersama
dengan negara lain. "Sedangkan dalam konstelasi sekarang
Indonesia tergantung kepada dunia, bukan hanya kita minta
bantuan luar negeri tapi juga pasar, kalau kita tidak melakukan
sikap-sikap yang kooperatif, saya khawatir kita akan diembargo,"
katanya, seraya mengatakan masalah Timtim telah menjadi arena
politik oleh siapa saja untuk memperjuangkan kepentingannya.

Juru Bicara Satgas Pelaksana Penentuan Pendapat di Timtim
(P3TT), Dino Patti Djalal, menyatakan jika RI meminta bantuan
pasukan perdamaian PBB, maka PBB-lah yang mempunyai keleluasaan
untuk menentukan struktur pasukan tersebut, seperti siapa yang
akan memimpin.

Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa pasukan PBB tersebut akan
dapat bekerja sama dengan aparat UNAMET dan aparat keamanan
Indonesia untuk menjaga keamanan di Timtim.

Dino juga berpendapat bahwa mereka akan menghadapi medan yang
sangat sulit, sama dengan yang dihadapi aparat keamanan RI.
"Karena itulah harus dijaga situasi di mana pasukan perdamaian
ini dapat menjalankan perannya dengan baik dan netral, dengan
cara-cara yang justru mencegah konflik lebih besar lagi,"
katanya.

Ia berharap pasukan itu nantinya mampu menempatkan diri di luar
konflik, bukan berada di dalamnya sehingga menjadi target piha
yang bertikai. "Melalui mereka, masyarakat internasional akan
dapat melihat sendiri betapa sulitnya situasi di lapangan,"
katanya.

"Saya tiga bulan di sana, ini adalah masyarakat di mana satu
batu atau satu pelor saja bisa membuat kerusuhan, satu kata yang
salah diucapkan bisa mengakibatkan pertumpahan darah,"
tambahnya. (mms/uba/ant)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Sep 1999 jam 07:36:24 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke