----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 34/II/26 September-1 Oktober 99
------------------------------

AWAS, MILISI DI JAKARTA

(POLITIK): Milisi pro-integrasi bertebaran di Jakarta. Mess TNI turut
dijadikan posko. Gus Dur pun menyilakan kalau pengungsi mau ke tempatnya.

Sekelompok sepeda motor meraung-raung di sepanjang Jalan Prof Sahardjo dan
Jalan Prof Soepomo, Jakarta, hari Minggu (19/9) lalu. Di atas jok diduduki
oleh dua orang. Dua di antara delapan motor itu malah ditumpangi tiga orang.
Kendati tak satupun menggunakan helmet, empat polisi yang bertugas di jalan
seberang kantor redaksi harian Nusa tetap tak bergeming. Sesekali atraksi
kecil dilakukan.

Bukan pemandangan aneh untuk ukuran Jakarta sebenarnya. Jalan-jalan ibukota
memang kian hari kian dikenal semrawut dan jauh dari disiplin lalu lintas.
Cuma kali pemandangannya tergolong tidak lazim. Menilik t-shirt yang
dikenakan para pengendara, orang bisa serta merta meragu kalau dirinya masih
berada di Jakarta. "Jangan-jangan kita sekarang sedang ada di Dili," celetuk
beberapa orang.

Kaus hitam 18 orang yang meningkahi jalan raya dengan raungan knalpot itu
bertulis huruf putih: Aitarak. Silap mata barangkali? Tidak sama sekali.
Masakan silap mata menimpa semua orang di Jalan Sahardjo dan Soepomo.
Bedanya, di tangan mereka tak terdapat satu potong bedil, granat atau
senjata tajam layaknya terjadi di Dili. Entah kalau di pinggang atau saku
mereka.

Jangan bertanya bagaimana mereka bisa berada di Jakarta. Apalagi bertanya
dengan apa mereka sampai di Jakarta. Program perburuan pendukung pro
kemerdekaan sedari awal dikerjakan dengan serius. Lebih dari 6.000 korban
tewas mengenaskan. Di Dili, wartawan Financial Times, Sander Thoenes tewas,
Rabu silam (22/9). Cara kematiannya yang tragis menggambarkan bagaimana
seriusnya genocide berlangsung. Setelah ditembak, jenazahnya dibacok senjata
tajam oleh para milisi.

Sementara seperti diketahui, di Jakarta terdapat pula ratusan warga Timtim
yang lebih memilih negerinya merdeka ketimbang di bawah Indonesia.
Keberadaan milisi integrasi itu di Jakarta tentunya bukan sekedar show force
boncengan motor atau sekedar slalom test di jalan. Tapi betul-betul
membunuh. Tiga orang warga Timtim di Tangerang hingga kini tidak diketahui
nasibnya. Dua di antara diyakini telah tewas, namun tetap tidak diketemukan
jenazahnya.

Menurut keterangan yang diperoleh dari aktivis pro kemerdekaan Timtim,
terdapat sedikitnya empat kantong bersemayam milisi-milisi pro integrasi di
Jakarta. Dua tempat yang telah dipastikan adalah satu mess TNI di depan RS
Mitra Keluarga, Jakarta Timur, dan Hotel Melati di bilangan Kota. Sementara
itu wilayah Pondok Gede dan Cibubur menjadi posko mereka yang lain. Xpos
juga menemukan dua lokasi masing-masing di Tanah Abang dan bantaran kali
Banjir Kanal, Jakarta Barat. Masing-masing lokasi didiami rata-rata 80-100
orang. Areal berpenghuni milisi terbesar terdapat di kawasan Hotel Melati,
Kota. Wilayah judi di Jakarta ini menjadi salah satu pundi dana aksi-aksi
anti kemerdekaan, anti Xanana, dan anti peace-keeping force.

Ceritanya, satu minggu setelah pengumuman referendum, Eurico Guterres,
menerbangkan 200 ratus anggotanya dari Dili. Orang-orang ini langsung
bergabung dengan 'pasukan Jakarta' yang telah stand by sejak Mei 1999.
Penambahan ini menjadikan jumlah milisi yang bertengger di Jakarta menjadi
sekitar 500 orang. Tugas pokok mereka adalah melakukan aksi-aksi pembunuhan
bermodus kriminal. Misal saja pura-pura menodong sasaran. Pembunuhan
dilakukan setelah dibuat suasana seolah-olah korban melawan.

"Anda bisa bayangkan bahwa yang mereka incar itu termasuk para perempuan,"
ujar Yeni Rosa, koordinator KIPER. "Apa yang mereka lakukan sebelum
membunuh?" Pergerakan-pergerakan akibat panik itu diamati oleh para
intelejen TNI.

"Pokoknya kami akan tempuh segala cara untuk tetap bersatu dengan RI," tekan
Guterres pada pers (22/9). Guterres terlihat aktif melakukan pencarian
orang-orang pro kemerdekaan di kamp-kamp pengungsian Atambua. Sialnya,
pemerintah RI yang bertanggung jawab justru menjadikan Guterres sebagai juru
bicara kamp pengungsi.

Santer berita Aitarak bebas berseliweran di jalan-jalan Jakarta membuat
urung banyak pengungsi Timtim masuk Jakarta. Hal ini rupanya kurang begitu
disukai oleh sebagian milisi. Ongen Sangadji, tokoh Pemuda Pancasila yang
dikenal lewat kerusuhan Ambon, dikabarkan orang yang paling kesal dengan
keadaan ini. Menurutnya, di mana lokasi para prokem (istilah mereka untuk
pro-kemerdekaan) menjadi tugas intel. "Tugas kita ya eksekusi mereka.
Selesai." Ongen menginginkan supaya prokem-prokem itu berkumpul saja dulu di
Jakarta. "Baru kita habisi sekaligus."

Kyai Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur, menyatakan prihatin
terhadap nasib rakyat Lorosae. Dirinya menyatakan siap menerima pengungsi
Timtim di Jakarta. "Ini demi kemanusiaan," ujar Gus Dur saat ditemui aktivis
pro demokrasi Indonesia (18/9). "Xanana juga kan pernah ta' tawari menginap
di sini."

Kemerdekaan sesungguhnya rakyat Timtim ternyata, masih butuh perjalanan
panjang. Masih banyak airmata dan darah yang tercecer, namun
"saudara-saudara" terdekat di Indonesia lebih banyak berdiam diri -atau
lebih suka mempersoalkan tentang "nasionalisme". Sajak Sutardji terdengar
lemah: ke manapun belayar kalian arungi airmata kami, ke manapun melangkah
kalian kan pijak di airmata kami, ke manapun terbang kalian kan hinggap di
airmata kami. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Sep 1999 jam 07:07:40 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke