----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


ISTIQLAL (29/9/99)# SEANDAINYA SAYA HABIBIE
Oleh: Sulangkang Suwalu

        "Kini, saya menyadari betul, bahwa saya mungkin telah dikerjain
Wiranto, jenderal yang selama ini saya percayai penuh untuk mengamankan
segala kebijakan yang saya ambil. Situasi Timtim yang lepas kendali dan
mengundang kecaman keras dunia, sebagian karena ulah TNI dan polisi.
Ternyata di sana sesungguhnya tidak ada pertikaian antar kelompok. Ternyata
yang melakukan teror, pembunuhan, pembakaran dan penjarahan, sebagian besar
adalah milisi pro integrasi.
        TNI dan polisi bukan saja membiarkan semua aksi teror itu
berlangsung di depan hidung mereka, bahkan kemungkinan mereka sendiri turut
melakukannya. Politik bumi hangus yang dikobarkan Tentara Pembela Rakyat
terhadap penjajah Belanda pada revolusi kemerdekaan dulu di-copy bulat-bulat
di Timtim untuk menghancurkan nama baik Indonesia di forum internasional,
sekaligus merusak kredibilitas pemerintahan saya.
        Saya muak membaca laporan-laporan pers Barat bahwa yang namanya
milisi pro integrasi, sebagian adalah preman-preman yang direkrut dari NTB,
berbaur dengan orang Timtim asli dan tentara kita. Bahkan di dalamnya
disebut juga ada ratusan pasukan elite TNI. Eksodus massal pengungsi
dikatakan sengaja digiring paksa milisi. Saya tak tahu persis, mana laporan
yang bisa dipercaya: versi barat atau TNI. Tapi ada satu keanehan yang sulit
dimengerti: mengapa perilaku milisi begitu biadab, karena pastor dan
rohaniawan yang tidak berdosa pun tega dibantai, sehingga menimbulkan
kegusaran Vatikan? Bukankah masyarakat Timtim selama ini dikenal masyarakat
yang religius, taat menjalankan ajaran Katoliknya?
        Seminggu setelah pengumuman hasil jajak pendapat, nama bangsa kita
betul-betul hancur di dunia internasional. Indonesia yang selama ini mengaku
masyarakat berperikemanusiaan, tiba-tiba berubah menjadi masyarakat barbar.
Prilaku, binatang di Timtim seolah sebuah drama kemanusiaan yang ditonton
dengan mata telanjang enam miliar penduduk bumi.
        Yang tidak saya mengerti, dengan instrumen darurat militerpun,
Wiranto tidak mampu mengendalikan situasi. Seminggu setelah memberlakukan
darurat militer, yang sejak semula sebetulnya tidak saya setujui, Wiranto
baru mau mengaku bahwa ia menghadapi "hambatan psikologis". Setelah seminggu
saya menjadi korban cercaan pemimpin-pemimpin dunia mulai dari Clinton, Tony
Blair, John Howard sampai Kofi Anam, maka saya tidak percaya lagi pada
Wiranto. Saya bilang sama Sekjen PBB: Silahkan kirim pasukan perdamaian ke
Tintim sekarang juga untuk mencegah jatuh korban tidak berdosa yang lebih
banyak lagi.
        Kini saya menyesal kenapa tempo hari saya tidak copot Wiranto
sebagai Menhankam/Panglima TNI dan menggantikannya dengan Jenderal Hendro
Priyono. Kenapa draft Skep Presiden tentang pergantian petinggi militer itu
tidak saya tanda-tangani hari itu, hanya karena bisikan beberapa pembantu
dekat saya. Jika Hendro Priyono yang menjadi Menhankam/Panglima TNI jauh
sebelum jajak pendapat di Timtim dilaksanakan, situasinya mungkin, ya,
mungkin tak akan sekacau seperti sekarang.
        Nasi sudah menjadi bubur? Tidak! Saya Habibie, sampai detik ini
tetap Presiden RI. Kepada siapa saja yang masih terus menggoyang
kepresidenan saya, tunggu tindakan balasan saya. Saya tahu bahwa semakin
banyak rakyat yang kecewa dan marah terhadap saya." (Tjipta Lesmana, Rakyat
Merdeka)

PERKIRAAN ATAU INFORMASI?
        Tulisan "Seandainya Saya Habibie menimbulkan berbagai pertanyaan:
apakah yang dinyatakan sebagai perasaan Habibie itu merupakan perkiraan
Tjipta Lesmana belaka, ataukah ia bertolak dari informasi yang diterimanya
dari kalangan orang yang dekat dengan Habibie? Bila hanya perkiraan maka
"seandainya " itu tidak akan menjadi kenyataan. Tapi bila itu berdasarkan
informasi yang diperolehnya dari kalangan yang dekat dengan Habibie,
seandainya itu tidak tertutup akan menjadi kenyataan.
        MisalNya: apakah betul Habibie merasa "dikerjain" dengan ulah TNI
dan polisi, karena yang bertikai di Timtim adalah bukan antar kelompok,
melainkan yang melakukan teror itu sebagian besar adalah milisi pro
integrasi? Apakah betul Habibie sejak semula tidak setuju diberlakukannya
darurat militer di Timtim, tapi tokh oleh Wiranto diberlakukan saja? Apakah
betul Habibie menyesal tak jadi mencopot Wiranto dan menggantinya dengan
Hendro Priyono beberapa waktu yang lalu?
        Seandainya Habibie adalah Tjipta Lesmana tentu soal Timtim tidak
akan berkembang seperti sekarang. Sikap Habibie sendirilah yang menentukan
tempatnya dalam sejarah bangsa Indonesia, apakah ia akan tercatat sebagai
seorang, yang patut dihargai, atau sebagai orang yang tak berharga. ***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Sep 1999 jam 18:51:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke