----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 26 September 1999

Profesor Keblinger Tak Mau Rakyat Berkuasa

Jakarta, Rakyat Merdeka
Ketua Umum PBNU Abdurahman Wahid (Gus Dur) menilai, banyak orang
Indonesia yang tidak senang aman.

"Mereka tidak mau menerima hasil pemilu, dan berniat menghilangkan
kemungkinan adanya Sidang Umum MPR, agar pemerintahan tetap
darurat, tetap dalam keadaan bahaya, dan tidak mau rakyat
berkuasa," kata Gus Dur saat berbicara dalam Konferensi Wilayah
VII NU di Balaikota Jakarta.

Gus Dur mengatakan, orang-orang seperti itu harus disingkirakan,
"Profesor doktor-profesor doktor untuk apa kepandaian kalau
keblinger seperti itu," lanjutnya, Jumat (24/9) lalu.

Menurut dia, orang-orang yang mementingkan kepentingan pribadi
atau kelompok daripada kepentingan nasional membuat rakyat muak,
karenanya dalam waktu dekat ini rakyat bisa marah dan mengambil
alih kepimpinan nasional.

"Kalau terjadi penembakan-penembakan seperti tadi rakyat juga muak
dengan itu, saya perlu bertemu dengan Wiranto sendiri, saya sering
bertemu Wiranto dan Habibie, apa salahnya saya tekankan itu, mbok
ya TNI tidak usah mbedil-mbedil atas nama TNI, ya ditangkap saja,"
katanya.

Menurut dia, oknum yang berbuat macam-macam namun tidak diapa-
apakan akan membuat menggeneralisir bahwa itu semua perbuatan TNI
sebagai lembaga serta memperburuk citra TNI, padahal bukan, "Kalau
tidak bisa terang-terangan menangkap, pakailah orang lain, NU juga
mau."

Gus Dur menyatakan, demo dan ribut-ribut itu sebaiknya dihentikan
saja, baik dari pihak yang mau membuat ribut, juga bagi angkatan
bersenjata, "Kalau tidak bisa diatasi terpaksa NU akan ambil
tindakan, tidak pandang bulu, siapapun kena."

Menurut dia, UU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB) sebenarnya
lebih maju dari UU sebelumnya, "Tetapi rupanya tuntutan masyarakat
tidak cukup dengan kemajuan itu, saya sendiri menentangnya, karena
itu sebaiknya UU itu dipikirkan lagi dan kalau perlu diubah
nanti."

Namun ia mengatakan, semua persoalan tersebut tidak terlalu
penting, karena saat ini yang paling penting adalah persatuan
bangsa, jangan sampai Indonesia diinjak-injak harga dirinya oleh
bangsa lain seperti terjadi pada kasus Timtim.

Sementara itu, Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Soetanto seusai
Rapat Muspida di Balaikota Jakarta, Jumat (24/9) lalu, mengatakan,
penanganan unjuk rasa yang terjadi kemarin dan hari ini tidak
menggunakan peluru tajam, tetapi hanya gas air mata, peluru hampa
dan peluru karet.

"Pasukan pengamanan di bawah kendali Polda sudah memiliki prosedur
tetap untuk membubarkan demonstran, mereka tidak menggunakan
peluru tajam," katanya.

Sementara itu, Pangdam Jaya Djadja Soeparman mengatakan aksi unjuk
rasa yang terjadi saat ini dan tujuan awalnya menolak UU PKB makin
lama makin kelihatan melibatkan masyarakat tertentu yang dibayar.

"Tadi pagi mereka bergantian datang dan bukan penduduk dari
sekitar itu, orangnya kurus-kurus tetapi militan, kalau itu
didatangkan dari luar mungkin itu benar, ditambah lagi masyarakat
awam yang ingin menonton sehingga tujuannya semakin tidak jelas,"
ujarnya.

"Bahkan dari apa yang kami amati di lapangan ada orang-orang yang
melakukan tindakan anarkis dengan menyiapkan benda-benda keras,
batu dan bom molotov yang tujuannya memprovokasi," katanya.

Mereka juga memiliki rencana untuk menimbulkan korban dengan
membenturkan diri dengan aparat, yang dikorbankan adalah mahasiswa
yang baru masuk bahkan rakyat, sementara pengendaliannya manis-
manis di hotel atau di kafe, ujarnya.

"Mereka adalah orang-orang yang memiliki niat tidak sejalan dengan
kita, mereka ingin membuat opini bahwa ada sesuatu yang harus
dilakukan masyarakat bahwa aparat itu begini dan begitu," katanya.

Ia mengajurkan, sebaiknya masyarakat tidak terlibat dalam
persoalan politik dan menyerahkannya kepada elit politik yang
sekarang sudah duduk bersama rakyat.

"Bagi mereka yang pekerjaanya bermain politk dengan mengerahkan
massa dan membayar mereka, berhentilah," ujarnya. (AN)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Sep 1999 jam 06:25:38 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke