----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 20 September 1999

Pemerintah Australia Benar-Benar Bunuh Diri

Jakarta, Rakyat Indonesia
Pemerintah tidak perlu emosional untuk memutuskan hubungan dagang
dengan Australia, pasalnya  sikap tersebut justru memperkeruh
situasi perekonomian dalam negeri.

Demikian pendapat yang disampaikan anggota Kodel Group Soegeng
Sarjadi di Jakarta, kemarin. Menurut Soegeng, kerugian besar
memang akan terjadi di pihak Australia bila pemutusan hubungan
dagang jadi dilaksanakan. Namun dampak psikologisnya akan
mempengaruhi situasi ekonomi nasional.

Karenanya, dia mengatakan supaya kalangan pejabat jangan sampai
mengeluarkan statement (pernyataan) yang populis, seakan-akan
membela nasionalis. Padahal, sikap negeri Kangguru itu akibat
tidak berwibawanya pemerintah Habibie dalam kebijaksanaan luar
negerinya.

"Persoalan keruwetan ekonomi saat ini sudah banyak. Dan, bila
pemutusan itu terjadi maka kosentrasi pengusaha untuk memulihkan
usahanya akan terganggu. Mereka akan cenderung memikirkan
nasionalisme," ujarnya.

Dia menambahkan Australia akan terkena dampak yang lebih besar
dibandingkan dengan Indonesia, jika pemutusan hubungan dagang itu
terjadi.

"Persoalan Australia adalah persoalan kecil yang tidak perlu
diambil pusing oleh pemerintah Indonesia," cetusnya.

"Lebih baik kita membiarkan sikap Australia, kalau mereka sampai
mengancam menghentikan perdagangannya seperti boikot cargo, maka
Australia sama dengan bunuh diri," ujarnya.

Selama ini barang yang diimpor Australia ke Indonesia, seperti
kapas, keju dan daging, bisa digantikan dengan negara lain.
Sedangkan, pihak pengusaha Australia justru akan kelabakan karena
sebagian besar kebutuhan minyak mentahnya diperoleh dari
Indonesia.

Seperti diketahui, baru-baru ini, Dirjen Perdagangan Luar Negeri
Djoko Muljono menegaskan kepada sejumlah asosiasi perdagangan,
agar mereka bersiap-siap menjaga kemungkinan buruk akibat sikap
angkuhnya Australia.

Saat ini neraca perdangan Australia-Indonesia, tidak begitu
tinggi. Untuk 1997 saja ekspor Indonesia hanya 1,517 miliar dolar
AS, sedangkan impor sebesar 2,4 miliar dolar AS. Tahun berikutnya
ekspor Indonesia sebesar 1,533 dolar dan impor senilai 1,76 dolar.
Posisi perdanganan antar dua negeri selalu defisit bagi Indonesia.

Para pengusaha, lanjut eksponen '66 ini, harus mengambil hikmah
dari persengketaan antara pemerintah dengan Australia. Dia
mengatakan, "Mulai saat ini pengusaha maupun pemerintah harus
memperkuat jaringan perdagangan di luar Australia, seperti Asean,
Cina daratan, Eropa maupun Jepang seperti Aseen, Cina daratan,
Eropa maupun Jepang. Hal ini akan mengurangi ketergantungan dengan
Australia.

Disinggung adanya pengalihan isu kesalahan kebijaksanaan Timtim
oleh pemerintah, diganti isu pemutusan perdagangan , dia tidak
membantah hal tersebut.

"Pemerintah sengaja mengambil kebijaksanaan populer ini untuk
mengangkat citranya yang sudah terlanjur terpuruk," tegasnya.

Setuju
Sementara itu anggota DPR dari Komisi V A Walid menyetujui langkah
pemerintah untuk memutuskan hubungan dagang dengan Australia.
"Pemutusan dagang itu justru akan meningkatkan posisi tawar
perdagangan kita dengan mereka," ujarnya.

Selama ini, lanjut anggota FPP itu, Indonesia selalu dianggap
remeh, baik secara ekonomis maupun politis oleh negara pimpinan
John Howard tersebut.

Dia mengharapkan pemutusan hubungan dagang itu nantinya akan
mengubah tabiat mendikte negara lain, seperti yang sering
dilakukan oleh Australia.

Dia tidak menolak anggapan, bila langkah itu akan memberikan
sedikit shock bagi pengusaha maupun perekonomian. Misalnya,
munculnya pembatalan investasi oleh investor yang bahan bakunya
masih diimpor dari negara itu.

"Hal itu hanya berdampak jangka pendek saja, sedangkan jangka
panjangnya justru tawaran luar negeri akan datang, seperti tawaran
daging dari Cina," (MAS)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Sep 1999 jam 11:33:17 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke