---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Kompas, Selasa, 28 September 1999 Tony Kevin: "Doktrin Howard" Bahaya Canberra, Senin Asumsi bahwa Australia kini menjalankan peran barunya yang lebih menekankan keamanan regional Asia Pasifik, dinilai seorang mantan ahli strategi luar negeri Australia, sebagai membahayakan hubungan Australia dengan negeri-negeri Asia yang telah dibangun dengan susah payah selama 50 tahun. Menurut Tony Kevin, yang sampai tahun lalu mengepalai sebuah seksi kebijakan dan perencanaan Departemen Luar Negeri Australia, Australia telah melakukan kesalahan serius dalam menilai situasi kekacauan di Timor Timur, sehingga berkembang menjadi situasi krisis sekarang ini. "Kami (Australia) menghadapi konsekuensi dari sebuah kebijakan luar negeri yang salah nilai, dan kebijakan itu telah menimbulkan konsekuensi tragis bagi rakyat Timor Timur," kata Kevin, mantan Dubes Australia untuk Kamboja, dalam wawancara dengan radio Australia, ABC yang disiarkan Senin (27/9). "Kini saya melihat sebuah risiko nyata akibat tindakan yang bersifat pemaksaan, dengan cara seperti jagoan, yakni terancamnya hubungan keamanan regional (dengan negara-negara di kawasan ini) yang dibangun dengan penuh kesabaran selama 50 tahun," PM Australia John Howard, menyatakan di depan parlemen pekan lalu bahwa Australia kini menemukan visi barunya sebagai "wakil" penjaga perdamaian AS di kawasan Asia. "Bagi saya, itu benar-benar sebuah doktrin yang amat sangat berbahaya," kata Kevin, seraya menunjukkan bahwa sikap yang ditunjukkan Howard itu merupakan sikap yang "provokatif, dan dalam artian kedaulatan nasional bagi seluruh negara di kawasan ini." Kevin mengungkapkan, bahwa Australia yang kini memimpin 7.500 personel pasukan multinasional PBB dengan tujuan mengakhiri kekerasan di Timor Timur, tidak memperhitungkan risiko (jika Australia bersikap) mendukung kawasan ini untuk memilih merdeka dari Indonesia. "Kita melakukan hal itu dengan baik, ketika waktu itu kita mengirimkan polisi tak bersenjata ke Dili, akan tetapi efeknya justru memberi jaminan pada rakyat Timtim sehingga mereka berani memilih merdeka, walau akhirnya pilihan mereka diingkari," kata Kevin pula. Justru dengan cara "baru" yang diterapkan Australia, dengan cara pemaksaan serta bergaya jagoan, justru secara moral dinilai Tony Kevin sebagai sebuah kegagalan. Bantahan Howard PM Howard sendiri, pada hari yang sama Senin kemarin, menolak anggapan seperti yang diungkapkan dalam laporan Bulletin Magazine yang dikutip luas di kawasan, termasuk pula Indonesia. Ia menolak anggapan bahwa Australia, yang memimpin pasukan multinasional PBB ke Timtim, telah berperan sebagai wakil regional AS dalam peranannya sebagai "polisi global". "Justru kami tidak mencari peran seperti itu, sebagai polisi regional atau peran lain semacam itu," kata Howard di depan parlemen Australia. Artikel di majalah-yang cukup mendapat kredibilitas tinggi di Australia itu-juga mengidentifikasikan seolah kebijakan baru, sebuah pendekatan kebijakan luar negeri yang intervensionis itu sebagai "Doktrin Howard". "Saya hanya ingin menjelaskan, bahwa apa yang diungkapkan majalah itu tidak secara tepat mencerminkan sikap saya sebenarnya," jelas Howard pula. Kasus Timtim, menurut Howard, harus dilihat sebagai kasus kekecualian. Ia bermaksud, bahwa tidak perlu menunggu peran AS untuk bertindak memulihkan keamanan kawasan ini, kalau (negeri) dari kawasan ini sudah bisa melakukannya. Tidak hanya masyarakat Indonesia saja yang merasa panas dengan sikap superioritas dan arogan Howard waktu menyatakan sikap ngotot-nya untuk ambil peran memimpin pasukan multinasional. Apalagi dikait-kaitkan dengan doktrinnya, yang berbau "superioritas" Eropa atas bangsa lain. Bahkan kalangan oposisi Australia pun, yang diwakili tokoh populer rival Howard, Kim Beazley, pekan lalu juga mengecam keras sikap Howard itu sebagai: mengancam hubungan Australia dengan kawasan Asia Pasifik, yang sudah bertahun-tahun dengan susah payah dibina. (AFP/Reuters/sha) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 30 Sep 1999 jam 09:15:41 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
