----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 27 September 1999

Resonansi: Hukum, Legitimasi, Demokrasi

Oleh: Dr H Nasir Tamara

Tak henti dirundung malang. Itulah kiasan terhadap kejadian-
kejadian dramatis di Indonesia yang menjadi perhatian dunia,
yang seolah-olah bangsa Indonesia tidak berdaya mengatasinya.

Sampai hari ini air mata kita masih mengalir akibat meninggalnya
tujuh orang korban dalam serangkaian demonstrasi menolak UU PKB
pekan lalu, termasuk mahasiswa dari UI. Puluhan orang dari
seratusan yang luka-luka masih dirawat di berbagai rumah sakit
di Jakarta memerlukan perhatian yang serius. Tak ada satu kata
pun yang tepat mengungkapkan rasa duka yang begitu dalam.

Di Republik Indonesia, rupanya sesudah begitu banyak korban baru
suara protes masyarakat didengar.

Bergugurannya korban-korban berlangsung ketika warga negara
Republik Indonesia memang dalam keadaan prihatin dan marah.
Gusar, karena korupsi besar-besaran yang melibatkan sejumlah
pejabat tinggi negara, belum juga berhasil diungkap. Bahkan
terkesan, aparat hukum lamban menangani kasus tersebut.
Sehingga, makin memperkuat keyakinan orang banyak bahwa di
negeri ini tampaknya semua pelaku kejahatan politik dan ekonomi
yang dilakukan oleh kalangan elite bebas dari jaring-jaring
hukum. Apakah itu berupa pembunuhan, penculikan para mahasiswa
dan aktivis politik, serta perampokan bank seperti kasus Bank
Bali.

Sementara itu, kemurkaan penduduk masih meluap-luap melihat
kedatangan pasukan multinasional asing yang menguasai bekas
provinsi ke-27 Republik Indonesia itu. Akar persoalannya adalah
timbulnya kekerasan-kekerasan bersenjata akibat penyelesaian
masalah Timor Timur yang tidak tuntas, baik dari kacamata
metode, waktu, maupun diplomasi.

Dari ketiga kasus di atas jelas kepentingan nasional bangsa
Indonesia dirugikan. Sementara mereka yang bertanggung jawab
atas kepentingan nasional itu dicurigai tetap ingin terus berada
di kursi empuk mereka. Untung Presiden BJ Habibie tanggap dengan
menyatakan itu. Beberapa kali ia menegaskan bahwa siapa pun yang
bersalah dalam kasus Bank Bali harus ditindak tanpa pandang
bulu. Ia juga menyatakan siap turun dari kekuasaannya selama itu
konstitusional yaitu melalui SU MPR bulan November ini.

Ada benang merah yang jelas antara ketiga kasus di atas yaitu
bahwa rakyat menuntut agar hukum dijalankan sesuai dengan
prinsip-prinsip Indonesia sebagai sebuah negara hukum. Tidak
peduli siapa pun yang bersalah. Karena itu, seluruh tuntutan
pembersihan negara dari praktek-praktek KKN mesti segera
dilaksanakan tanpa pilih bulu.

Di samping juga diperlukannya pemerintah yang mempunyai
legitimasi demokrasi dan kapabel dalam menjalankan roda dan
fungsi-fungsi pemerintahan sehari-hari. Dalam hal ini elite
politik sudah sepakat bahwa proses itu akan berlangsung kurang
dari 50 hari lagi. Kemudian akan muncul seorang kepala negara
yang dipilih oleh MPR.

Demokrasi adalah pilihan yang terbaik dan makin mantap bagi
bangsa Indonesia. Karena itu, militansi mahasiswa dan rakyat
yang begitu tinggi ikut turun di jalan-jalan raya tidak peduli
kepada keselamatan diri bisa diterjemahkan juga sebagai
perjuangan membela demokrasi.

Saya yakin hampir seluruh bangsa Indonesia sepakat bahwa
demokrasi adalah didasarkan pada ketaatan terhadap hukum dan
sikap menghormati konstitusi. Karenanya, tidak akan ada satu
pihak pun --apabila mereka itu memang demokrat sejati-- yang
ingin mengambil langkah-langkah inkonstitusional mengganti
pemerintahan ini. Sebab, hal itu bertentangan dengan prinsip-
prinsip dasar demokrasi yang terus kita perjuangan.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Sep 1999 jam 06:25:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke