----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, Senin, 20 September 1999

Pasukan PBB akan Alami Kesulitan di Timtim.
Ucapan Peter Cosgrove hanya Gertakan

ATAMBUA (Media): Wakil Panglima Pasukan Pejuang Integrasi (PPI)
Eurico Guiteres menegaskan kembali bahwa pasukan multinasional
PBB yang dipimpin Australia akan mengalami kesulitan di Timor
Timur jika tidak bersedia menghargai hak masyarakat
prointegrasi.

"Pimpinan pasukan PBB dari Australia itu sangat keliru jika
mengatakan akan mengusir anggota PPI begitu mendarat di Timtim.
Itu sangat keliru karena saya ini warga Timtim. Dia tidak
mungkin memaksa saya untuk angkat kaki dari Timtim," katanya di
Atambua, Sabtu.

Hal itu dikemukakan menanggapi ancaman Mayjen Peter Cosgrove,
perwira tinggi Australia yang disebut-sebut bakal akan memimpin
pasukan multinasional PBB (Interfet) ke Timtim yang memberi
ultimatum kepada kelompok prointegrasi dengan dua pilihan yakni,
"menyerahkan senjata" atau "meninggalkan Timtim".

Ucapan Peter Cosgrove itu, banyak dinilai sebagai gertakan dan
ancaman tanpa basa-basi yang khusus ditujukan kepada kelompok
bersenjata prointegrasi.

"Justru sebenarnya, orang Timtim yang mengusir mereka karena
Bumi Loro Sae itu bukan tanah kelahiran orang Australia," kata
Guiteres.

Bahkan, menurut dia, personel misi PBB di Timtim (Unamet) telah
membuat susah orang Timtim karena melakukan kecurangan pada
proses jajak pendapat otonomi luas sehingga jatuh korban dan
penderitaan bagi masyarakat setempat.

Guiteres mengaku tidak tahu pertimbangan Sekjen PBB Kofi Annan
sehingga memutuskan Australia sebagai pimpinan pasukan PBB ke
Timtim. "Dari sudut mana sehingga Kofi Annan tetap memberikan
kepercayaan Australia untuk menghimpun pasukan PBB yang
ditugaskan ke Timtim," katanya.

Namun, ia mempersilakan pasukan PBB untuk datang ke Timtim
dengan syarat antara lain menghargai hak masyarakat yang
menghendaki tetap berintegrasi dengan Indonesia meskipun hanya
sekitar 21,5 persen berdasarkan hasil jajak pendapat otonomi
luas.

Ia juga menghargai pihak prokemerdekaan yang memperoleh 78,5
persen suara yang berarti menolak otonomi luas, meskipun masih
dipertanyakan kemurnian proses jajak pendapat yang dilakukan
Unamet itu.

Masalah keinginan untuk tetap berintegrasi dengan RI ataupun
menjadikan Timtim sebagai negara merdeka, katanya, adalah hak
orang Timtim yang harus dihargai.

"Saya tidak akan bikin masalah, saya hanya ingin menawarkan
kepada mereka untuk menyepakati batas-batas wilayah yang menjadi
hak saya dan hak mereka," katanya.

Membagi dua

Karena itu, menurut dia, pembagian Timtim menjadi dua adalah
cara untuk menciptakan perdamaian dan menghindari konflik yang
berkepanjangan di daerah itu.

"Dia tidak bisa paksa saya untuk hidup merdeka sendiri dan, saya
juga tidak mau paksa mereka bergabung dengan saya. Karena ini
menyangkut hak. Maka perlu dibicarakan dengan batas-batas
wilayah itu," katanya.

Pembicaraan menyangkut pembagian Timtim itu, katanya, harus
termasuk upaya pemindahan masyarakat setempat ke daerah
integrasi maupun merdeka sendiri.

Proses pemindahan masyarakat Timtim, katanya, membutuhkan
penjagaan perdamaian dari pasukan PBB. "Pasukan PBB harus
bersikap netral khususnya personel asal Australia," demikian
ungkap Guiteres. (Ant/P-2)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Sep 1999 jam 08:13:39 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke