---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Republika, 24 September 1999 TAJUK: Catatan Harian Mayjen Cockroach Ketika Timtim kacau sebelum Interfet masuk, Sekjen PBB Kofi Annan mengirim pesan tegas. Melalui telepon ke Presiden Habibie, ia meminta TNI bisa memulihkan keamanan dalam 2x24 jam. Habibie menolak. Adalah mustahil menjamin situasi bisa segera pulih secepat seperti yang diminta Annan. Sebagai gantinya diberlakukan hukum Darurat Militer di wilayah bergolak itu. Jumat ini sudah enam hari Interfet berkuasa di Timtim. Kedatangan mereka bak pasukan yang akan melakukan perang besar. Terlihat di TV, begitu turun dari pesawat mereka langsung mengambil posisi siaga: Mengendap-endap, membidikkan senapan ke sana-kemari. Lalu mereka menyebar di hampir semua tempat strategis di Dili. Dua hari setelah mendarat, situasi Timtim tetap panas. ''Kami siaga 24 jam, ada tanda-tanda bakal terjadi penyerangan oleh milisi (prointegrasi),'' kata Panglima Interfet Mayjen Cosgrove -- bila diucapkan namanya kadang terdengar mirip cockroach: (kecoa). Sang Mayjen baru tahu, mengamankan Timtim tidak semudah keluarnya resolusi PBB tentang pasukan Interfet itu. Pada hari keempat, dua wartawan asing diculik, plus seorang ditemukan tewas dengan luka-luka mengerikan. Sekadar untuk diingat, pasca jajak pendapat Agustus lalu saat TNI menguasai Timtim tak seorang pun wartawan -- lokal, apalagi asing -- tewas. Pada hari kelima kemarin, pasukan Interfet mulai kalap. Delapan anggota Pasukan Pejuang Integrasi (PPI) ''Mahadomi'' dari Kabupaten Manatuto, 66 km timur Dili ditangkap dan dianiaya. Satu di antaranya dibakar hingga tewas. Pada hari yang sama terlihat di TV pasukan Interfet yang sedang patroli di jalanan Dili semburat dan mengambil posisi siaga. Mereka mendengar rentetan suara tembakan di kejauhan. Sambil bertiarap dan merunduk-runduk tampak jelas wajah mereka yang tegang. Sesekali terdengar umpatan khas Amerika, 'fxxk you', entah ditujukan pada siapa. Belakangan ketahuan, suara tembakan yang mereka dengar dan membuat panik itu ternyata dari pasukan Interfet juga. Yaitu pasukan yang memberi tembakan peringatan pada sejumlah massa yang akan menjarah gudang-gudang pemerintah dan rumah-rumah. Pasukan dengan senjata modern itu tampaknya sudah sangat stres sehingga tak bisa membedakan mana tembakan musuh dan mana punya teman. Entah kekonyolan apa lagi yang akan terjadi memasuki hari ketujuh, delapan, dan seterusnya. Sementara pada saat yang sama media asing terus-menerus menggambarkan betapa 'tidak berdayanya' milisi prokemerdekaan dan betapa 'berbahayanya' milisi prootonomi serta TNI. Kampanye media asing ini memang sangat efektif. Di Sydney, Washington DC, Jenewa, dan Markas Besar PBB New York para politisi terus berteriak tentang kejamnya situasi di Timtim. Sang penjahat dalam kampanye tentang kekejaman itu siapa lagi jika bukan Pemerintah RI dan TNI. Mereka kini bahkan sudah menggelar sidang HAM yang akan menempatkan posisi Indonesia sama persis dengan Pemerintahan Rwanda atau Milosevic dari Serbia yang menjagal ribuan nyawa tak berdosa. Ironisnya, tak jauh dari hidung kita, di Indonesia sini, media pun banyak yang turut larut dalam kampanye pers asing. Maaf, kami tidak berbicara soal nasionalisme atau apalah namanya. Itu kuno dan tak akan laku. Kami cuma heran, apakah ini karena bawaan rendah diri kita? Atau demi agenda politik meski itu harus ditempuh dengan makin mengorbankan harga diri bangsa sendiri? Malam ini, nun di Dili sana, Mayjen Cockroach sedang menulis laporan hariannya. Ia menyimpulkan, menaklukkan bangsa Indonesia jauh lebih mudah dari pada menaklukkan milisi.(n) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Sep 1999 jam 09:31:24 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
