---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk TNI LAKUKAN SWEEPING DI KUPANG KUPANG, (MateBEAN, 24/9/99). Komisaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR), Sadako Ogata mengatakan, satuan-satuan milisi di Kupang dan Atambua, NTT, masih merupakan ancaman bagi 200 ribu pengungsi yang kini terkatung-katung di Timor Barat. Menurut Ogata, dengan ancaman milisi itu, maka pihaknya sudah menyampaikan kepada TNI dan meminta pertanggungjawaban TNI untuk melindungi para pengungsi, serta juga melindungi regu petugas PBB yang berupaya untuk menolong mereka Sadako Ogata menegaskan, 200 ribu pengungsi Timor Timur yang tersebar di berbagai wilayah, harus mendapat akses bantuan, perlindungan dari segala bahaya apa pun dan tidak dibenarkan adanya senjata di dalam kamp pengungsi. "Saya memperjelas, di mana pun pengungsi berada mereka harus memperoleh akses bantuan dan perlindungan dari segala bahaya apa pun," tukas Ogata. Seperti diketahui, ribuan pengungsi Timtim yang mengalir ke luar Timtim, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), masih tidak terjamin keamanannya. Karena ratusan milisi yang melancarkan aksi-aksi kekerasan dan mendorong eksodus besar-besaran ini diperkirakan terus berada di tengah-tengah pengungsi, menyimpan senjata dan tetap melancarkan aksi-aksi perburuan, mencari pendukung prokemerdekaan. "Mandat saya bagi semua pengungsi. Kalau memang pemerintah sudah meminta kami untuk membantu, di mana pun mereka berada kami akan mengulurkan bantuan," tambah Ogata. Dia mengakui pihaknya tidak berwenang memerintahkan anggota milisi itu, untuk keluar dari kamp-kamp pengungsi tetapi dia berharap pemerintah memenuhi komitmen untuk memberi perlindungan bagi pengungsi. Karena ada beberapa prinsip yang harus dipenuhi, bahwa yang disebut kamp pengungsi haruslah terdiri dari masyarakat sipil, tidak dibenarkan ada senjata di dalam kamp tersebut. "Saya tidak berwenang memerintahkan milisi itu ke luar tetapi kami punya prinsip. Yakni kamp pengungsi haruslah kamp sipil, tidak boleh ada senjata dan hal ini harus dipenuhi," tambahnya. "Staf kami harus ada di sana untuk betul-betul bekerja dan melindungi pengungsi. Pemerintah sepenuhnya harus memahami bahwa tugas utama kami melindungi pengungsi dan staf kemanusiaan yang bekerja membantu pengungsi," katanya. Pengamatan MateBEAN di Kupang dan Atambua terlihat para milisi terus melakukan operasi di kamp-kamp pengungsi sehingga membuat para pengungsi ketakutan untuk keluar dari tenda-tendanya, serta kesulitan untuk mendapatkan makanan dan minuman, akibat ketatnya penjagaan dari milisi. Rabu (22/9) malam lalu, aparat keamanan melakukan sweeping di beberapa gereja untuk mencari orang-orang yang diidentifikasi sebagai kelompok pro kemerdekaan. Namun hasil sweeping itu sampai saat ini belum diketahui. Diduga bahwa ada penangkapan terhadap beberapa warga, tapi belum dipastikan jumlah pengungsi yang ditangkap tersebut. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Sep 1999 jam 12:51:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
